Logo Design by FlamingText.com
Logo Design by FlamingText.com

DPD PEKAT INDONESIA BERSATU KABUPATEN ASAHAN

Sebagai bangsa yang besar dengan secara sadar, memiliki rasa tanggung jawab penuh dan turut ikut serta wajib membela dan menegakkan Persatuan dan Kesatuan serta Keutuhan bangsa dan Negara INDONESIA, merupakan bagian dari iman yang dapat diaktualisasikan dalam setiap peran kehidupan bermasyarakat dimanapun kita berada serta merupakan refleksi dari Undang Undang No. 20 Tahun 1982 pasal 2.

MUHAMMAD SYIHABUDDIN

KETUA DPD PEKAT INDONESIA BERSATU KABUPATEN ASAHAN

EFRIANTO RANY

SEKRETARIS DPD PEKAT INDONESIA BERSATU KABUPATEN ASAHAN

DOKUMENTASI

DOKUMENTASI KEGIATAN "DANA DESA UNTUK RAKYAT SEJAGTERA"

AGUS RAMANDA

WAKIL KETUA BIDANG OKK DPD PEKAT INDONESIA BERSATU KABUPATEN ASAHAN

Wednesday, 10 January 2018

Tekanan Pekerjaan, Alasan Meritha Terjun Dari Lantai 10 Apartemen

Ilustrasi Mayat.

Meritha Vridawati, perempuan berusia 26 tahun ini nekat penuh dengan loncat lantai 10 Apartemen Cosmopark, Jakarta Pusat. Usut punya usut, pegawai bank ini stres atas tekanan di tempat kerja.

"Keterangan suami, yang terkait seperti yang ada dalam hal ini. Kami masih dalami lagi," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Raden Prabowo Argo Yuwono di Mapolda Metro Jaya, Senin (8/1).

Kata Argo, saat itu sedang sedang sedang cari itu.

"Dari keterangan yang kita sudah intograsi, yang terkait dengan rumah dan beli bubur, tahu-tahu mau melakukan pencarian tahu-tahu ada di selokan di dekat bank," katanya.

Karena masih suasana duka, penyidik ​​belum lengkap meminta keterangan suami atau perempuan korban.

"Sementara belum ada. Soalnya suami juga masih ngurusi. Belum bisa kami mintakan keterangan lengkap," pungkasnya.

Sebelumnya, seorang wanita bernama Meritha Vridawati (26) Tampilkan nekat melompat dari lantai 10 Apartemen Cosmo Park, Jalan Kebon Kacang Raya, Kebun Melati, Jakarta Pusat. Mayatnya ditemukan dalam keadaan mengenaskan di selokan samping Bank Papua, Jalan Boulevard, Tanah Abang, sekitar pukul 06.00 Wib hari ini.

Kasubag Humas Polres Metro Jakarta Pusat Kompol Suyatno mengatakan, korban adalah pegawai sebuah bank BUMN.

"Dari identitasnya wanita asal Sleman, Yogyakarta ini bunuh diri bunuh diri dengan luka patah tangan kanan, muka dan hidung juga berdarah karena benturan," katanya saat instan, Senin (8/1).


Sumber: merdeka.com

Polisi Akan Panggil 3 Rekan Kerja Meritha Vridawati

Makam Meritha Vridawati.

Pihak kepolisian Tanah Abang akan mendalami motif bunuh diri Meritha Vridawati (26) yang melompat dari lantai 10 Apartemen Cosmo Park. Untuk itu tiga rekan kerja korban akan diperiksa.

"Rencananya kita akan memanggil sekitar tiga orang, diantaranya teman kerjanya ya. Tapi saat ini masih proses untuk dipanggil," kata Kapolsek Tanah Abang AKBP Lukman Cahyono kepada merdeka.com, Selasa (9/1).

Dalam kasus ini, polisi telah memeriksa keterangan suami korban. Yang mana Meritha saat itu ingin resign dari pekerjaannya di sebuah bank BUMN.

"Iya, tapi baru rencana resign. Belum mengajukan surat pengunduran diri," ujarnya.

Sebelumnya, seorang wanita bernama Meritha Vridawati (26) diduga nekat melompat dari lantai 10 Apartemen Cosmo Park, Jalan Kebon Kacang Raya, Kebun Melati, Jakarta Pusat. Mayatnya ditemukan dalam keadaan mengenaskan di selokan samping Bank Papua, Jalan Boulevard, Tanah Abang, sekitar pukul 06.00 WIB hari ini, Senin (8/1).

Kasubag Humas Polres Metro Jakarta Pusat Kompol Suyatno mengatakan, korban merupakan pegawai sebuah bank BUMN. "Dari identitasnya wanita asal Sleman, Yogyakarta ini diduga tewas bunuh diri dengan luka patah tangan kanan, muka dan hidung juga berdarah karena benturan," katanya saat dikonfirmasi, Senin (8/1).


Sumber: merdeka.com

Ini Penjelasan KPK Tetapkan Dokter RS Medika & Fredrich Yunadi Tersangka

KPK tetapkan Fredrich Yunadi sebagai tersangka.

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) resmi menetapkan tersangka eks kuasa hukum Ketua DPR RI nonaktif Setya Novanto, Fredrich Yunadi dan dokter yang merawat Setya Novanto di RS Medika Permata Hijau, Jakarta Barat, Bimanesh Sutarjo.

"KPK telah menemukan bukti yang cukup sengaja mencegah dan atau tidak langsung penyidikan dalam pengadaan proyek e-KTP. KPK meningkatkan tersangka sejalan dengan dua orang tersangka yaitu FY (Fredrich Yunadi) kemudian BST (Bimanesh Sutarjo) adalah seorang dokter," kata Wakil Ketua KPK, Basaria Panjaitan di Gedung KPK, Rabu (10/1).

Basaria menjelaskan konstruksi kejadian terkait Fredrich Yunadi dan Bimanesh. Mereka berdua, kata Basaria, diduga memasukkan tersangka kasus proyek e-KTP, Setya Novanto ke RS Media Permata Hijau.

"FY dan BST diduga untuk memasukkan SN ke salah satu RS untuk rawat inap dengan data medis dimanipulasi untuk hindari panggilan dan riksa penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi ke SN," kata Basaria.

Saat itu, pada 15 November 2017 Setya Novanto akan diperiksa oleh di KPK namun tidak hadir. Kemudian pada Rabu, 16 November 2017, pukul 21.00 tim mendatangi rumah Novanto di Jalan Wijaya, Kebayoran baru dan menggeledah dan membawa surat perintah.

"SN enggak ada ditempat, dilakukan pencarian sampai 02.50 WIB. Enggak ditemukan sampai pagi, Komisi Pemberantasan Korupsi imbau SN serahkan diri ke Komisi Pemberantasan Korupsi, lalu Kamis 16 November 2017, Komisi Pemberantasan Korupsi terbitkan DPO, surati polri melalui interpol," ungkap Basari.

Malam hari, kata Basaria, pihaknya mendapatkan info, Setya Novanto kecelakaan. Dan dibawa ke RS Permata Hijau. Di RS, kata Basaria, Novanto tidak dibawa ke ruang IGD tetapi malah langsung dibawa ke rawat inap VIP.

"Sebelum dirawat, FY diduga sudah datang lebih dulu untuk koordinasi dengan RS," kata Basaria.

Bimanesh tersebut, kata Basaria, diduga sudah ditelepon sebelumnya oleh Fredrich. Dalam percakapan Fredrich mengabarkan kliennya akan dirawat pada pukul 21.00 WIB.

"Dokter di RS, diduga dapat telepon dari terduga pengacara SN akan dirawat pukul 21.00, rencana akan booking ruang vip satu lantai," ungkap Basaria.

Atas tindakannya Fredrich dan Bimanesh dijerat melanggar Pasal 21 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.


Sumber: merdeka.com

Misteri Tewasnya Pegawai BRI di Jakarta Pusat


Meritha Semasa Hidup


Meritha Vridawati, perempuan berparas cantik berusia 26 tahun ini tewas mengenaskan. Jasadnya ditemukan di selokan samping Bank Papua, Jalan Boulevard, Tanah Abang, Senin (8/1) sekitar pukul 06.00 Wib.

Mendiang Meritha menderita luka patah tangan kanan, kemudian di wajah dan hidungnya mengeluarkan darah cukup banyak akibat benturan.

Kasubag Humas Polres Metro Jakarta Pusat Kompol Suyatno mengatakan korban tewas usai loncat dari lantai 10 Apartemen Cosmo Park, Jalan Kebon Kacang Raya, Kebun Melati, Jakarta Pusat.

Suyatno menjelaskan, kejadian bermula ketika saksi bernama Cahyono (43) ngobrol dengan rekannya M Ali (53) di pos jaga apartemen. Namun, ketika sedang asyik berbincang terdengar suara yang sangat kencang.

"Tiba-tiba mereka mendengar teriakan dan melihat benda terjatuh serta suara benturan dari arah lantai 10 Apartemen Cosmo Park tepatnya di depan Bank Papua. Saat dicek rupanya orang bunuh diri," jelasnya.

Sementara itu, menurut keterangan suami korban, mendiang Meritha sebelumnya pamit untuk membeli bubur.

"Dari keterangan suaminya sudah kami intograsi, yang bersangkutan meninggalkan rumah dan beli bubur, tahu-tahu mau lakukan pencarian tahu-tahu ada di selokan di dekat bank," ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Raden Argo Prabowo Yuwono.

Kepada polisi, suami korban menyebut istrinya tengah dalam tekanan pekerjaan. "Keterangan suami, yang bersangkutan seperti mengalami kelebihan beban dalam bekerja. Ini untuk sementara itu motifnya. Kami masih dalami lagi," tuturnya.

Sayangnya, keterangan suami korban tidak lantas dipercaya keluarganya. Kakak ipar korban, Sintya Destiana mengatakan keluarga tidak percaya Meritha nekat bunuh diri karena masalah pekerjaan.

"Adik ipar saya bukan orang yang negatif. Insya Allah, salatnya rajin. Dia juga selalu percaya kok kalau Allah itu maha baik dan memberikan solusi dari setiap permasalahan. Dan solusinya bukan bunuh diri," ujar Sintya usai pemakaman Meritha, Selasa (9/1).

Sintya menerangkan, Meritha bukanlah orang yang tertutup. Meritha juga merupakan sosok yang ramah, ceria dan senang bercerita.

"(Keluarga) yakin berita di internet enggak benar. Isi beritanya kurang mengenakkan. Insya Allah (Meritha) bukan mati karena bunuh diri," terang Sintya.

Senada dengan Sintya, Andamawijaya Bakti Saputra, salah satu sahabat Meritha menegaskan jika temannya itu bukan tipe orang gampang menyerah.

"Tatha itu orangnya rajin beribadah dan gak gampang menyerah. Orangnya juga terbuka dan kalau sedang ada masalah selalu cerita ke teman-teman. Bukan tipikal orang yang tertutup dan kalau ada masalah dipendam. Bahkan masalah pribadi juga kerap diceritakan," urai Putra.

Putra menambahkan selama tinggal di Jakarta, Meritha masih kerap berkomunikasi dengan teman-temannya saat sekolah di SMA 6 Yogyakarta dulu. Terutama, kata Putra, dengan teman-teman SMA yang sama-sama kerja di Jakarta.

"Ya agak aneh saja kalau diberitakan bunuh diri. Kami teman-teman (SMA) Tatha gak percaya kalau meninggalnya karena bunuh diri. Kami berharap pihak kepolisian bisa mengusut kasus ini hingga tuntas," tutup Putra.

Desakan itupula yang diminta pihak keluarga kepada Kepolisian.

Polisi panggil rekan kerja Meritha

Pengusutan kasus tersebut kini menyasar kepada tiga rekan kerja Meritha.

"Rencananya kita akan memanggil sekitar tiga orang, diantaranya teman kerjanya ya. Tapi saat ini masih proses untuk dipanggil," kata Kapolsek Tanah Abang AKBP Lukman Cahyono kepada merdeka.com.

Lukman mengatakan Meritha baru berniat resign dari Bank pelat merah tersebut.

"Iya, tapi baru rencana resign. Belum mengajukan surat pengunduran diri," ujarnya.


Sumber: merdeka.com

Tuesday, 9 January 2018

TIANG LISTRIK Kena Seruduk Truk Rem Blong di Temanggung


Truk box New Armada bermuatan komponen mobil, menyeruduk pohon dan tiang listrik di jalan raya Rujak Asem, tepatnya di depan TPK Bejen, Selasa (09/01/2018).

Kapolres Temanggung Polda Jateng AKBP Wiyono Eko Prasetyo melalui Kapolsek Bejen AKP Taryanto menerangkan, berdasarkan keterangan yang dihimpun petugas di lapangan, kecelakaan tunggal tersebut terjadi karena rem truk yang dikemudikan oleh Muh Ikhsan (42) tersebut tidak berfungsi dengan baik.

“Kecelakaan tersebut terjadi sekitar pukul 06.30 Wib, dikarenakan rem blong kemudian pengemudi truk dengan Nopol AA-1309-HB tersebut langsung membanting setir ke kiri, kemudian truk tersebut menabrak tiang listrik dan pohon sebelum berhenti,” terang Taryanto.

Sumiyati (40) salah satu saksi mengatakan, kejadian itu terjadi begitu cepat, ia terdengar suara benturan yang keras setelah dilihat truk sudah nyungsep di pohon.

“Waktu itu saya sedang diladang, saya kaget mendengar suara benturan itu, kemudian saya langsung lari, sesampainya di tempat kecelakaan komponen mobil yang dibawa truk itu sudah berhamburan di ladang,” kata Sumiyati.

Lebih lanjut Taryanto mengatakan, tidak ada korban jiwa dalam kejadian terssebut, namun sopir dan kernet Truk mengalami luka lecet pada bagian kaki dan wajah saja.

“Truk tersebut membawa komponen mobil dari Magelang dan akan dikirim ke Bekasi,” lanjut Taryanto.

Taryanto berpesan kepada seluruh pengemudi yang akan melakukan perjalanan jauh agar selalu mengecek kondisi mobil sebelum berangkat, agar kendaraan dalam kondisi yang prima.

“Selalu persiapkan kendaraan anda sebelum berangkat, jangan lupa dengan kelengkapan administrasi surat kendaraan anda, beristirahatlah apabila lelah, budayakan keselamatan sebagai kebutuhan, karena keluarga anda menanti di rumah,” pungkas Taryanto.


Sumber: OtoritasNews

Polres Mentawai Gandeng Pekat IB Ciptakan Kamtibmas


Dalam rangka menciptakan kondisi Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Kamtibmas) di Kabupaten Kepulauan Mentawai, Polres setempat akan menggandeng ormas Pembela Kesatuan Tanah Air Indonesia Bersatu (Pekat IB) Mentawai.

Hal itu dikemukakan oleh Kapolres Mentawai AKBP Hendri Yahya SE, di hadapan sejumlah pengurus DPD Pekat IB Mentawai di ruang kerjanya, Rabu (10/1/2018).

“Kita akan bekerja sama dengan ormas-ormas yang ada di Kabupaten Kepulauan Mentawai ini untuk kegiatan Kamtibmas. Selain itu, kita juga akan terus berkoordinasi dengan stakeholder terkait dan para tokoh agama dan pemuda,” ungkapnya

Ia menyebutkan kegiatan sosialisasi ini akan dijadikan sebagai agenda rutin Polres Mentawai yaitu dua kali dalam seminggu, yakni hari Jumat sosialisasi dilakukan di masjid usai sholat Jumat dan hari Minggu sosialisasi dilakukan di gereja usai ibadah Minggu.

Dikatakannya, kegiatan tersebut dilaksanakan di beberapa gereja atau masjid di Kepulauan Mentawai secara bergilir dan melibatkan para pemuka agama, sehingga pesan keamanan tersebut bisa langsung sampai kepada masyarakat.

Sejumlah pesan yang disampaikan, lanjut Kapolres, yakni tentang penyalahgunaan narkoba dan segala bentuk tindakan yang dapat mengganggu ketertiban umum dan untuk segera dilaporkan.

Sementara itu untuk mencegah secara dini penyalahgunaan narkoba di tingkat pelajar pihaknya juga melakukan sosialisasi dibeberapa sekolah SMP dan SMA di seluruh daerah Kepulauan Mentawai.

Sementara itu di sejumlah daerah Kecamatan kata Hendri pihaknya telah mengintruksikan jajaran Polisi Sektor (Polsek) setempat untuk melakukan sosialisasi serupa di kalangan masyarakat dan pelajar.

Ketua Pekat IB Mentawai Suharman dalam diskusi ringan, rangka silaturahmi itu mengatakan pihaknya sebagai Ormas sangat berharap kerja sama dalam hal keamanan di wilayah nusantara ini.

Ia beranggapan saat ini sasaran para pengedar lebih kepada generasi yang masih labil di tingkat pelajar. Untuk itu ia meminta kepada petugas Kepolisian bersama Pekat IB melakukan sosialisasi tentang bahaya narkoba dikalangan pelajar.

“Sebagai ormas, kami sangat mendukung kegiatan Polres, dan kalau ada kesempatan kita bisa melakukan kegiatan sosialisasi tentang bahaya narkoba di tingkat pelajar,” ungkapnya.

Ia berharap dari kegiatan tersebut bisa mencegah dan menekan peredaran narkoba, dan masyarakat akan merasa lebih nyaman dan aman dalam melaksanakan aktivitas sehari-hari.


Sumber: OtoritasNews

Deal Politik PDIP dan PPP "Selamatkan" Djarot di Pilgub Sumut


Djarot Saiful Hidayat akhirnya mampu bernapas lega. Kekurangan empat kursi di Pilgub Sumut telah diisi oleh PPP. Dengan demikian, Djarot dan pasangannya Sihar Sitorus telah mendapatkan tiket maju Pilgub Sumut.

PPP awalnya menolak. Namun setelah dilakukan pertemuan antara Ketum PPP Romahurmuziy dan Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri, menghasilkan kata sepakat keduanya untuk melakukan koalisi.

Apa deal politik antara PDIP dan PPP di Pilgub Sumut?

Sekjen PPP Arsul Sani mengatakan, sejumlah kesepakatan memang telah dilakukan antara partainya dengan PDIP. Salah satunya, PDIP tak jadi dukung Ridwan Kamil di Pilgub Jabar, sehingga kader PPP Uu Ruzhanul Ulum bisa maju dampingi Ridwan.

"Sumut menjadi dinamika terakhir di PPP karena di satu sisi PPP dengan PDIP sepakat di Jateng di mana PPP dapat posisi cawagub. Di Jabar sepakat artinya PDIP tidak ikut dalam koalisi mengusung RK, untuk itu PPP dapat posisi cawagub. Itu bagian kesepakatan," kata Arsul di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (10/1).

Di Sumut, PDIP yang memiliki 16 kursi DPRD, membutuhkan dukungan PPP yang memiliki 4 kursi untuk menggenapi syarat 20 kursi mengajukan pasangan calon gubernur dan wakil gubernur. Jika PPP menolak mendukung, dipastikan PDIP tidak bisa mengajukan pasangan calon karena partai yang lain telah memiliki calon masing-masing.


Sumber: merdeka.com

5 Tokoh paling disorot selama 2017

Basuki Tjahaja Purnama.

Beragam peristiwa telah mewarnai tahun 2017. Mulai aksi yang bikin kagum sampai kasus yang buat geleng-geleng kepala. Sentimen warga pun dibuat naik turun akibat polemik sepanjang tahun ini.

Rentetan aksi tersebut membuat tokoh terkait jadi sorotan dan diperbincangkan. Ada yang mendapat pujian, ada juga menuai cercaan akibat perilakunya.

Berikut lima tokoh pilihan redaksi merdeka.com yang jadi sorotan sepanjang 2017. Mereka yang disorot karena segudang prestasi maupun sikap kontroversialnya.

1. Novel Baswedan
Novel Baswedan di Mata Najwa

Nama penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ini disoroti publik setelah menjadi korban penyiraman air keras oleh orang tak dikenal pada 11 April 2017. Peristiwa mengenaskan itu terjadi usai Novel menunaikan salat subuh di masjid dekat rumahnya. Akibatnya, kedua mata Novel mengalami luka berat dan harus menjalani operasi.

Diduga, penyiraman itu terkait kasus mega korupsi yang sedang ditangani Novel di KPK. Delapan bulan lebih berlalu, kasus penyiraman air keras itu belum menemukan titik terang. Polisi belum bisa mengungkap siapa pelakunya.

Desakan dari komisioner KPK pun terus mengalir. Mereka meminta pemerintah agar membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) kasus Novel. Namun, pemerintah belum berani mengambil sikap.

"Nanti Kapolri saya undang, saya panggil. Yang jelas, semua masalah harus gamblang dan jelas," kata Presiden Jokowi menjawab desakan pembentukan TGPF Novel.

Sementara Wakil Presiden Jusuf Kalla meyakini Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian bisa mengusut kasus penyiraman tersebut. Karena itu, menurut dia, TGPF belum perlu dibentuk.

Saat ini, Novel masih menjalani perawatan kedua matanya. Informasi terakhir, Novel akan menjalani operasi mata tahap dua pada Januari 2018.

2. Susi Pudjiastuti
Gaya Menteri Susi

Siapa yang tidak mengenal nama Susi Pudjiastuti. Menteri Kelautan dan Perikanan ini jadi sorotan internasional karena kebijakannya meledakkan kapal-kapal pencuri ikan di lautan Indonesia. Pelbagai pujian dituai Susi karena kegigihannya memberantas penangkapan ikan ilegal.

Setelah dilantik oleh Presiden Joko Widodo pada 27 Oktober 2014, Susi memang getol menyerang penangkap ikan ilegal. Dia tidak segan-segan memerintahkan bawahannya untuk menenggelamkan kapal-kapal bermasalah tersebut.

Sepanjang 2016 saja, Susi sudah berhasil menenggelamkan 236 kapal asing maupun lokal yang melakukan pencurian ikan di perairan Indonesia. Tak hanya itu, saat ini, Susi mendorong masyarakat untuk mengonsumsi ikan setiap hari.

Susi juga meyakini, Indonesia bisa merajai pasar ikan hias di dunia mengalahkan Singapura. Keyakinan ini didukung jumlah ekspor ikan hias Indonesia ke sejumlah negara yang semakin meningkat.

"Masa negara yang lebih 100 kali dari Singapura, pemasarannya harus bergantung pada negara yang 100 kali lebih kecil dari kita," kata Susi.

3. Gatot Nurmantyo
Gatot Nurmantyo bertemu prajurit Kopassus

Mantan Panglima TNI, Jenderal Gatot Nurmantyo sempat mengungkap rencana pengadaan 5.000 pucuk senjata oleh institusi non militer. Sikap Gatot ini langsung menuai polemik. Institusi Polri bahkan merasa tersindir dengan pernyataan Gatot.

Di saat inilah, hubungan antara Gatot dan Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian mulai tak harmonis. Namun, Gatot tak mau ambil pusing.

Setelah polemik pengadaan ribuan senjata itu semakin memanas, sejumlah menteri dan pimpinan lembaga langsung menggelar rapat koordinasi.Presiden Joko Widodo pun langsung turun tangan. Kepala Negara memanggil Gatot seusai melakukan kunjungan kerja dari Bali. Namun, Jokowi tidak ingin membeberkan hasil pertemuan keduanya.

Dua bulan berlalu, Presiden Jokowi kemudian memberhentikan Gatot secara terhormat dari jabatan Panglima TNI berdasarkan Surat Keputusan Presiden Nomor 83 Tahun 2017 tentang Pemberhentian dan Pengangkatan Panglima TNI. Posisi itu kemudian diisi oleh Marsekal Hadi Tjahjanto.

4. Basuki Tjahaja Purnama ( Ahok)
Basuki Tjahaja Purnama

Mantan Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) kini mendekam di penjara. Ahok divonis dua tahun penjara karena terbukti bersalah melakukan penodaan agama dengan pernyataannya soal Surah Al Maidah 51 saat berkunjung ke Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu.

Kasus penodaan agama ini tidak hanya disoroti nasional tapi juga internasional. Sejumlah media asing ikut menurunkan tulisan soal kasus tersebut. Misalnya Kantor Berita Reuters mengunggah tulisan berjudul "Jakarta's Christian Governer Jailed for Blasphemy Againts Islam". Tulisan ini fokus pada vonis 2 tahun yang diterima Ahok.

Bergulirnya kasus ini tidak lepas dari Pilkada DKI Jakarta 2017. Saat itu, Ahok adalah petahana yang bertarung di Pilkada DKI berpasangan dengan Djarot Saiful Hidayat. Ahok melawan dua pasangan lain yakni Anies Baswedan- Sandiaga Uno dan Agus Harimurti Yudhoyono- Sylviana Murni.

Hasil perhitungan KPU DKI, kontestasi Pilkada tersebut dimenangkan oleh pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno dengan perolehan suara 3.240.987. Sementara pasangan Ahok-Djarot hanya meraih 2.350.366 suara.

Karena masa jabatan Ahok sebagai Gubernur DKI akan berakhir pada Oktober 2017, maka dia masih menjalankan tugas sebagaimana mestinya. Namun belum selesai masa jabatan, Ahok harus menerima vonis dua tahun penjara dan langsung ditahan di Mako Brimob, Jakarta Timur. Tepatnya pada 9 Mei 2017, Ahok mulai menjalani hukumannya.

5. Setya Novanto
Sidang Setya Novanto

Setya Novanto menarik perhatian publik berkali-kali. Bukan karena prestasinya sebagai ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), namun karena terbelit kasus hukum.

Nama mantan Ketua Umum Partai Golkar ini mulai mencuat saat kasus hak tagih piutang Bank Bali. Kasus yang bergulir sejak 2001 itu mengakibatkan kerugian negara sekitar Rp 1 triliun. Tak hanya itu, Setya Novanto juga diduga terlibat kasus penyelundupan beras impor dari Vietnam.

Beberapa tahun kemudian, Setya Novanto kembali diseret. Namun, dalam kasus berbeda yakni kasus suap pembangunan venue PON Riau 2012. Saat itu, KPK menggeledah ruangan Setya Novanto di Senayan.

Pada tahun 2015, Setya Novanto kembali disoroti karena terlibat kasus Papa Minta Saham atau pemufakatan jahat dalam perpanjangan kontrak PT Freeport Indonesia. Dalam kasus ini, Setnov sapaan akrabnya diduga mencatut nama Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Jusuf Kalla guna memuluskan keinginannya mendapat jatah saham PT Freeport Indonesia.

Di puncak bergulirnya kasus ini, Setya Novanto mengundurkan diri dari Ketua DPR sebelum Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) menjatuhkan sanksi. Namun, setelah Mahkamah Konstitusi menjatuhkan putusan atas uji materi UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik maka secara otomatis membebaskan Setnov dari kasus tersebut.

Usai mendapat putusan itu, Setnov merebut kembali kursi Ketua DPR yang saat itu diisi Ade Komarudin. Pada tahun 2017, Setya Novanto lagi-lagi jadi perbincangan. Kali ini diduga kuat terlibat kasus e-KTP. Pada 17 Juli 2017, Komisi Pemberantasan Korupsi menetapkan Setnov sebagai tersangka korupsi e-KTP namun status tersangka itu dinyatakan tidak sah setelah Hakim Cepi Iskandar mengabulkan gugatan praperadilan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Sampai pada 31 Oktober 2017, KPK menerbitkan sprindik atas nama tersangka Setnov selaku Ketua DPR. Beberapa hari kemudian, KPK melakukan penangkapan secara paksa di kediamannya karena selama empat kali Setnov tidak menghadiri pemanggilan KPK. Namun, saat itu Setnov berhasil melarikan diri.

16 November 2017, Setnov dikabarkan mengalami kecelakaan. Mobil Fortuner B 1732 ZLQ yang ditumpangi Setnov menabrak tiang listrik di Jalan Permata Berlian. Pria kelahiran Bandung itu sempat dirawat di dua Rumah Sakit akibat kecelakaan itu, yakni RS Medika Pertama Hijau dan RSCM.

Akhirnya pada 20 November 2017, KPK menahan Setnov. Pekan lalu, dia masih menjalani sidang eksepsi kasus korupsi e-KTP.


Sumber: merdeka.com

Anggota Polisi Larikan Uang Rp. 10 M


Polda Kalimantan Selatan tangkap polisi yang membawa kabur uang Rp 10 M.


Kabid Humas Polda Kalimantan Selatan, AKBP M. Rifai mengatakan kejadian seperti itu sudah direncanakan oleh pelaku untuk menggasak uang milik kas Bank Mandiri. Kejadian awal ini sekitar pukul 06.30 WITA, Gugum menjemput pelaku (Jumadi) dirumahnya untuk melakukan pengawalan pengawalan pengambilan uang di Kantor Bank Mandiri Cabang Banjarmasin.

"Lalu jam 07.30 WITA pelaku kontak anggota Polres Tabalong untuk pinjam pakai senjata api dan ijin tidak akan timbul karena akan terjadi giat pengawalan bank," kata Rifai melalui keterangan tertulis kepada merdeka.com, Jumat (5/1).

Kemudian, sekitar pukul 08.00 WITA pelaku dan korban mulai perjalanannya dari Polres Tabalong, setelah menggunakan senjata api dan menuju Banjarmasin dengan menggunakan mobil merk Toyota Avanza warna hitam bernomor polisi DS 1182 KE.

"Sekitar jam 13.00 WITA tiba di Bank Mandiri Cabang Banjarmasin, Jalan Pangeran Samudera. Kemudian korban Atika dan Gugum masuk ke dalam bank mengambil uang pecahan Rp 100 ribu sebanyak Rp 6 milyar, pecahan Rp 50 ribu sebanyak Rp 4 miliar dan pecahan USD 100 sebanyak USD 25.000, "ujarnya.

Setelah mengambil uang, sekitar pukul 13.30 WITA, mereka pun menuju Tabalong dan untuk mampir makan siang di rumah makan Wong Solo, sekitar bundaran Banjarbaru. Tapi sebelumnya pelaku (Jumadi) untuk makan di Soto Anang Martapura, namun keputusan di rumah makan Wong Solo.

"Jam 14.30 WITA, selesai makan siang dan pada saat akan persiapan naik mobil tiba-tiba bergabung pelaku (X) identitas dalam lidik yang menumpang dan rencana akan mengambil sesuatu di Martapura sehingga mobil ke Polsek Martapura Kota, kemudian di persimpangan Polsek belok kiri dan Selanjutnya belok kiri, "jelasnya.

"Dan ketika di lokasi yang agak sepi pelaku oknum anggota Jumadi menodong sopir sodara Gugum dengan senpi dinas dan pelaku kedua (X) ancam sodari Atika seakan-olah pakai senpi karena mengikuti kalimat; 'turuti saja perintah Jumadi kalau tidak saya bolongin kaki kamu' dengan logat Tabalong yang kental, "sambungnya.

Selanjutnya, kedua korban diikat, Gugum diikat dengan borgol, dilakban mata dan mulutnya Atika kedua tangan, kaki, mata dan mulut di lakban. Kemudian Gugum diperintahkan untuk pindah ke kursi samping pengemudi dan Jumadi yang mengemudikan mobil tersebut.

"Korban sempat beberapa kali melihat lewat celah lakban itu kendaraan terbang menuju Banjarmasin karena lewat bandara dan melalui bundaran Liang Anggang juga pendengarnya yang melintas," ucapnya.

"Korban juga beberap kali baca kegiatan para para tetangga sekitar 15 menit setelah bergerak ke arah Banjarmasin pelaku turun keluar dari mobil, kemudian obrolan telp pelaku oknum anggota yang beberapa kali menyatakan tempat yang ramai dan usang beberapa kali mengeluarkan uang dari bagasi belakang yang nampak pindah ke kendaraan lain, "tandasnya.


Sumber: merdeka.com

Menteri Susi Tenggelamkan Kapal, Dipuji Jokowi Tapi Dilarang Luhut & JK

Ilustrasi

Tak kurang dari 350 kapal asing pencuri ikan telah ditenggelamkan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti. Kebijakan itu dipuji Presiden Jokowi, namun Menko Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan dan Wapres Jusuf Kalla justru meminta penenggelaman kapal ini dihentikan.

Berkali-kali Presiden Jokowi memuji Susi di depan forum. Dia menilai Susi menyelamatkan hasil laut Indonesia dan membuat nelayan Indonesia tak cuma menonton kapal-kapal asing beraksi mencuri ikan di laut Nusantara.

"Berapa puluh tahun kita diamin saja sebanyak 7.000-8.000 kapal lalu lalang ambil ikan," kata Presiden.

Sikap diam itu menurut Presiden ketujuh itu apakah karena sudah mengerti, atau mengerti tapi diam atau memang tidak mengerti.

"Untung kita punya Menteri Susi yang tenggelamin kapal itu. Kalau dibiarkan terus-menerus habis, yang kena siapa, nelayan kita," kata Jokowi di Manado bulan November lalu.

Sementara Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) menilai bahwa kebijakan penenggelaman kapal pencuri ikan sudah cukup dilakukan. Menurutnya, kapal-kapal yang ditangkap dapat dilelang atau dipergunakan kembali, sehingga negara bisa mendapat pemasukan. Mengingat saat ini dibutuhkan kapal-kapal penangkap ikan.

"Cukup (penenggelaman kapal), tinggal supaya begini kita butuh kapal, jangan di lain pihak membeli kapal, di lain pihak banyak kapal yang nongkrong, kita kondisi begitu di sampaikan kepada Menteri Kelautan, kita butuh kapal, ekspor kita turun, ekspor ikan tangkap, di lain pihak banyak kapal nganggur," kata JK.

Sementara Menteri Luhut mengatakan, penenggelaman kapal sudah cukup dilakukan sehingga saat ini pemerintah seharusnya fokus meningkatkan produksi agar ekspor juga bisa meningkat. Dia juga meminta agar penangkaran dan budi daya perikanan bisa ditingkatkan demi mendorong volume ekspor.

Sesuai arahan Presiden Jokowi, dia ingin investasi termasuk di sektor perikanan bisa dilakukan dengan memperhatikan tiga syarat, yakni harus menggunakan teknologi ramah lingkungan, mempekerjakan tenaga kerja lokal dan harus bisa bergerak dari hulu ke hilir serta dilakukan transfer teknologi.

Sementara Menteri Susi menegaskan, penenggelaman kapal asing yang selama ini dilakukan untuk memutus mata rantai pencurian ikan di perairan Indonesia. Penenggelaman tersebut juga tercantum pada Undang-Undang Perikanan Nomor 45 Tahun 2009. Menurut Susi, penenggelaman kapal bukan semata-mata kehendak dari Presiden atau Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Menurutnya, kapal asing yang datang ke Indonesia jumlahnya mencapai ribuan. Menteri Susi menduga banyaknya kapal asing yang masuk karena ada kerja sama dengan beberapa oknum nakal di Indonesia. Sebab hal tersebut tak mungkin terjadi apabila tidak saling kerja sama.

Dia mengaku bahwa menghentikan pencurian ikan itu tidak mudah. Namun dirinya tidak menyerah untuk terus melakukan hal tersebut. Apalagi Presiden Jokowi juga berkomitmen untuk memberantas pencurian ikan di perairan Indonesia.

Meski begitu, beberapa orang tidak setuju dengan cara penenggelaman kapal asing tersebut. Menurutnya, sebagian orang mencoba menghalangi dengan menganggap bahwa penenggelaman melanggar hukum internasional.

"Di awal ada perwira TNI, ada pengamat militer ada ekonom yang bahkan discourage (mencoba menghalangi) apa yang kita lakukan. 'Menteri Susi sekolah pun tidak, tidak tahu bahwa dia melanggar hukum internasional'. Saya jawab saja dengan bodoh juga, saya bilang 'melawan hukum internasional memang pencurian ikan dilindungi di hukum internasional, tidak. Apakah pencurian ikan bagian dari good relationship. bilateral antara dua negara. Pasti tidak. sebodoh-bodohnya saya, saya mengerti hukum itu untuk benar bukan untuk hal yang tidak benar," jelasnya.


Sumber: merdeka.com

Friday, 5 January 2018

Kronologi Brigadir Jumadi rampok Rp 10 M saat kawal kas Bank Mandiri

 
Polda Kalimantan Selatan tangkap polisi yang membawa kabur uang Rp 10 M.

Kabid Humas Polda Kalimantan Selatan, AKBP M. Rifai mengatakan kejadian seperti itu sudah direncanakan oleh pelaku untuk menggasak uang milik kas Bank Mandiri. Kejadian awal ini sekitar pukul 06.30 WITA, Gugum menjemput pelaku (Jumadi) dirumahnya untuk melakukan pengawalan pengawalan pengambilan uang di Kantor Bank Mandiri Cabang Banjarmasin.

"Lalu jam 07.30 WITA pelaku kontak anggota Polres Tabalong untuk pinjam pakai senjata api dan ijin tidak akan timbul karena akan terjadi giat pengawalan bank," kata Rifai melalui keterangan tertulis kepada merdeka.com, Jumat (5/1).

Kemudian, sekitar pukul 08.00 WITA pelaku dan korban mulai perjalanannya dari Polres Tabalong, setelah menggunakan senjata api dan menuju Banjarmasin dengan menggunakan mobil merk Toyota Avanza warna hitam bernomor polisi DS 1182 KE.

"Sekitar jam 13.00 WITA tiba di Bank Mandiri Cabang Banjarmasin, Jalan Pangeran Samudera. Kemudian korban Atika dan Gugum masuk ke dalam bank mengambil uang pecahan Rp 100 ribu sebanyak Rp 6 milyar, pecahan Rp 50 ribu sebanyak Rp 4 miliar dan pecahan USD 100 sebanyak USD 25.000, "ujarnya.

Setelah mengambil uang, sekitar pukul 13.30 WITA, mereka pun menuju Tabalong dan untuk mampir makan siang di rumah makan Wong Solo, sekitar bundaran Banjarbaru. Tapi sebelumnya pelaku (Jumadi) untuk makan di Soto Anang Martapura, namun keputusan di rumah makan Wong Solo.

"Jam 14.30 WITA, selesai makan siang dan pada saat akan persiapan naik mobil tiba-tiba bergabung pelaku (X) identitas dalam lidik yang menumpang dan rencana akan mengambil sesuatu di Martapura sehingga mobil ke Polsek Martapura Kota, kemudian di persimpangan Polsek belok kiri dan Selanjutnya belok kiri, "jelasnya.

"Dan ketika di lokasi yang agak sepi pelaku oknum anggota Jumadi menodong sopir sodara Gugum dengan senpi dinas dan pelaku kedua (X) ancam sodari Atika seakan-olah pakai senpi karena mengikuti kalimat; 'turuti saja perintah Jumadi kalau tidak saya bolongin kaki kamu' dengan logat Tabalong yang kental, "sambungnya.

Selanjutnya, kedua korban diikat, Gugum diikat dengan borgol, dilakban mata dan mulutnya Atika kedua tangan, kaki, mata dan mulut di lakban. Kemudian Gugum diperintahkan untuk pindah ke kursi samping pengemudi dan Jumadi yang mengemudikan mobil tersebut.

"Korban sempat beberapa kali melihat lewat celah lakban itu kendaraan terbang menuju Banjarmasin karena lewat bandara dan melalui bundaran Liang Anggang juga pendengarnya yang melintas," ucapnya.

"Korban juga beberap kali baca kegiatan para para tetangga sekitar 15 menit setelah bergerak ke arah Banjarmasin pelaku turun keluar dari mobil, kemudian obrolan telp pelaku oknum anggota yang beberapa kali menyatakan tempat yang ramai dan usang beberapa kali mengeluarkan uang dari bagasi belakang yang nampak pindah ke kendaraan lain, "tandasnya.