Logo Design by FlamingText.com
Logo Design by FlamingText.com

DPD PEKAT INDONESIA BERSATU KABUPATEN ASAHAN

Sebagai bangsa yang besar dengan secara sadar, memiliki rasa tanggung jawab penuh dan turut ikut serta wajib membela dan menegakkan Persatuan dan Kesatuan serta Keutuhan bangsa dan Negara INDONESIA, merupakan bagian dari iman yang dapat diaktualisasikan dalam setiap peran kehidupan bermasyarakat dimanapun kita berada serta merupakan refleksi dari Undang Undang No. 20 Tahun 1982 pasal 2.

MUHAMMAD SYIHABUDDIN

KETUA DPD PEKAT INDONESIA BERSATU KABUPATEN ASAHAN

EFRIANTO RANY

SEKRETARIS DPD PEKAT INDONESIA BERSATU KABUPATEN ASAHAN

DOKUMENTASI

DOKUMENTASI KEGIATAN "DANA DESA UNTUK RAKYAT SEJAGTERA"

AGUS RAMANDA

WAKIL KETUA BIDANG OKK DPD PEKAT INDONESIA BERSATU KABUPATEN ASAHAN

Sunday, 17 September 2017

ASAL MULA NAMA KISARAN NAGA (KOTA KISARAN)

Bukit Katarina adalah nama sebuah bukit kecil di kawasan Kelurahan Sei Renggas, Kec. Kisaran Barat, Kab. Asahan, Sumatera Utara. Lokasi ini tidak jauh dari RS. Ibu Kartini, dan berada di dalam areal HGU PT. Bakrie Sumatera Plantations (BPS) di tepi Sungai Silau. Oleh sebab itu, dibukit ini terdadapat tanaman pohon karet perkebunan milik PT. BPS.

Nama bukit Katarina itu sendiri menurut cerita dari mulut kemulut diambil dari nama RS. Ibu Kartini yang dulunya sering disebut dengan nama RS. Katarina. Konon, untuk pertama kalinya dokter di RS itu bernama Dokter Chatherine yang ditugaskan dari negeri Belanda.

Jika dilihat sepintas, bukit Katerina merupakan gundukan tanah biasa yang tingginya mencapai kurang lebih 50 meter. Tempat ini sepertinya tidak terdapat hal-hal yang aneh atau luar biasa.

Bahkan, ketika terjadi gempa Nias, Sumatera Utara pada malam hari, sekitar pukul 23.00 wib, beberapa tahun yang lalu, terdengar pula isu tsunami di wilayah Asahan. Tak ayal, bukit Katerina menjadi tujuan masyarakat Kisaran dan sekitarnya sebagai tempat mengungsi. Sehingga bukit tersebut penuh sesak dengan warga masyarakat. Padahal isyu tsunami hanya isapan jempol, yang sengaja dihembuskan untuk menciptakan suasana keruh dengan maksud agar masyarakat dilanda kepanikan.

Memang, tidak banyak yang tahu bahwa ternyata bukit Katerina menyimpan misteri yang hingga saat ini belum terpecahkan. Bagi seorang yang memiliki kemampuan spiritual linuwih, atau yang memiliki indera keenam, pasti akan meresakan sesuatu yang berbeda bila melawati temoat ini.

Menurut kisah yang sudah ada sejak turun-temurun, pada sekitar abad XVII, bukit Katerina adalah tempat bertempurnya panglima perang kerajaan Cina dengan Raja Maria Pane ke-7 dari Buntu Pane Asahan, bernama Datuk Daurung. Kemudian setelah bertarung adu kesaktian, tidak ada yang kalah dan menang, maka masing-masing mengeluarkan aji pamungkas, yaitu menjelma menajdi seekor ular naga dan ikan dundung. Keduanya lalu terjun ke sungai Silau.

Mereka bertempur dengan mengandalkan kesaktian masing-masing. Akan tetapi, ular naga jelmaan Panglima Perang Cina dapat dipukul jatuh, tertusuk sanai (patil) dari ikan dundung jelmaan Datuk Daurung. Naga itu meraung-raung menahan sakit dan menggelepar, yang akhirnya terkulai hanyut dan terkapar di hilir sungai Silau tidak seberapa jauh dari bukit itu.

Setelah ratusan tahun kemudian, menurut cerita secara turun temurun dan sudah menjadi semacam legenda di masyarakat, ular naga jelmaan Panglima Perang Cina siuman dari pingsannya yang cukup lama. Diiringi hujan lebat, petir sambung menyambung sehingga terjadilah banjir besar.

Kemudian ular naga tersebut berkisar-kisar (berenang-renang) dan menghanyutkan diri menelusuri Sungai Silau sampa sungai Asahan di kota Tanjung Balai). Selanjutnya menuju ke Selat Malaka.

Perkampungan di kawasan tempat naga berkisar tersebut akhirnya disebut dengan nama Kampung Kisaran Naga. Sekarang menjadi Kelurahan Kisaran Naga dan kota yang berada di dekat sungai Silau disebut dengan nama Kisaran, sebagai ibukota Kabupaten Asahan.

Memang, hingga saat ini tidak ada yang mengetahui secara pasti, kapan perkampungan itu mulai disebut dengan nama Kisaran Naga, demikian juga nama Kisaran.
Kembali ke bukit Katerina, Tim Jelajah Misteri mendapat penjelasan dari Sukino, seorang buruh kebun Tanah Raja yang pernah menjalani rawat inap selama 14 hari di RS, Ibu Kartini pada tahun 1971.

Sukini berkisah. Saat itu, kebetulan malam Jum’at. Dia bermimpi didatangi seorang laki-laki gagah perkasa berpakaian seragam kebesaran Cina. Kemudian diajak masuk ke istana di bawah bukit Katerina.

Bibir Sukino berdecak kagum karena istana tersebut sangat indah, diterangi lampu-lampu gemerlapan, dengan hiasan istana bertatahkan ratna mutu manikam.

Kepada Misteri, Sukino menceritakan. Dirinya disambut cukup hormat oleh punggawa dan dayang-dayang istana. Kemudian dipersilahkan duduk di atas permadani lembut. Distu talah tersedia pula bermacam ragam makanan yang tampaknya cukup lezat dan mengundang selera makan.

“Selama berada di istana gaib di bawah Bukit Katerina, rasanya saya tidak ingin pulang karena suasana di ruangan itu sangat indah dan nyaman. Apalagi didampingi wanita-wanita muda belia yang cantik rupawan,” cerita Sukirno.

Namun, ketika akan mengambil makanan yang terhidang, tiba-tiba seperti ada kekuatan gaib yang menarik tubuhnya ke luar dari istana. Di saat itulah, dia terbangun dan yang ada hanya ruangan rumah sakit yang sepi. Hanya ditemani beberapa orang pasien lain yang tertidur pulas.

Jam dinding menunjukkan 03.15 wib. Sukirno merasa bersyukur tidak sempat menyantap makanan di istana itu. “Jika tidak, mungkin saya akan terus berada di bawah bukit Katerina menjadi budak dedemit yang tidak lain adalah makhluk halus penjaga Gua Bukit itu,” tambahnya mengenang mimpi 36 tahun silam itu.

April lalu, Misteri bersama Adi Sunarto coba menelusuri lebih jauh kemisteriusan gua di bukit Katerina itu, dengan maksud untuk mengetahui sejauh mana keangkerannya. Di perapatan Simpang Kartini, persisnya persimpangan jalan Lintas Sumatera menuju kota Pematang Siantar, kami berhenti makan di sebuah warung kecil. Tak lama kemudian, datang seorang lelaki tua yang kami taksir berusia hampir 80-an, singgah di warung yang sama. Bahkan kami diajak mampir ke rumahnya.

Tawaran kakek Samudi, demikian kami memanggilnya, untuk mampir, tentu tidak kami sia-siakan.
“Mungkin dari kakek tua itu kita mendapat informasi tentang misteri Bukit Katerina,” ujar Adi Sunarto.

Kakek Samudi mengendarai sepeda bututnya, sementara kami mengendarai sepeda motor menuju rumahnya.
“Bila sudah lihat rumah kecil berdinding papan, atap nipah dan di depannya ada pohon bunga kenanga, di sebelah kiri jalan, itulah rumah saya,” kata kakek Samudi sambil mengayuh sepedanya.

Sudah tentu kami melaju lebih dahulu meninggalkan kakek tua itu. Akan tetapi, kami tak habis pikir, setelah kami melihat sebuah rumah tua dan sederhana seperti dijelaskan kakek Samudi, ternyata orang tua itu sudah menunggu di depan pintu. Sepeda bututnya disandarkan di sebuah tunggul pohon kelapa di samping rumahnya.

Misteri dan Adi Sunarto hampir tidak percaya apakah yang ada di depan pintu adalah benar kakek tua itu adanya. Adi Sunarto membelokkan motornya ke rumah tua itu. Dan benar, yang sudah menanti kedatangan kami di depan pintu adalah kakek Samudi.

Misteri bertanya dalam hati, ilmu apa yang digunakan kakek tua itu hingga dapat mendahului kendaraan yang kami naiki? Sementara kami sendiri tidak melihat kapan dia mendahului kami.
“Silahkan masuk ke gubuk saya!” Ajak kakek Samudi mempersilakan.

Masih dengan rasa heran bercampur takjub, kami masuk ke rumah sangat sederhana berukuran 5x7 meter, dinding papan yang sudah lapuk, lantai tanah dan atap nipah itu
Di ruang tamu yang kecil dan sempit, ada sepasang kursi rotan yang reot, di depannya terdapat sebuah meja terbuat dari papan yang sudah mulai dimakan rayap. Kami memandangi beberap foto kusam terpajang di dinding.

Ketika kami tengah asyik melihat foto sepasang pengantin sedang duduk di pelaminan, kakek Samudi tiba-tiba berujar, “Itu gambar kami sewaktu jadi pengantin.”
Tanpa peduli pada keterkejutan kami, dia lalu duduk sambil meletakkan tiga gelas air putih.

Untuk menutupi keterkejutan kami, Adi Sunarto memuji foto kakek Samudi sewaktu masih muda. “Dulu waktu mudanya, kakek ganteng juga ya?” Kata sahabat Misteri itu.
Orang tua yang disebut dengan nama Samudi hanya tersenyum sambil mempersilahkan kami minum.

Hampir satu jam kami berbincang-bincang dengan kakek Samudi sekitar cerita Bukit Katerina. Dari kakek itu, kami mendapat keterangan bahwa bukit itu pernah dijadikan tempat pemujaan orang-orang Cina dengan membangun tapekong dipuncaknya, karena memang dianggap keramat dan memiliki daya magis cukup kuat.

Menurut kakek Samudi, di bawah bukit itu terdapat gua di dalam air berbentuk bangunan kuno. Tapi kakek tua ini tidak dapat menjelaskan tahun berapa gua itu mulai ada.
“Yang pasti goa itu sudah lama ada di sana!” Katanya.
“Apa kakek sudah pernah masuk ke gua itu?” Tanya Misteri.
Kakek Samudi mengerutkan keningnya yang keriput, lalu menjawab; “Saya pernah melakukan tapa brata di dalam gua itu, Nak, selama 40 hari,” ujarnya.

Kakek tua yang mengaku datang dari Jawa Timur ke Sumatera Utara sebagai kuli kontrak itu, juga menceritakan bahwa pernah terjadi seorang laki-laki mati terbunuh di bukit itu. Tapi tidak diketahui siapa pembunuhnya. Laki-laki yang terbunuh dengan sangat mengenaskan. Kepalaya dipenggal hingga terpisah dari badannya.

Mendengar cerita kakek Samudi tentang orangmati terbunuh itu, Misteri teringat ketika suatu malam dibulan Suro tahun 2005, seorang penjual bandrek jatuh pingsan di samping gerobak jualannya.

Setelah sadar, dia menceritakan bahwa dia telah didatangi oleh orang yang ingin membeli bandreknya, akan tetapi alangkah terkejutnya karena di keremangan malam itu, dia hanya melihat orang itu hanya kepalanya saja tanpa badan.
Menjelang maghrib, kami baru keluar dari rumah gubuk kakek Samudi. Sebelum kami pamit, kakek tua itu berkata, “Kalau kalian mau menengok gua tadi, besok kalian bisa datang lagi supaya dapat melihat dari dekat. Tapi kalian tidak bisa masuk ke dalam gua itu tanpa saya. Karena gua itu cukup angker,” ujarnya.

Keesokan harinya, seperti yang dijanjikan kakek Samudi, kami kembali berangkat ke rumah si kakek tua. Jujur saja, kami sangat tertantang dengan pengakuannya yang katanya sanggup menunjukkan gua di bawah bukit Katerina itu.

Akan tetapi, keanehan menimpa kami. Ketika tiba di kelurahan Sei Renggas, kami seperti orang kebingungan. Bagaimana tidak? Rumah kakek Samudi yang kemarin kami kunjungi tidak ada lagi di pertapakannya.

“Mungkin kita tersesat!” Kata Adi.
“Tak mungkin! Karena jelas sekali ini rumahnya, ditandai ada tunggul pohon kelapa di depan rumahnya,” jawab Misteri.
Akhirnya kami memutuskan untuk menanyakan kepada penduduk yang tinggal tidak jauh dari tempat kami mampir kemarin. Kami semakin bingung, karena menurut penjelasan salah seorang penduduk, selama ini tidak ada rumah di kawasan itu dan tak ada seorang kakek bernama Samudi. Jadi, siapa sebenarnya kakek itu? Sungguh mengherankan!
Dengan perasan kecewa bercampur heran, kami kembali dan memutuskan untuk mencari tahu tentang keberadaan Bukit Katerina yang masih mengandung misteri. Menjelang Dzuhur, kami sudah berada di bukit itu. Biarlah tak dapat masuk ke gua kaerna kakek Samudi tidak ada, asalkan bisa mengambil gambar mulut gua itu.

Adi Sunarto sudah standby denga kameranya menjepret Bukit Katerina dari jalan Lintas Kisaran-Pematang Siantar. Lalu kami turun sedikit melihat bibir sungai Silau untuk melihat gua di bawah bukit itu.

Akan tetapi, mulut gua itu tidak dapat kami lihat dengan jelas, karena bibir gua dari seberang sungai (dari Desa Tanjung Alam). Perjalanan dari Bukit Katerina ke Desa Tanjung Alam memakan waktu sekitar 20 menit.

Di Dusun II Desa Tanjung Alam, kami bertemu dengan Hartono yang dapat menunjukkan tempat yang strategis untuk dapat mengambil foto mulut gua dibawa bukit Katerina itu, karena lebar sungai hanya sekitar 30 meter saja.

Selain mengambil foto, terjadi peristiwa yang cukup aneh. Dalam keadaan antara sadar dengan tidak, kawasan di sekeliling tempat kami berdiri seketika berubah menjadi gelap. Kemudian perasaan kami digandeng oleh seorang laki-laki misterius berjalan di atas air sungai dan dalam tempo cukup singkat, kami telah sampai di mulut gua di bawah Bukit Katerina.

Misteri dan teman tak habis pikir, mengapa kami bisa berjalan di atas air seperti layaknya berjalan di atas tanah? Setibanya di pintu gua, orang tua misterius itu membawa kami masuk ke dalam gua yang gelap dan dingin.

Lelaki tua itu segera menyalakan obor yang diambil dari dinding gua. Cahayanya menyinari ruang di dalam gua itu. Kami sangat terperanjat, ketika dari sinar obor itu kami lihat wajah lelaki tua misterius itu ternyata adalah kakek Samudi.
Tanpa berkata-kata sedikitpun, kakek Samudi membawa kami mengelilingi gua yang dingin itu. Di sudut gua, kami melihat ada dua sinar bulat berwarna kuning keemasan. Bau harum menusuk hidung. Kakek Samudi yang berjalan di depan segera duduk bersila di hadapan sinar tersebut dan tanpa diperintah, kami mengikuti gerakan kakek tua misterius itu.

Ternyata sinar tersebut adalah sepasang mata dari sosok makhluk bermahkota yang duduk di atas altar batu. Tampaknya seperti kepala seekor ular besar. Rasa takut mulai timbul menyusul bulu roma kami yang berdiri tegak.
Kakek Samudi mulai buka bicara, “Ampun Paduka, dua orang ini adalah cucu hamba yang ingin mengetahui keberadaan gua ini. Mohonlah Paduka dapat memaafkan kelancangan mereka.” Entah mengapa, kakek Samdi menyabut makhluk itu dengan panggilan paduka.

“Ya, aku tahu sejak kemarin ada orang ingin tahu tentang gua ini. Tapi maksudnya baik,” jawab makhluk itu dengan suara berat menggetarkan ruangan gua. Bahkan, kelelawar hitam yang bergelantungan didinging gua berhamburan keluar, sambil bersuara gemuruh memekakkan telinga.
“Apa yang kalian cari?” Makhluk aneh itu bertanya kepada kami.

Adi Sunarto memandangi Misteri sejenak, kemudian memandangi wajah kakek Samudi. “Ampun, Paduka! Mereka berdua tidak mencari atau menginginkan sesuatu. Cucu hamba ini hanya ingin memastikan bahwa di bawah bukit ini memang benar ada sebuah gua, jadi mereka meminta hamba untuk membawa mereka kemari,” jawab kakek Samudi.

Gua di dalam air, di bawah bukit itu terasa semakin mencekam. Udara semakin dingin menusuk sumsum.
Makhluk aneh itu kembali bersuara. “Baiklah, akan tetapi jika ingin datang lagi, kalian harus membawa sesaji satu ekor ayam jantan berbulu wulung (hitam mulus), ari-ari dari bayi laki-laki yang lahir hari Jum’at Kliwon dan bunga macan kerah.

Ayam dan ari-ari, kalian cemplungkan ke air sungai Silau dan ketika itu kalian akan sampai ke mulut gua ini. Kemudian taburkan bunga macan kerah ke pintu gua dan dayang-dayangku akan mempersilhakan kalian masuk.” Ujarnya panjang lebar.

Tak lama kemudian, sinar mata makhluk itu meredup dan padam. Gua kembali menjadi gelap. Kakek Samudi memberi hormat, lalu berdiri dan berjalan menuju mulut goa. Kami mengikutinya dari belakang.
Anehnya, kami tidak sadar kapan kakek Samudi membawa kami keluar gua dan menyeberangi sungai seperti tadi, saat kami pergi.

Yang pasti, tiba-tiba saja kami sudah berada di seberang sungai, tempat kami tadi mengambil foto mulut gua itu. Bahkan yang tak kalah aneh, kakek Samudi pun tak ada bersama kami lagi.
Dalam kebingungan, kami mengingat-ingat pesan makhluk aneh tadi. Kalau ayam jago wulung dan kembang macan kerah amat mudah kami peroleh. Akan tetap tentang ari-ari jabang bayi laki-laki yang lahir pada hari Jum’at Kliwon, disamping sangat sulit juga tidak mungkin kami bisa mencarinya.

Matahari telah condong ke barat, sebab tanda hari sudah sore. Kami pun bergegas pulang dengan membawa pengalaman spiritual yang tak mungkin bisa kami peroleh lagi di tempat lainnya. Namun, ada sedikit penyesalan, mengapa kami tidak menanyakan kepada kakek Samudi siapa atau makhluk apa yang bersemayam di dalam gua di bawah bukit itu?

Misteri juga terlupa tidak menanyakan siapa sebenarnya kakek tua misterius yang mengaku bernama Samudi itu?
Hingga kini, gua di Bukit Katerina dan kakek Samudi tetap menjadi misteri yang entah kapan dapat terungkap

Friday, 15 September 2017

Bandar Sabu yang Tertembak di Kepala Baru Menikah 3 Bulan

 Jenazah Jefri bandar sabu yang tewas tertembak di bagian kepalanya saat berada di rumah duka.

Kematian Jefri Syahputra alias Jefri bandar sabu yang tewas tertembak di bagian kepalanya membuat keluarga bersedih. Jefri sendiri diketahui baru menikah 3 bulan dengan wanita pujaan hatinya.

Pantauan wartawan di rumah duka tepatnya di Lingkungan VII, Jalan Cicak Rowo, Kelurahan Beting Kuala Kapias, Kecamatan Teluk Nibung Tanjungbalai, orang tua korban Sofyan (54) mengaku Jefri merupakan anak pertamanya dari lima orang bersaudara.

Menurutnya, Jefri baru tiga tahun tamat sekolah di SMK Tanjungbalai dan baru tiga bulan menikah dengan seorang wanita yakni FS. Sebelum kejadian Jefri permisi dengan Sofyan untuk berangkat ke Dumai dengan alasan ingin mencari pekerjaan.

“Baba aku mo ke Dumai cari karojo. Maklumlah aku sudah menikah punya tanggungjawab,” kata Sopyan menirukan perkataan Jefri dengan logat melayu Tanjungbalai yang kental. Sehari setelah itu Sopyan menghubungi Jefri namun tidak diangkat. Namun tak berapa lama Jefri menghubungi dan mengatakan ia tertidur sehingga tidak mendengar telepon dari Sofyan.

“Maaf lagi tidur Baba tak kudongar Hp berbunyi,” ucap Sofyan meniru perkataan Jefri. Namun sejak itu Sofyan tidak bisa menghubungi Jefri lagi. Saat Sofyan sedang duduk-duduk dengan temannya. Tak lama setelah Sofyan duduk-duduk di warung, datang seorang pria menanyakan tentang Jefri.

“Langsung kujawab anakulah itu coba lihat dulu gambarnya. Begitu melihat fotonya aku lalu lemas dan lunglai bagaikan tidak sadar.selanjutnya aku pulang ke rumah berbincang dengan istri ku tak lama kemudian datang mobil Ambulance ternyata didalam mobil anakku Jefri sudah meninggal. Kenapa Polisi sampai hati menembak kepala anak ku jika dia bersalah tangkap dan penjarakan sajo lah,” ucapnya. “Kurasa anak ku begitu kecil usianya tak pantas ditembak. Ditangkap, dipiting atau pegang kerah bajunya dan pinggang celana dia takan bisa lari. Rela aku anaku itu dihukum jika bersalah apalagi soal narkoba, manalah mungkin anakku berbadan kecil berani melawan polisi tak yakin aku,” ucap Sofyan sambil menyeka air matanya. “Ku itu lihat koningnyo bokas peluru. Sodih hatiku pak,” ucap Sofyan.

Bupati Batubara OK AR Dibawa ke Jakarta


Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menerbangkan oknum Bupati Batubara OK AR bersama 6 orang lain yang yang diduga ikut terlibat.

Ketujuh orang yang diperiksa di salah satu ruangan Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Sumut bergerak meninggalkan Mapolda sekira pukul 20.00 WIB.

Ketujuhnya mendapat pengawalan dari penyidik KPK. Saat dicecar pertanyaan oleh wartawan, OK AR yang mengenakan kemeja putih hanya terdiam sambil sesekali tersenyum. Wajahnya tampak jelas tanpa ditutupi. Ia hanya berlalu meski wartawan terus menanyainya.

Berdasarkan informasi yang diperoleh, ketujuh tersangka yang diberangkatkan sekira pukul 21.40 WIB melalui maskapai Batik Air ID 6893 yakni OK AR, SU, MA, HE, SA, AS dan HA. Kasubdit III Tipikor Polda Sumut AKBP Putu Yudha menyebutkan, pihaknya menyediakan 6 ruangan di Ditreskrimsus untuk pemeriksaan para tersangka OTT. “Pemeriksaannya sejak pukul 2 siang,” kata Putu.

Kabupaten Batubara Belum Genap 10 Tahun Dimekarkan, Bupati Sudah Diringkus Satgas KPK



Nama Kabupaten Batubara mendadak menjadi perbincangan. Pasalnya sang Bupati, OK AR diringkus oleh Satgas Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada Rabu (13/9) siang. Kabupaten Batubaru ini sebetulnya daerah otonomi baru (DOB) atas pemekaran dari daerah induknya, Kabupaten Asahan yang diresmikan pada 15 Juni 2008.

Peresmian itu bersamaan dengan dilantiknya Pejabat Bupati Batubara, Sofyan Nasution. Pelantikan pejabat bupati itu juga diiringi dengan penetapan ibu kota daerah yang berada di Kecamatan Limapuluh.

Daerah ini jaraknya cukup jauh dari Kota Medan, Ibu Kota Sumatera Utara (Sumut), 175 km. Batu Baru berada di pinggir pantai dan berhadapan langsung Selat Malaka.

Dikutip dari batubara.co.id, pada masa pemerintahan Hindia-Belanda, Kabupaten Batubara termasuk ke dalam Karesidenan Sumatera Timur. Saat ini jumlah penduduknya mencapai 382.474 jiwa. Dari total penduduk itu terdiri dari beberapa etnis, mulai dari Batak, Mandailing, Minangkabau, dan Pujakesuma alias putra Jawa kelahiran Sumatera.

Pujakesuma adalah keturunan pekerja perkebunan yang dibawa para pekebun Eropa pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20.

Sementara klan atau etnisnya lebih banyak dipengaruhi budaya Minangkabau, sebab etnis ini pada abad ke-18 menjadikan Batubara sebagai pangkalan untuk melakukan perdagangan lintas selat. Mereka membawa hasil-hasil bumi dari pedalaman Sumatra, untuk dijual kepada orang-orang Eropa di Penang dan Singapura.

Dapat dikatakan Batubara merupakan koloni dagang orang-orang Minang di pesisir timur Sumatra. Sehingga wajar dari lima suku atau klan penduduk di daerah ini dipengaruhi oleh budaya Minangkabau. Kelima suku tersebut yakni Lima Laras, Tanah Datar, Pesisir, Lima Puluh dan Suku Boga. Sejak pemekaran, Kabuapten Batubara baru dipimpin oleh satu bupati defenitif, OK AR yang menjabat dua periode. Periode pertama 2008-2013 dan periode kedua 2013-2018. Namun di penghujung masa jabatannya, OK AR tertangkap oleh Satgas KPK dalam operasi tangkap tangan.

Wednesday, 13 September 2017

Asal Mula Nama Kota KISARAN

Kisaran Tempo Dulu

Kisaran adalah sebuah kota yang terdiri dari dua kecamatan yaitu: Kota Kisaran Barat dan Kota Kisaran Timur. Kisaran murapakan ibukota Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara yang berjarak ± 160 Km dari ibu kota Provinsi Sumatera Utara (Medan). Kisaran selain dilintasi oleh Jalan Raya Lintas Sumatera juga terletak di jalur KA Sumatera bagian utara.

Sejarah Kisaran

Kota Kisaran titetapkan menjadi ibu kota kabupaten Asahan pada tanggal 20 Mei 1968, Dengan mempertimbangkan posisi yang lebih strategis melalui PP Nomor 19 Tahun 1980, ibukota Kabupaten Asahan dipindahkan dari Kota Tanjung Balai ke Kota Kisaran. Status Kisaran sebelumnya adalah kota administratif, yang kemudian dihapuskan menjadi kecamatan biasa pada tahun 2003 karena tidak memenuhi persyaratan peningkatan daerah otonom.

Asal Mula Nama ”Kisaran”

Menurut buku Cerita Rakyat: ”Legenda Kisaran Naga” yang dikarang oleh Bapak. R. Sutrisman, M.E.S.Sos. bahwa nama Kisaran diambil dari sebuah perkampungan yang disebut Kampung Kisaran Naga.

”Pada suatu hari hujan turun sangat lebat, petir sambung menyambung, angin topan bertiup sangat kencang, kayu ara dan pohon kelapa di tepi sungai bertumbangan. Sehingga orang-orang kampung pun berhamburan keluar rumah karena takut tertimpa pohon yang roboh. Air-air sungai mendadak naik sampai ke bibir sungai. Dalam kepanikan itu tiba-tiba salah seorang warga melihat ada makhluk yang berkisar-kisar di bawah timbunan pepohonan yang tumbang. Dan rumput kelayau pun terkuak seolah-olah ada yang membuka. Ia pun berteriak ”Naga Berkisar,….Naga Berkisar…..”
Orang kampung pun segera mendekati orang yang berteriak tersebut.

”Mana ular naganya??” orang yang pertama melihatpun menunjuk ke arah tumpukan pepohonan yang tumbang ”itu………, tengoklah”.
Mereka melihat dengan jelas seekor ular besar seperti naga tubuhnya bahkan lebih besar dari pohon durian tua dan sangat panjang.
Tubuh ular itu sudah berselimut, bahkan rumput-rumputan sudah tumbuh di atasnya. Ular naga itu terus bergerak berkisar dengan mengibas-ngibaskan ekornya untuk menyingkirkan pepohonan yang menimpa tubuhnya. Lalu ia menuju ke sungai yang sudah meluap dan menghanyutkan diri ke hilir sungai silau, sampai ke muara sungai Asahan di Tanjung Balai.

Itulah sekelumit dongeng asal mula nama ”Kisaran”

Misteri Gua di Bukit Katarina Kisaran Kab. Asahan


Bukit Katarina adalah nama sebuah bukit kecil di kawasan Kelurahan Sei Renggas, Kec. Kisaran Barat, Kab. Asahan, Sumatera Utara. Lokasi ini tidak jauh dari RS. Ibu Kartini, dan berada di dalam areal HGU PT. Bakrie Sumatera Plantations (BSP) di tepi Sungai Silau. Oleh sebab itu, dibukit ini terdadapat tanaman pohon karet perkebunan milik PT. BSP. Nama bukit Katarina itu sendiri menurut cerita dari mulut kemulut diambil dari nama RS. Ibu Kartini yang dulunya sering disebut dengan nama RS. Katarina. Konon, untuk pertama kalinya dokter di RS itu bernama Dokter Chatherine yang ditugaskan dari negeri Belanda.

Jika dilihat sepintas, bukit Katerina merupakan gundukan tanah biasa yang tingginya mencapai kurang lebih 50 meter. Tempat ini sepertinya tidak terdapat hal-hal yang aneh atau luar biasa. Bahkan, ketika terjadi gempa Nias, Sumatera Utara pada malam hari, sekitar pukul 23.00 wib, beberapa tahun yang lalu, terdengar pula isu tsunami di wilayah Asahan. Tak ayal, bukit Katerina menjadi tujuan masyarakat Kisaran dan sekitarnya sebagai tempat mengungsi. Sehingga bukit tersebut penuh sesak dengan warga masyarakat. Padahal isyu tsunami hanya isapan jempol, yang sengaja dihembuskan untuk menciptakan suasana keruh dengan maksud agar masyarakat dilanda kepanikan.

Memang, tidak banyak yang tahu bahwa ternyata bukit Katerina menyimpan misteri yang hingga saat ini belum terpecahkan. Bagi seorang yang memiliki kemampuan spiritual linuwih, atau yang memiliki indera keenam, pasti akan meresakan sesuatu yang berbeda bila melawati temoat ini.

Menurut kisah yang sudah ada sejak turun-temurun, pada sekitar abad XVII, bukit Katerina adalah tempat bertempurnya panglima perang kerajaan Cina dengan Raja Maria Pane ke-7 dari Buntu Pane Asahan, bernama Datuk Daurung. Kemudian setelah bertarung adu kesaktian, tidak ada yang kalah dan menang, maka masing-masing mengeluarkan aji pamungkas, yaitu menjelma menajdi seekor ular naga dan ikan dundung. Keduanya lalu terjun ke sungai Silau. Mereka bertempur dengan mengandalkan kesaktian masing-masing. Akan tetapi, ular naga jelmaan Panglima Perang Cina dapat dipukul jatuh, tertusuk sanai (patil) dari ikan dundung jelmaan Datuk Daurung. Naga itu meraung-raung menahan sakit dan menggelepar, yang akhirnya terkulai hanyut dan terkapar di hilir sungai Silau tidak seberapa jauh dari bukit itu. Setelah ratusan tahun kemudian, menurut cerita secara turun temurun dan sudah menjadi semacam legenda di masyarakat, ular naga jelmaan Panglima Perang Cina siuman dari pingsannya yang cukup lama. Diiringi hujan lebat, petir sambung menyambung sehingga terjadilah banjir besar.

Kemudian ular naga tersebut berkisar-kisar (berenang-renang) dan menghanyutkan diri menelusuri Sungai Silau sampa sungai Asahan di kota Tanjung Balai). Selanjutnya menuju ke Selat Malaka.

Perkampungan di kawasan tempat naga berkisar tersebut akhirnya disebut dengan nama Kampung Kisaran Naga. Sekarang menjadi Kelurahan Kisaran Naga dan kota yang berada di dekat sungai Silau disebut dengan nama Kisaran, sebagai ibukota Kabupaten Asahan.
Memang, hingga saat ini tidak ada yang mengetahui secara pasti, kapan perkampungan itu mulai disebut dengan nama Kisaran Naga, demikian juga nama Kisaran.

Kembali ke bukit Katerina, Tim Jelajah Misteri mendapat penjelasan dari Sukino, seorang buruh kebun Tanah Raja yang pernah menjalani rawat inap selama 14 hari di RS, Ibu Kartini pada tahun 1971.

Sukini berkisah. Saat itu, kebetulan malam Jum’at. Dia bermimpi didatangi seorang laki-laki gagah perkasa berpakaian seragam kebesaran Cina. Kemudian diajak masuk ke istana di bawah bukit Katerina.

Bibir Sukino berdecak kagum karena istana tersebut sangat indah, diterangi lampu-lampu gemerlapan, dengan hiasan istana bertatahkan ratna mutu manikam.

Kepada Misteri, Sukino menceritakan. Dirinya disambut cukup hormat oleh punggawa dan dayang-dayang istana. Kemudian dipersilahkan duduk di atas permadani lembut. Distu talah tersedia pula bermacam ragam makanan yang tampaknya cukup lezat dan mengundang selera makan.

“Selama berada di istana gaib di bawah Bukit Katerina, rasanya saya tidak ingin pulang karena suasana di ruangan itu sangat indah dan nyaman. Apalagi didampingi wanita-wanita muda belia yang cantik rupawan,” cerita Sukirno.

Namun, ketika akan mengambil makanan yang terhidang, tiba-tiba seperti ada kekuatan gaib yang menarik tubuhnya ke luar dari istana. Di saat itulah, dia terbangun dan yang ada hanya ruangan rumah sakit yang sepi. Hanya ditemani beberapa orang pasien lain yang tertidur pulas.
Jam dinding menunjukkan 03.15 wib. Sukirno merasa bersyukur tidak sempat menyantap makanan di istana itu. “Jika tidak, mungkin saya akan terus berada di bawah bukit Katerina menjadi budak dedemit yang tidak lain adalah makhluk halus penjaga Gua Bukit itu,” tambahnya mengenang mimpi 36 tahun silam itu.

April lalu, Misteri bersama Adi Sunarto coba menelusuri lebih jauh kemisteriusan gua di bukit Katerina itu, dengan maksud untuk mengetahui sejauh mana keangkerannya. Di perapatan Simpang Kartini, persisnya persimpangan jalan Lintas Sumatera menuju kota Pematang Siantar, kami berhenti makan di sebuah warung kecil. Tak lama kemudian, datang seorang lelaki tua yang kami taksir berusia hampir 80-an, singgah di warung yang sama. Bahkan kami diajak mampir ke rumahnya.

Tawaran kakek Samudi, demikian kami memanggilnya, untuk mampir, tentu tidak kami sia-siakan.

“Mungkin dari kakek tua itu kita mendapat informasi tentang misteri Bukit Katerina,” ujar Adi Sunarto.

Kakek Samudi mengendarai sepeda bututnya, sementara kami mengendarai sepeda motor menuju rumahnya.

“Bila sudah lihat rumah kecil berdinding papan, atap nipah dan di depannya ada pohon bunga kenanga, di sebelah kiri jalan, itulah rumah saya,” kata kakek Samudi sambil mengayuh sepedanya.

Sudah tentu kami melaju lebih dahulu meninggalkan kakek tua itu. Akan tetapi, kami tak habis pikir, setelah kami melihat sebuah rumah tua dan sederhana seperti dijelaskan kakek Samudi, ternyata orang tua itu sudah menunggu di depan pintu. Sepeda bututnya disandarkan di sebuah tunggul pohon kelapa di samping rumahnya.

Misteri dan Adi Sunarto hampir tidak percaya apakah yang ada di depan pintu adalah benar kakek tua itu adanya. Adi Sunarto membelokkan motornya ke rumah tua itu. Dan benar, yang sudah menanti kedatangan kami di depan pintu adalah kakek Samudi.

Misteri bertanya dalam hati, ilmu apa yang digunakan kakek tua itu hingga dapat mendahului kendaraan yang kami naiki? Sementara kami sendiri tidak melihat kapan dia mendahului kami.

“Silahkan masuk ke gubuk saya!” Ajak kakek Samudi mempersilakan.
Masih dengan rasa heran bercampur takjub, kami masuk ke rumah sangat sederhana berukuran 5x7 meter, dinding papan yang sudah lapuk, lantai tanah dan atap nipah itu
Di ruang tamu yang kecil dan sempit, ada sepasang kursi rotan yang reot, di depannya terdapat sebuah meja terbuat dari papan yang sudah mulai dimakan rayap. Kami memandangi beberap foto kusam terpajang di dinding.

Ketika kami tengah asyik melihat foto sepasang pengantin sedang duduk di pelaminan, kakek Samudi tiba-tiba berujar, “Itu gambar kami sewaktu jadi pengantin.”

Tanpa peduli pada keterkejutan kami, dia lalu duduk sambil meletakkan tiga gelas air putih. Untuk menutupi keterkejutan kami, Adi Sunarto memuji foto kakek Samudi sewaktu masih muda. “Dulu waktu mudanya, kakek ganteng juga ya?” Kata sahabat Misteri itu.
Orang tua yang disebut dengan nama Samudi hanya tersenyum sambil mempersilahkan kami minum.

Hampir satu jam kami berbincang-bincang dengan kakek Samudi sekitar cerita Bukit Katerina. Dari kakek itu, kami mendapat keterangan bahwa bukit itu pernah dijadikan tempat pemujaan orang-orang Cina dengan membangun tapekong dipuncaknya, karena memang dianggap keramat dan memiliki daya magis cukup kuat.

Menurut kakek Samudi, di bawah bukit itu terdapat gua di dalam air berbentuk bangunan kuno. Tapi kakek tua ini tidak dapat menjelaskan tahun berapa gua itu mulai ada.
“Yang pasti goa itu sudah lama ada di sana!” Katanya.
“Apa kakek sudah pernah masuk ke gua itu?” Tanya Misteri.
Kakek Samudi mengerutkan keningnya yang keriput, lalu menjawab; “Saya pernah melakukan tapa brata di dalam gua itu, Nak, selama 40 hari,” ujarnya. Kakek tua yang mengaku datang dari Jawa Timur ke Sumatera Utara sebagai kuli kontrak itu, juga menceritakan bahwa pernah terjadi seorang laki-laki mati terbunuh di bukit itu. Tapi tidak diketahui siapa pembunuhnya. Laki-laki yang terbunuh dengan sangat mengenaskan. Kepalaya dipenggal hingga terpisah dari badannya.

Mendengar cerita kakek Samudi tentang orangmati terbunuh itu, Misteri teringat ketika suatu malam dibulan Suro tahun 2005, seorang penjual bandrek jatuh pingsan di samping gerobak jualannya.

Setelah sadar, dia menceritakan bahwa dia telah didatangi oleh orang yang ingin membeli bandreknya, akan tetapi alangkah terkejutnya karena di keremangan malam itu, dia hanya melihat orang itu hanya kepalanya saja tanpa badan.

Menjelang maghrib, kami baru keluar dari rumah gubuk kakek Samudi. Sebelum kami pamit, kakek tua itu berkata, “Kalau kalian mau menengok gua tadi, besok kalian bisa datang lagi supaya dapat melihat dari dekat. Tapi kalian tidak bisa masuk ke dalam gua itu tanpa saya. Karena gua itu cukup angker,” ujarnya.

Keesokan harinya, seperti yang dijanjikan kakek Samudi, kami kembali berangkat ke rumah si kakek tua. Jujur saja, kami sangat tertantang dengan pengakuannya yang katanya sanggup menunjukkan gua di bawah bukit Katerina itu.

Akan tetapi, keanehan menimpa kami. Ketika tiba di kelurahan Sei Renggas, kami seperti orang kebingungan. Bagaimana tidak? Rumah kakek Samudi yang kemarin kami kunjungi tidak ada lagi di pertapakannya.

“Mungkin kita tersesat!” Kata Adi.
“Tak mungkin! Karena jelas sekali ini rumahnya, ditandai ada tunggul pohon kelapa di depan rumahnya,” jawab Misteri.

Akhirnya kami memutuskan untuk menanyakan kepada penduduk yang tinggal tidak jauh dari tempat kami mampir kemarin. Kami semakin bingung, karena menurut penjelasan salah seorang penduduk, selama ini tidak ada rumah di kawasan itu dan tak ada seorang kakek bernama Samudi. Jadi, siapa sebenarnya kakek itu? Sungguh mengherankan!
Dengan perasan kecewa bercampur heran, kami kembali dan memutuskan untuk mencari tahu tentang keberadaan Bukit Katerina yang masih mengandung misteri. Menjelang Dzuhur, kami sudah berada di bukit itu. Biarlah tak dapat masuk ke gua kaerna kakek Samudi tidak ada, asalkan bisa mengambil gambar mulut gua itu.

Adi Sunarto sudah standby denga kameranya menjepret Bukit Katerina dari jalan Lintas Kisaran-Pematang Siantar. Lalu kami turun sedikit melihat bibir sungai Silau untuk melihat gua di bawah bukit itu.

Akan tetapi, mulut gua itu tidak dapat kami lihat dengan jelas, karena bibir gua dari seberang sungai (dari Desa Tanjung Alam). Perjalanan dari Bukit Katerina ke Desa Tanjung Alam memakan waktu sekitar 20 menit.

Di Dusun II Desa Tanjung Alam, kami bertemu dengan Hartono yang dapat menunjukkan tempat yang strategis untuk dapat mengambil foto mulut gua dibawa bukit Katerina itu, karena lebar sungai hanya sekitar 30 meter saja.

Selain mengambil foto, terjadi peristiwa yang cukup aneh. Dalam keadaan antara sadar dengan tidak, kawasan di sekeliling tempat kami berdiri seketika berubah menjadi gelap. Kemudian perasaan kami digandeng oleh seorang laki-laki misterius berjalan di atas air sungai dan dalam tempo cukup singkat, kami telah sampai di mulut gua di bawah Bukit Katerina.
Misteri dan teman tak habis pikir, mengapa kami bisa berjalan di atas air seperti layaknya berjalan di atas tanah? Setibanya di pintu gua, orang tua misterius itu membawa kami masuk ke dalam gua yang gelap dan dingin.

Lelaki tua itu segera menyalakan obor yang diambil dari dinding gua. Cahayanya menyinari ruang di dalam gua itu. Kami sangat terperanjat, ketika dari sinar obor itu kami lihat wajah lelaki tua misterius itu ternyata adalah kakek Samudi.

Tanpa berkata-kata sedikitpun, kakek Samudi membawa kami mengelilingi gua yang dingin itu. Di sudut gua, kami melihat ada dua sinar bulat berwarna kuning keemasan. Bau harum menusuk hidung. Kakek Samudi yang berjalan di depan segera duduk bersila di hadapan sinar tersebut dan tanpa diperintah, kami mengikuti gerakan kakek tua misterius itu.
Ternyata sinar tersebut adalah sepasang mata dari sosok makhluk bermahkota yang duduk di atas altar batu. Tampaknya seperti kepala seekor ular besar. Rasa takut mulai timbul menyusul bulu roma kami yang berdiri tegak.

Kakek Samudi mulai buka bicara, “Ampun Paduka, dua orang ini adalah cucu hamba yang ingin mengetahui keberadaan gua ini. Mohonlah Paduka dapat memaafkan kelancangan mereka.” Entah mengapa, kakek Samdi menyabut makhluk itu dengan panggilan paduka.
“Ya, aku tahu sejak kemarin ada orang ingin tahu tentang gua ini. Tapi maksudnya baik,” jawab makhluk itu dengan suara berat menggetarkan ruangan gua. Bahkan, kelelawar hitam yang bergelantungan didinging gua berhamburan keluar, sambil bersuara gemuruh memekakkan telinga.

“Apa yang kalian cari?” Makhluk aneh itu bertanya kepada kami.
Adi Sunarto memandangi Misteri sejenak, kemudian memandangi wajah kakek Samudi. “Ampun, Paduka! Mereka berdua tidak mencari atau menginginkan sesuatu. Cucu hamba ini hanya ingin memastikan bahwa di bawah bukit ini memang benar ada sebuah gua, jadi mereka meminta hamba untuk membawa mereka kemari,” jawab kakek Samudi.
Gua di dalam air, di bawah bukit itu terasa semakin mencekam. Udara semakin dingin menusuk sumsum.

Makhluk aneh itu kembali bersuara. “Baiklah, akan tetapi jika ingin datang lagi, kalian harus membawa sesaji satu ekor ayam jantan berbulu wulung (hitam mulus), ari-ari dari bayi laki-laki yang lahir hari Jum’at Kliwon dan bunga macan kerah.

Ayam dan ari-ari, kalian cemplungkan ke air sungai Silau dan ketika itu kalian akan sampai ke mulut gua ini. Kemudian taburkan bunga macan kerah ke pintu gua dan dayang-dayangku akan mempersilhakan kalian masuk.” Ujarnya panjang lebar.

Tak lama kemudian, sinar mata makhluk itu meredup dan padam. Gua kembali menjadi gelap. Kakek Samudi memberi hormat, lalu berdiri dan berjalan menuju mulut goa. Kami mengikutinya dari belakang.

Anehnya, kami tidak sadar kapan kakek Samudi membawa kami keluar gua dan menyeberangi sungai seperti tadi, saat kami pergi.

Yang pasti, tiba-tiba saja kami sudah berada di seberang sungai, tempat kami tadi mengambil foto mulut gua itu. Bahkan yang tak kalah aneh, kakek Samudi pun tak ada bersama kami lagi.
Dalam kebingungan, kami mengingat-ingat pesan makhluk aneh tadi. Kalau ayam jago wulung dan kembang macan kerah amat mudah kami peroleh. Akan tetap tentang ari-ari jabang bayi laki-laki yang lahir pada hari Jum’at Kliwon, disamping sangat sulit juga tidak mungkin kami bisa mencarinya.

Matahari telah condong ke barat, sebab tanda hari sudah sore. Kami pun bergegas pulang dengan membawa pengalaman spiritual yang tak mungkin bisa kami peroleh lagi di tempat lainnya. Namun, ada sedikit penyesalan, mengapa kami tidak menanyakan kepada kakek Samudi siapa atau makhluk apa yang bersemayam di dalam gua di bawah bukit itu?
Misteri juga terlupa tidak menanyakan siapa sebenarnya kakek tua misterius yang mengaku bernama Samudi itu?

Hingga kini, gua di Bukit Katerina dan kakek Samudi tetap menjadi misteri yang entah kapan dapat terungkap.

Tuesday, 12 September 2017

SEJARAH KABUPATEN ASAHAN



Asahan Selayang Pandang
Perjalanan Sultan Aceh “Sultan Iskandar Muda” ke Johor dan Malaka pada tahun 1612 dapat dikatakan sebagai awal dari Sejarah Asahan. Dalam perjalanan tersebut, rombongan Sultan Iskandar Muda beristirahat di kawasan sebuah hulu sungai, yang kemudian dinamakan ASAHAN. Perjalanan dilanjutkan ke sebuah “Tanjung” yang merupakan pertemuan antara sungai Asahan dengan sungai Silau, kemudian bertemu dengan Raja Simargolang. Di tempat itu juga, Sultan Iskandar Muda mendirikan sebuah pelataran sebagai “Balai” untuk tempat menghadap, yang kemudian berkembang menjadi perkampungan. Perkembangan daerah ini cukup pesat sebagai pusat pertemuan perdagangan dari Aceh dan Malaka, sekarang ini dikenal dengan “Tanjung Balai”.

Dari hasil perkawinan Sultan Iskandar Muda dengan salah seorang puteri Raja Simargolang lahirlah seorang putera yang bernama Abdul Jalil yang menjadi cikal bakal dari kesultanan Asahan. Abdul Jalil dinobatkan menjadi Sultan Asahan I. Pemerintahan kesultanan Asahan dimulai tahun 1630 yaitu sejak dilantiknya Sultan Asahan yang I s.d. XI. Selain itu di daerah Asahan, pemerintahan juga dilaksanakan oleh datuk-datuk di Wilayah Batu Bara dan ada kemungkinan kerajaan-kerajaan kecil lainnya.

Tanggal 22 September 1865, kesultanan Asahan berhasil dikuasai Belanda. Sejak itu, kekuasaan pemerintahan dipegang oleh Belanda. Kekuasaan pemerintahan Belanda di Asahan/Tanjung Balai dipimpin oleh seorang Kontroler, yang diperkuat dengan Gouverments Besluit tanggal 30 September 1867, Nomor 2 tentang pembentukan Afdeling Asahan yang berkedudukan di Tanjung Balai dan pembagian wilayah pemerintahan dibagi menjadi 3 (tiga) yaitu:
– Onder Afdeling Batu Bara
– Onder Afdeling Asahan
– Onder Afdeling Labuhan Batu.

Kerajaan Sultan Asahan dan pemerintahan Datuk-Datuk di wilayah Batu Bara tetap diakui oleh Belanda, namun tidak berkuasa penuh sebagaimana sebelumnya. Wilayah pemerintahan Kesultanan dibagi atas Distrik dan Onder Distrik yaitu:
– Distrik Tanjung Balai dan Onder Distrik Sungai Kepayang.
– Distrik Kisaran.
– Distrik Bandar Pulau dan Onder Distrik Bandar Pasir Mandoge.

Sedangkan wilayah pemerintahan Datuk-datuk di Batu Bara dibagi menjadi wilayah Self Bestuur yaitu:
– Self Bestuur Indrapura
– Self Bestuur Lima Puluh
– Self Bestuur Pesisir
– Self Bestuur Suku Dua (Bogak dan Lima Laras).

Pemerintahan Belanda berhasil ditundukkan Jepang (tanggal 13 Maret 1942), sejak saat itu Pemerintahan Fasisme Jepang disusun menggantikan Pemerintahan Belanda. Pemerintahan Fasisme Jepang dipimpin oleh Letnan T. Jamada dengan struktur pemerintahan Belanda yaitu Asahan Bunsyu dan bawahannya Fuku Bunsyu Batu bara. Selain itu, wilayah yang lebih kecil di bagi menjadi Distrik yaitu Distrik Tanjung Balai, Kisaran, Bandar Pulau, Pulau Rakyat dan Sei Kepayang. Pemerintahan Fasisme Jepang berakhir pada tanggal 14 Agustus 1945 dan 17 Agustus 1945 Kemerdekaan Negara Republik Indonesia diproklamirkan.

Sesuai dengan perkembangan Ketatanegaraan Republik Indonesia ,maka berdasarkan UU Nomor 1 Tahun 1945, Komite Nasional Indonesia Wilayah Asahan di bentuk pada bulan September 1945. Pada saat itu pemerintahan yang di pegang oleh Jepang sudah tidak ada lagi, tapi pemerintahan Kesultanan dan pemerintahan Fuku Bunsyu di Batu Bara masih tetap ada. Tanggal 15 Maret 1946, berlaku struktur pemerintahan Republik Indonesia di Asahan dan wilayah Asahan di pimpin oleh Abdullah Eteng sebagai kepala wilayah dan Sori Harahap sebagai wakil kepala wilayah, sedangkan wilayah Asahan dibagi atas 5 (lima) Kewedanan, yaitu:
– Kewedanan Tanjung Balai
– Kewedanan Kisaran
– Kewedanan Batubara Utara
– Kewedanan Batubara Selatan
– Kewedanan Bandar Pulau.

Kemudian setiap tahun tanggal 15 Maret diperingati sebagai Hari Jadi Kabupaten Asahan. Pada Konferensi Pamong Praja se-Keresidenan Sumatera Timur pada bulan Juni 1946 diadakan penyempurnaan struktur pemerintahan, yaitu:
– Sebutan Wilayah Asahan diganti dengan Kabupaten Asahan
– Sebutan Kepala Wilayah diganti dengan sebutan Bupati
– Sebutan Wakil Kepala Wilayah diganti dengan sebutan Patih

Kabupaten Asahan dibagi menjadi 15 (lima belas ) Wilayah Kecamatan terdiri dari :



Berdasarkan keputusan DPRD-GR Tk. II Asahan No. 3/DPR-GR/1963 Tanggal 16 Pebruari 1963 diusulkan ibukota Kabupaten Asahan dipindahkan dari Kotamadya Tanjung Balai ke kota Kisaran dengan alasan supaya Kotamadya Tanjung Balai lebih dapat mengembangkan diri dan juga letak Kota Kisaran lebih strategis untuk wilayah Asahan. Hal ini baru teralisasi pada tanggal 20 Mei 1968 yang diperkuat dengan peraturan pemerintah Nomor 19 Tahun 1980, Lembaran Negara Tahun 1980 Nomor 28, Tambahan Negara Nomor 3166.

Pada tahun 1982, Kota Kisaran ditetapkan menjadi Kota Administratif berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 1982, Lembaran Negara Nomor 26 Tahun 1982. Dengan adanya Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 821.26-432 tanggal 27 Januari 1986 dibentuk Wilayah Kerja Pembantu Bupati Asahan dengan 3 (tiga) wilayah Pembantu Asahan, yaitu :

Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri RI Nomor 4 Tahun 1981 dan Peraturan Daerah Tingkat I Sumatera Utara Nomor 5 Tahun 1983 tentang Pembentukan, Penyatuan, Pemecahan dan Penghapusan Desa di Daerah Tingkat II Asahan telah dibentuk 40 ( empat puluh) Desa Persiapan dan Kelurahan Persiapan sebanyak 15 (lima belas) yang tersebar dibeberapa Kecamatan, yang peresmian pendefinitifan-nya dilaksanakan oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Sumatera Utara pada tanggal 20 Pebruari 1997, sesuai dengan Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Sumatera Utara Nomor 146/2622/SK/Tahun 1996 tanggal 7 Agustus 1996.

Berdasarkan Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Sumatera Utara Nomor 138/ 814.K/Tahun 1993 tanggal 5 Maret 1993 telah dibentuk Perwakilan Kecamatan di 3 (tiga) Kecamatan, masingmasing sebagai berikut :
– Perwakilan Kecamatan Sei Suka di Kecamatan Air Putih
– Perwakilan Kecamatan Sei Balai di Kecamatan Tanjung Tiram
– Perwakilan Kecamatan Aek Kuasan di Kecamatan Pulau Rakyat

Berdasarkan Surat Keputusan Bupati Asahan no. 323 tanggal 20 September 2000 dan Peraturan Daerah Kabupaten Asahan no. 28 tanggal 19 September 2000 telah menetapkan tiga kecamatan perwakilan yaitu Kecamatan Sei Suka, Aek Kuasan dan Sei Balai menjadi kecamatan yang Definitif. Kemudian berdasarkan Peraturan Bupati Asahan Nomor 9 Tahun 2006 tanggal 30 Oktober 2006 dibentuk 5 (lima ) desa baru hasil pemekaran yaitu :
– Desa Tomuan Holbung, pemekaran dari desa Huta Padang, Kec. BP Mandoge
– Desa Mekar Sari, pemekaran dari desa Pulau Rakyat Tua, Kec. Pulau Rakyat
– Desa Sipaku Area, pemekaran dari desa Simpang Empat, kec. Simpang Empat
– Desa Sentang, pemekaran dari desa Lima Laras, kec. Tanjung Tiram
– Desa Suka Ramai, pemekaran dari desa Limau Sundai, kec. Air Putih.

Pada pertengahan tahun 2007 berdasarkan Undang-undang RI Nomor 5 tahun 2007 tanggal 15 Juni 2007 tentang pembentukan Kabupaten Batu Bara, Kabupaten Asahan dimekarkan menjadi dua Kabupaten yaitu Asahan dan Batu Bara. Wilayah Asahan terdiri atas 13 kecamatan sedangkan Batu Bara 7 kecamatan. Tanggal 15 Juni 2007 juga dikeluarkan keputusan Bupati Asahan Nomor 196-Pem/2007 mengenai penetapan Desa Air Putih, Suka Makmur dan Desa Gajah masuk dalam wilayah Kecamatan Meranti Kabupaten Asahan. Sebelumnya ketiga desa tersebut masuk dalam wilayah kecamatan Sei Balai Kabupaten Batu Bara, namun mereka memilih bergabung dengan Kabupaten Asahan.

Struktur Pemerintahan Kabupaten

Asahan pada saat ini terdiri dari :
– Sekretariat Daerah Kab. Asahan
– Sekretariat DPRD Kab. Asahan
– 1 Inspektorat
– 17 Dinas Daerah
– 7 Lembaga Teknis Daerah berbentuk Badan dan 3 berbentuk Kantor
– 25 Kecamatan
– 149 Desa
– 27 Kelurahan

Dari mulai berdirinya Kabupaten Asahan yaitu pada tanggal 15 Maret 1946 sampai dengan sekarang, Kabupaten Asahan dipimpin oleh Bupati Asahan yaitu:

FOTO KISARAN TEMPO DOELOE

Foto: Logo Pemkab Asahan



Foto: Uang Logam Kisaran

ASAL USUL WARGA ASAHAN/KISARAN

Desa Sei Apung-Asahan, 1949

Siapa dan bagaimana asal usul masyarakat Asahan hingga saat ini masih belum ada yang mampu menjawabnya. Ada yang bilang warga Asahan berasal dari keturunan orang Jawa, ada yang mengatakan dari Batak, ada juga yang bilang dari Aceh Darusallam, dari India, China, dan Persia. 

Namun berdasarkan penemuan terbaru yang dilakukan oleh ahli sejarah di Asahan, ditemukan bukti kuat bahwa masyarakat Asahan merupakan keturunan dari Minangkabau. Hal ini diperkuat dengan bukti tentang penamaan beberapa daerah yang ada kaitannya dengan Minangkabau.

Penasaran dengan cerita-cerita dari para leluhur tersebut, akhirnya penulis yang merupakan putra asli kelahiran Asahan yakni di Simpang Enam Kisaran, Gang Belimbing Jalan Karttini mencoba menelusuri siapa sebenarnya nenek moyang masyarakat Melayu Asahan. Berdasarkan rasa penasaran tersebut penulis bertemu dengan seorang pria yang sudah cukup tua yakni Abdul Muis warga Asahan yang berusia sekitar 78 tahun.

Menurut Abdul, ia sendiri tidak mengetahui secara pasti siapa nenek moyang dan bagaimana asal usul masyarakat Melayu Asahan. Menurutnya, saat ia masih kecil, berdasarkan cerita kakeknya (atok/atuk/ompung), banyak versi yang menceritakan tentang asal usul masyarakat Melayu di Asahan. Hanya saja, Abul mengatakan, berdasarkan legenda sekitar ratusan tahun lalu, di Asahan ada pusat kerajaan di Batubara, Tanjungbalai, di Kota Kisaran, di Asahan, dan Kecamatan di Tanjung Alam, di Kecamatan Tinggi Raja dan ada kerajaan kecil lainnya. 

Mendengar pengakuan dari Abdul, akhirnya saya menelusuri wilayah Tanjung Alam untuk mencari kepastian/kebenaran tentang kerajaan yang pernah berdiri di daerah tersebut. Namun sayang, beberapa warga yang ditemui yakni Ibu Rahmawati (45), Ibu Siti (50) dan Iwan (43) mengaku secara pasti di mana pusat kerajaan di daerah tempat mereka tinggal. Tapi menurut legenda, memang di kampung mereka dulu pada masa ratusan tahun lalu pernah berdiri kerajaan yang diyakini sebagai cikal bakal Kerajaan Asahan.

Masih menurut mereka, di Tanjung Alam dulu sekitar tahun 1990 an juga pernah ditemukan beberapa bukti sejarah seperti gelang tangan kerajaan yang terbuat dari emas, mahkota kerajaan, guci, kapal/perahu yang tertanam di dalam tanah di pesisir pantai, dan tugu/prasasti dan masih banyak lagi. 

Jasnis Sulung budayawan dan pengamat sejarah Asahan yang ditemui mengatakan, di Asahan banyak kerajaan yang tidak tercatat dalam buku sejarah pelajaran di sekolah, mau pun buku sejarah kerajaan nasional. Anehnya pada buku sejarah kerajaan dari luar negeri seperti, China , Mesir, Arab , India, malah tercatat beberapa nama kerajaan yang pernah ada di Asahan.

Menurut Jasnis Sulung, berdasarkan hasil penelitiannya selama hampir 7 tahun lebih yang dilakukannya, baik melalui penelurusan langsung ke lokasi yang diyakini sebagai tempat berdirinya pusat beberapa kerajaan di Asahan dan buku sejarah kerajaan China masa dinasti Ming, Dinasti Han, Dinasti Tang dan Qing, serta buku sejarah kerajaan India kuno yang membahas tentang dinasti kerajaan Kerajaan Chola, buku Aceh Sepanjang Abad, Medan Tempoe Doeloe, ternyata ada banyak kerajaan yang ada di Asahan baik di Batubara, Asahan, Tanjungbalai yang tidak tercatat dalam buku pelajaran sejarah di sekolah dan buku sejarah Negara Kertagama.

Zasnis menambahkan, sebelum berdirinya kerajaan Istana Lima Laras, berdasarkan hasil penelusurannya selama ini dan berdasarkan buku sejarah yang dibacanya sebagai refrensi, nama Batubara di Asahan diambil dari sebuah batu di pendalaman yang pada malam hari mengeluarkan cahaya merah berapi.

“Demikian menurut catatan John Anderson, seorang utusan dari Gabenur Inggeris di Pulau Pinang ketika mengunjungi Batubara di tahun 1823 seperti dinyatakannya ‘Batubara is so called from a large stone in the interior, which at night has the appearance of being red hot, and throws a light around it,” ucap Zasnis. 

Zasnis menambahkan, berdasarkan cerita turun temurun rakyat Asahan, wilayah Batubara dulunya di huni oleh masyarakat dari asal Minangkabau yang mula-mula mendarat menaiki kapal ‘Gajah Ruku’.

“Nama-nama daerah di wilayah Batubara mengingatkan kita akan negeri asal nenek-moyang mereka seperti Lima Puluh, Lima Laras, Pesisir, Tanah Datar, tetapi apakah para pemukim pertama ini langsung datang dari Minangkabau atau melalui Siak, Zasnis tak berani memastikannya. 

Di tanah Minangkabau ada tiga luhak yang besar yaitu Luhak Tanah Datar, berkedudukan di Padang Datar di Ulak Tanjung Bungo, Luhak Agam di Padang Panjang dan Luhak Limapuluh Koto berkedudukan di Koto Nan Ampat, Paya Nan Kumbuh sekitar Payakumbuh. Demikianlah susunan ketiga masa adanya kerajaan Pagaruyung. 

Karena lalu lintas pada masa itu sebahagian besar melalui sungai maka hulu sungai sekitar Paya Kumbuh adalah Hulu Sungai Kampar kanan yang bermuara di sekitar Kampar, Pelalawan, agak jauh dari Sumatera Timur. Umumnya imigrasi dari Minangkabau melalui sungai itu ke Semenanjung Tanah Melayu, Negeri Sembilan. 

Sementara itu di Kerajaan Siak Inderapura juga mempunyai orang-orang besar, Datuk Empat Suku yaitu Datuk Lima Puluh bergelar Datuk Seri Bijuansa, Datuk Tanah Datar bergelar Datuk Seri Pekermaharaja, Datuk Pesisir bergelar Datuk Maharaja Ketuansa dan Datuk Kampar bergelar Datuk Seri Amar Wangsa, mereka berasal dari Minangkabau. Nama-nama itu meyakinkan kita adanya persamaan dengan yang di Batubara dan imigrasi dari wilayah-wilayah tadi yang ada di Siak ke wilayah Batubara dengan sekadar menyusur pantai saja arah ke utara dari Siak. 

Jasnis mengatakan, Batubara memberontak dari Aceh hingga Sultan Aceh langsung memimpin ekspedisi militer ke Batubara. Serangan kerajaan Aceh itu berhasil memukul raja Batubara. Beberapa kepala negeri Batubara menyatakan tunduk dan mereka menpersembahkan minuman dari air kelapa.. Rupa-rupanya salah satu dari air kelapa itu diberi racun sehingga ketika Sultan Aceh itu meminumnya ia jadi sakit, sehingga serta merta angkatan laut Aceh itu kembali pulang ke Aceh. Mereka yang memberontak kembali memperkuat Batubara.

Ketika Raja Kecil tiba dari Pagaruyung menjadi Sultan Siak, dengan bantuan orang-orang Minangkabau di Siak dan Batubara, mereka berhasil merebut takhta imperium Melayu Johor-Riau di tahun 1717. Kemudian setelah ia terusir oleh orang-orang Bugis dari Riau, ia kembali ke Siak menjadi raja di situ dan semasa pemerintahan di Siak tahun 1723 sampai 1740M, ia menetapkan pengangkatan raja-raja di Batubara, Perbaungan dan Denai. 

Sejak masa itu kerajaan-kerajaan Melayu di pesisir Sumatera Timur termasuk Batubara berada di bawah kekuasaan Siak. Setiap pengangkatan raja-raja yang baru termasuk Datuk di Batubara haruslah menghadap ke Sultan Siak untuk memperoleh cap yang baru. Untuk mewakili Sultan Siak di Batubara, diangkatlah seorang Bendahara di Bogak.

Pengangkatan para Datuk di wilayah Batubara tidaklah lagi berdasarkan adat Minangkabau di mana para Datuk itu mewakili suku turunan tertentu tetapi Datuk-datuk di Batubara sebagaimana halnya raja-raja di negeri Melayu adalah mengepalai suatu wilayah teritorial tertentu. 

Di daerah Bogak ada dua orang yang memperebutkan hak ini yaitu Datuk Temenggung diakui dan mendapat cap dari Siak dan Datuk Indra Muda mendapat cap dari Yang Dipertuan Besar Pelalawan yang merangkap juga Raja Muda Bogak. Kerana adanya perpecahan itu maka Sultan Asahan campur tangan dan mengusir baik Datuk Temenggung mau pun Datuk Indra Muda dan Bendahara yang mewakili Siak di situ. 

Sultan Serdang kemudian ikut campur pula dan mengangkat Datuk Lima Laras dengan cap dan gelar Datuk Laksamana Putera Raja. Memang keadaan di Batubara masa pertengahan abad kesembilan belas itu agak kacau kerana di Siak sendiri pemerintah agak lemah. Datuk Indra Muda yang diusir Sultan Asahan itu masih berkeinginan menjadi Datuk Bogak sehingga melalui Pengeran Langkat ia minta bantuan Siak memulihkan kedudukan itu di tahun 1862. 

Menurut laporan John Anderson di tahun 1823 itu mesti pun wilayah Batubara diperintah Siak dengan menempatkan wakilnya yaitu Bendahara di Bogak sejak 1804 dan para Datuk menerima pengangkatan dan cap dari Sultan Siak tetapi pada umumnya mereka seolah-olah negeri merdeka. Mereka menerima cukai import dan eksport yang berada di bawah Shahbandar Ahmad. Mereka membuat perjanjian dagang sendiri dengan Inggris dan menghukum serta membuat peraturan sendiri untuk rakyat mereka. 

Di tahun 1823 itu Datuk-datuk di Batubara ialah Datuk Seri Biji Diraja, Che Wang gelar Datuk Semu Wangsa, Wan Noordin bergelar Datuk Paduka Sri Laksamana, Sulaiman bergelar Datuk Seagar Raja. Di bawah Datuk-datuk ini ada dua-puluh orang Penghulu yang mengepalai distrik dan kampung-kampung. Di samping itu ada lagi Temenggung Abdul Latif yang mengepalai Kampung Bogak. 

Menurut Anderson Sungai Bedagai Mati adalah di bawah Batubara, begitu juga Sungai Tanjung dan Pagurawan. Kampung-kampung masa itu yang ada di Sungai Batubara ialah Bagan sebelah kiri, ada 75 buah rumah penduduknya nelayan, menyusul Bogak disebelah kanan, sungai memudik dengan 100 buah rumah, kemudian Kampung, tempat kediaman Datuk dengan 200 buah rumah. Di ketiga buah kampung ini berdiam kebanyakan nakhoda dan anak buah kapal perahu-perahu dagang. Wanita di sini terkenal kerana penenun kain. Sedikit di atas Bagan, sungai terbahagi dua, yang pertama Tanah Datar dan kedua Limapuluh. Di atas Sungai Tanah Datar kita dapati kampung-kampung Permatang, Lahuhan Ruku, Terusan, Pahang, Pelangkai, Padang Ganting, Kampung Panjang, Sejamput, Kelobot, Kelubi, Simpang, Lima Puluh. Di atas Sungai Lima Laras ada Kampung Nibung Angus, Kampung Lalang, Sentang, Pinang, Kedah, Asam Bacang, Pengalai, Raja dan Tanjung Rawa. 

Produksi Batubara umumnya rotan, ikan asin, kuda, kain bertabur, import adalah candu, benang emas, garam, kain berbagai ragam. Penduduk Batubara merupakan pemilik dan anak-buah kapal-kapal yang mengangkut barang-barang dari negeri-negeri Melayu di pantai Sumatera Timur ke Penang dan Melaka. Yang disebut itu kebanyakan penduduknya kaya dan mempunyai kapal-kapal besar. Hamba-hamba orang Batak dari pendalaman diangkut dalam jumlah besar. 

Menurut Syahbandar ada 600 buah kapal besar yang dimiliki Batubara yang setiap kali dipakai dalam perniagaan. Di setiap rumah di Batubara ditemui industri kerajinan tenun dan dieksport ke negeri Melayu di Sumatera dan Malaya . 

Penduduk: Penduduk Melayu berjumlah kira-kira 10,000 orang dan 4,000 orang sebagai perajurit perang. Orang Batak ada di pendalaman dari suku Kataran atau Simalungun. Raja-raja Simalungun memberikan puteri mereka kepada Datuk-datuk Melayu dengan bayaran 300-400 dollar untuk upacara perkahwinan ditambah persembahan 10 sampai 12 orang budak, beberapa ekor kuda dan kerbau. 

Cukai: Batubara adalah ‘free-port’, pelabuhan bebas dan mata-wang berbagai negara dapat dipakai di sini. Sungai Silow merupakan batas Batubara dengan Asahan. 

Kampung Bagan di bawah Penghulu Mohamad masih di bawah Batubara. Dengan bantuan Siak dan Belanda, Datuk Indra Muda mengangkat anaknya, Orang Kaya Abdul Samad sebagai Datuk Bogak. Tetapi Datuk Laksamana Putera Raja dari Lima Laras menentang Belanda. 

Ketika ekspedisi militer Belanda kedua terhadap Asahan dan Serdang yang melawan dilancarkan pada tahun 1865, penyerangan pertama ialah ke Batubara pada tanggal 12 September untuk mencari Datuk Lima Laras yang kemudian diketahui bersembunyi di Serdang. Maka puteranya Orang Kaya Abdullah yang menentang lalu rumahnya dikepung dan setelah perlawanan singkat ia dapat ditangkap dan dibawa ke kapal perang Belanda serta senjata dan rumahnya dibakar Belanda. 

Datuk Laksamana dari Lima Laras diketahui Belanda aktif sebagai perantara antara Sultan Serdang dengan Sultan Asahan dan Inggeris di Penang di dalam menentang penetrasi Belanda ke Sumatera Timur dan pada tanggal 17 September dalam ekspedisi militer Belanda beliau naik kapal meninggalkan Batubara menuju Asahan dan Serdang. 

Di dalam tahun 1882 oleh pemerintah India-Belanda ditetapkanlah batas antara daerah kekuasaan Datuk-datuk di Batubara. Ketika pada tanggal 31hb Mei, 1884 diadakan perjanjian di mana pemerintah India-Belanda mengambil alih hak pajak dan monopoli. Maka kesatuan Shahbandar di Batubara juga dihapuskan. 

Kepada para datuk Tanah Datar, Bogak, Lima Puluh, Lima Laras dan Pesisir diberikan ganti rugi masing-masing sebesar 2,000 guilder setahun sebagai ganti rugi hak yang dimiliki itu dan kepada Datuk Lima Puluh diberikan lagi tambahan ganti rugi sebesar 875 guilder kerana pengambilan alih hak cukai di muara Sungai Gambus dan Telok Piai dan 750 guilder kepada Shahbandar Batubara kerana ia kehilangan hak ambil terhadap cukai di Batubara. Pada tanggal 16 Juli 1889, 11 November 1890 dan 25 Oktober dibuatlah perjanjian dengan kerajaan-kerajaan di Batubara sama seperti bunyinya dengan Kota Pinang. 

Kemudian perjanjian serupa dibuat pula oleh Belanda dengan jajahan Siak iaitu Tanjung, Sipare-pare dan Pagurawan di mana Siak melepaskan haknya atas ketiga daerah kecil ini juga dimasukkan ke dalam Afdeeling Batubara. Tiga daerah Simalungun iaitu Tanah Jawa, Permatang Siantar dan Tanjung Kasau di tahun 1888. 

Jasnis menambahkan, Tahun 1894, Raja Pagurawan, Datuk Setia Wangsa dibuang selama lima tahun ke Bengkalis oleh Belanda dan digantikan puteranya Datuk Setia Maharaja Lela. Begitu juga Raja Tanjung Kasau dijatuhkan Belanda di tahun 1900 digantikan oleh adiknya Raja Maharudin. Adapun gelar Raja-raja di Batubara tahun 1900 ialah Tanah Datar, Datuk Seri Biji Diraja, Bogak, Datuk Indra Muda, Lima Puluh, Datuk Seri Maharaja, Lima Laras, Datuk Maharaja Seri Indera, Pesisir, Datuk Semuawangsa, Tanjung, Datuk Indera Setia, Sipare-pare, Datuk Sutan Pahlawan, Pagurawan, Datuk Setia Maharaja Lela. 

Dengan Beslit 1887 No 21, residen Sumatera Timur dibahagi dalam Lima Afdeeling, antara lain Afdeeling Batubara berkedudukan di Labuhan Ruku di bawah seorang Kontelir Belanda. Kemudian wilayah Batubara juga tidak ketinggalan di buka oleh maskapai asing perkebunan tembakau di tahun 1885. Ada 565 pak meningkat di tahun 1889 menjadi 2,877 pak tembakau. Perkebunan tembakau di tahun 1900 ada 7 buah dan 3 buah perkebunan kopi di Batubara mengingat jejak Deli-Serdang di tahun 1906 dibuka kebun Lima Puluh oleh Deli Batavia Maskapai. 

Dengan Beslit Gabenor-General tahun 1920 beberapa kerajaan di Batubara disatukan dengan yang lain, seperti daerah Tanjung, Sipare-pare, Tanjung Kasau dan Pagurawan disatukan dan dijadikan satu kerajaan bernama Inderapura di mana diangkat oleh Belanda salah seorang pegawainya, seorang bangsawan bernama Tengku Abdullah Seman alias Tengku Busu iaini menandatangani penyataan pendek Korte Verklaring 21.10.1920. 

Begitu juga kerajaan Lima Laras dihapuskan bersama Bogak dan disatukan menjadi sebuah kerajaan Suku Dua. Yang menjadi raja diangkatlah Ahmad Khalil, Datuk Suku Dua yang menandatangani Korte Verklaring tahun 1920. Kerajaan Limapuluh menandatangani Korte Verklaring untuk pertama kali dilakukan oleh Wan Alang, Datuk Maharaja Seri Indera Muda pada tanggal 14.8.1907. Datuk Abdullah, Datuk Lela Wangsa dari Pesisir menandatanganiKorte Verklaring pada tanggal 14.7.1907 dan Tanah Datar pada tanggal 14.8.1907 yang ditandatangani oleh Datuk Sharoni, Seri Indera Diraja. 

Pada bulan Augustus 1930, ahli waris tata kerajaan Lima Laras, OK Abdul Rahim telah berangkat sendiri ke Batavia untuk menuntut kepada Gabenor-General hak atas kerajaan Lima Laras yang dihapuskan dan disatukan Belanda dengan Bogak, iIa tidak berhasil. Pada 19 Juli 1934, ditabalkanlah Datuk Abdul Jalil alias Datuk Abdul Rani menjadi Datuk Pesisir yang baru. Begitu juga pada bulan Juli, 1939, Wan Ingah Mansyur ditabalkan menjadi Datuk Lima Puluh pada tanggal 22 Juli, 1940, Wan Asmayudin pula ditabalkan menjadi Datuk Suku Dua. Suatu gabungan kerajaan yang baru didirikan Belanda di tahun 1927. 

Dari hasil penelitian pemerintahan Belanda yang mengumpulkan bahan-bahan dari sumber setiap kerajaan di Batubara disimpulkan Batubara dihuni oleh pemukim dari Siak. Pada abad ke-17 sukubangsa Karo (Karo Jahe) turun ke wilayah pesisir dan mendirikan urung (negeri) di Langkat, Deli, dan Serdang. Dalam kurun ini juga lahir beberapa kerajaan kecil di pesisir Sumatera Timur.

Salah seorang panglima Sultan Iskandar Muda Aceh bernama Sri Paduka Gocah Pahlawan, bergelar Laksamana Khoja Bintan. Ia menjadi Wali Negara di Deli. Panglima Khoja Bintan berusaha meningkatkan wibawanya untuk memperlancar proses Islamisasi (Melayunisasi) dengan jalan mendekati empat raja urung di Deli yang berasal dari Karo dan beragama Islam.

Ia juga menikah dengan adik Datuk Sunggai, yaitu raja urung yang terkuat pada masa itu. Sebagai hadiah pernikahan, ia diangkat sebagai Panglima Kerajaan Bintan kawasan pesisir Deli dan berdudukan sebagai wakil Aceh. Ia menjadi primus inter pares di antara raja-raja itu. Pada masa pemerintahan putranya, Tuanku Panglima Perunggit, Aceh menjadi lemah, terutama sejak pemerintahan dipegang oleh raja-raja wanita (mungkin mengikuti jejak negeri-negeri di Sumatera Barat).

Kesempatan ini digunakan Deli untuk memproklamasikan kemerdekaannya dari Aceh pada tahun 1699 (Sinar, 1980a). Kemudian Deli berhubungan dengan VOC di Betawi dan Melaka. Pada zaman pemerintahan putra Perunggit, yaitu Tuanku Panglima Paderap, pada awal abad ke-18 terdapat ancaman dari Siak. Pemerintahan Imperium Melayu Riau-Johor mulai lemah di bawah kekuasaan Sultan Mahmudsyah II yang terbunuh pada tahun 1699 (dan diberi gelar Marhum Mangkat Di Julang).

Sejak itu Bendahara Tun Habib Amudi Nadji menjadi raja Johor dan keturunan raja-raja Melaka putus. Peristiwa ini menimbulkan kekacauan yang lebih besar, terutama dengan munculnya Raja Kecil dari Minangkabau melalui Siak yang mengaku dirinya sebagai putra Marhum Mangkat Di Julang. Dia berhasil merebut ibukota Johor dan memproklamasikan dirinya dengan gelar Sultan Djalil Rahmatsyah pada 21 Maret 1717.

Dengan meninggalnya Panglima Paderap di Deli, terjadi perang saudara di antara ke-4 putranya, sehingga putra mahkota (bungsu) terpaksa mengungsi ke wilayah Serdang dan mendirikan Kerajaan Serdang pada tahun 1720, sedangkan kakaknya, Panglima Gandar Wahid menjadi raja di Deli.

Saat pemerintahan putra Gandar Wahid, yaitu Tuanku Amal, Siak menaklukkan Deli (1780), kemudian Amal diangkat menjadi Sultan Panglima Mangedar Alam Deli dengan akta Sultan Siak tertanggal 8 Maret 1814. Sultan Amal pernah ditemui John Anderson yang berkunjung ke Deli pada tahun 1823 (Edinburgh, 1826: 305–306; Sinar, 1970a: 33–47).

Di Serdang, keturunan Tuanku Umar Kejeruan Junjungan melebarkan wilayahnya ke Denai, Perbaungan, Serbajadi, Percut, Padang, Bedagai, dan Senembah, sampai ke pegunungan yang dihuni orang Karo dan Simalungun. Pada zaman cucunya, Sultan Thaf Sinar Basyarsyah (1790–1850), Serdang merupakan kerajaan yang makmur dan tenteram, seperti kesan John Anderson ketika berkunjung ke wilayah tersebut, pada tahun 1823.