Logo Design by FlamingText.com
Logo Design by FlamingText.com

DPD PEKAT INDONESIA BERSATU KABUPATEN ASAHAN

Sebagai bangsa yang besar dengan secara sadar, memiliki rasa tanggung jawab penuh dan turut ikut serta wajib membela dan menegakkan Persatuan dan Kesatuan serta Keutuhan bangsa dan Negara INDONESIA, merupakan bagian dari iman yang dapat diaktualisasikan dalam setiap peran kehidupan bermasyarakat dimanapun kita berada serta merupakan refleksi dari Undang Undang No. 20 Tahun 1982 pasal 2.

MUHAMMAD SYIHABUDDIN

KETUA DPD PEKAT INDONESIA BERSATU KABUPATEN ASAHAN

EFRIANTO RANY

SEKRETARIS DPD PEKAT INDONESIA BERSATU KABUPATEN ASAHAN

DOKUMENTASI

DOKUMENTASI KEGIATAN "DANA DESA UNTUK RAKYAT SEJAGTERA"

AGUS RAMANDA

WAKIL KETUA BIDANG OKK DPD PEKAT INDONESIA BERSATU KABUPATEN ASAHAN

Sunday, 4 February 2018

Guru Achmad Budi Cahyanto yang Dianiaya Murid akan Diangkat PNS, Calon Anaknya Diberi Beasiswa

Mendiang Achmad Budi Cahyanto.

Kisah Guru Seni Rupa SMA 1 Torjun (SMATor), Achmad Budi Cahyanto sebelumnya ditulis Ahmad Budi Cahyono (26) yang tewas usai dipukul muridnya sendiri membuat sedih dunia pendidikan.

Berbagai ucapan dukacita terus mengalir sampai sekarang. Mulai dari pejabat, rekan sesama profesi termasuk netizen.

Tidak hanya ucapan duka, dukungan untuk keluarga Achmad Budi Cahyanto juga terus mengalir hingga kini.

Seperti dukungan dari Hamid Muhammad, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah (Ditjen Dikdasmen).

Hamid Muhammad mendatangi rumah duka pada Sabtu (3/2/2018).

Kehadirannya tersebut untuk memberikan dukungan moral terhadap keluarga korban penganiayaan seorang guru yang dilakukan oleh muridnya.

"Bapak Kemendikbud sebenarnya sudah berencana hadir, tapi tidak jadi karena harus menghadiri Rakernas PGRI di Batam," kata Hamid pada sesi sambutan setelah melaksanakan doa bersama.
Hamid Muhammad

Kepada SURYA.co.id, dia menyesalkan kejadian yang menimpa almarhum Budi, Guru Honorer seni rupa SMAN 1 Torjun, Kabupaten Sampang.

Tambahlagi, kejadian ini terjadi di Madura yang dikenal memiliki filosofi mendasar tentang guru.

"Madura memiliki filosofi Bapak Bebu Guru Ratoh, dimana menempatkan guru pada penghormatan tinggi, namun kini sudah berubah karena pergeseran nilai," ungkap Hamid kepada SURYA.co.id

Dia menambahkan pemerintah akan memberikan beasiswa khusus bagi Istri juga calon anak Budi.

"Rencananya kami akan melakukan pengangkatan PNS istimewa, namun setelah dikaji dan diskusi dengan semua pihak tidak memungkinkan, paling mungkin adalah memberikan beasiswa bagi calon anak Pak Budi," kata Hamid kepada SURYA.co.id

Hamid berharap, kejadian yang menimpa Budi, Guru Honorer seni rupa SMAN 1 Torjun, Kabupaten Sampang tersebut menjadi yang terakhir.

Kronologi peristiwa

Sekadar diketahui, Achmad Budi Cahyanto yang merupukan alumnus Universitas Negeri Malang itu dianiaya muridnya sendiri.

Seperti ini kronologi peristiwa tersebut menurut Kapolres Sampang AKBP Budi Wardiman.
  1. Pada Kamis (1/2/2018) sekitar pukul 13.00, korban mengajar pelajaran seni melukis di halaman depan kelas XII. Ketika itu semua siswa diberi tugas melukis.
  2. Pelaku tidak menghiraukan apa yang ditugaskan korban. Korban kemudian menegur pelaku agar mengerjakan tugas seperti temannya yang lain.
  3. Setelah ditegur, korban kemudian menggoreskan cat ke pipi pelaku.
  4. Pelaku tidak terima dan mengeluarkan kalimat tidak sopan.
  5. Karena tidak sopan, korban memukul pelaku dengan kertas absen.
  6. Pukulan itu ditangkis pelaku dan langsung menghujamkan pukulan ke pelipis sebelah kanan korban. Akibatnya, korban tersungkur.
  7. Murid yang lain melerai pelaku dan korban.
  8. Korban bangun setelah terjatuh. Lengan kiri korban lecet karena menahan tubuhnya saat terjatuh.
  9. Seusai kejadian tersebut, seluruh siswa masuk kelas. Di dalam kelas, pelaku sempat meminta maaf kepada korban disaksikan murid-murid yang lain.
  10. Setelah pelajaran usai, korban dan pelaku pulang ke rumahnya masing-masing. Korban masih sempat bercerita kepada kepala sekolah tentang kejadian pemukulan yang dilakukan muridnya.
  11. Setiba di rumah, korban langsung istirahat karena mengeluh pusing dan sakit kepala. Sekitar pukul 15.00, korban dibawa ke Puskesmas Jrengik, Kabupaten Sampang. Karena pihak Puskesmas tidak mampu menangani, korban kemudian dirujuk ke rumah sakit daerah Kabupaten Sampang. Korban kembali dirujuk ke rumah sakit DR Soetomo, Surabaya.
  12. Pihak rumah sakit kemudian menangani korban dan korban dinyatakan mengalami mati batang otak (MBO), yang menyebabkan seluruh organ tubuhnya tidak berfungsi. Dokter memprediksi, korban tidak akan hidup lama.
  13. Sekitar pukul 21.40, korban dinyatakan meninggal dunia. Korban kemudian langsung dibawa pulang ke rumahnya di Sampang.
"Saya luruskan, tidak ada penghadangan korban oleh pelaku setelah jam pulang sekolah. Kejadian penganiayaan yang sebenarnya di depan halaman kelas," kata Budi seperti dilansir dari Kompas.com.

Ia berharap, tidak ada lagi informasi simpang siur mengenai peristiwa ini.

"Polres Sampang terus mendalami kasus ini dan pelaku sudah ditahan. (Jumat) malam ini (pelaku) sudah ditetapkan sebagai tersangka," ujarnya seperti dilansir dari Kompas.com

Meski termasuk kategori di bawah umur, HI tetap dikenakan Pasal 351 Ayat 3 KUHP tentang Penganiayaan yang mengakibatkan matinya seseorang, dengan ancaman hukuman 7 tahun penjara.

Baca Juga : Muka Dicoret Karena Tidur Saat Belajar, Siswa SMA Di Sampang Aniaya Guru Hingga Tewas

Kisah Miris Dunia Pendidikan, Anak Didik Pukuli Guru Hingga Tewas

Kisah Guru Yang Sangat Dihormati Di Barak Kopassus.


Sumber: tribunnews.com

Misteri Mayat Wanita Cantik di Waduk Cengklik: Polisi Temukan Jejak Hubungan Badan di Rumah Korban

Warga sekitar Waduk Cengklik Boyolali geger. Ditemukan mayat perempuan cantik tanpa mengenakan busana di pinggir jalan, di rerumputan, tepatnya di Ngesrep kecamatan Ngemplak Kabupaten Boyolali.

Kapolres Boyolali, AKBP Aries Andhi membenarkan bila mayat perempuan tanpa busana yang ditemukan di Waduk Cengklik bernama Dera Dewanti Dirgahayu (38) warga Perum Sawahan Indah 4, Ngemplak, Boyolali. Begitu ugkapnya, Selasa (23/1/2018).

Aries menjelaskan pihaknya juga telah melakukan autopsi dan melakukan olah tempat kejadian perkara di rumah Dera di Ngemplak itu.

"Benar, Perum Sawahan Indah 4, RT 01 RW 10. Korban ini bekerja di BPR di Colomadu. Senin malam langsung kami olah TKP di rumahnya," jelasnya.

Olah TKP di rumahnya tersebut, ia menjelaskan perlu dilakukan agar mengetahui apakah korban dibunuh di Waduk Cengklik atau di rumahnya.

"Kalau dari yang ada di kamar korban, ditemukan seperti jejak-jejak berhubungan badan. Sedangkan di ruangan lain tak ada yang berantakan," papar Aries.

Hanya saja ia memaparkan kendaraan dan alat komunikasi korban ini hilang bersamaan dengan kematian korban.

Aries menduga motif pelaku adalah pembunuhan disertai perampokan.

Warga sekitar Waduk Cengklik Boyolali geger. Tadi pagi, Senin (22/1/2018) ditemukan mayat perempuan cantik tanpa mengenakan busana di pinggir jalan, di rerumputan, tepatnya di Ngesrep kecamatan Ngemplak Kabupaten Boyolali. (facebook)
"Honda Jazz warna silver dan handphone Dera ini hilang. Dari keterangan saksi, pada Senin dini hari pukul 00.30 Honda Jazz ini keluar dari rumah, karena ada tetangga yang melihat.

"Kami berasumsi bahwa korban ini sudah meninggal saat Honda Jazz ini keluar, dibawa pelaku," paparnya.

Dirinya pun melanjutkan, dari hasil autopsi Dera ini meninggal karena kehabisan oksigen. Pasalnya ada luka jeratan di leher yang diduga dilakukan dengan menggunakan tali tas.

Selain itu ia menjelaskan pihaknya telah meminta keterangan sejumlah saksi. Dari saksi itu termasuk tetangga korban di Perumahan di Ngempak itu.

"Kami menduga pelaku adalah orang yang sangat dekat dengan korban, dan tahu seluk beluk rumah korban," papar Aries.

Ratusan warga lihat proses evakuasi mayat perempuan yang ditemukan dalam kondisi telanjang dan mulut terikat di dekat Waduk Cengklik kecamatan Ngemplak Kabupaten Boyolali (facebooker)
Lebih jauh ia memaparkan selama hidup Dera ini jarang berinteraksi dengan tetangga di perumahan tersebut.

Pintu rumah korban di Ngemplak ini juga hampir jarang terbuka.

"Dari keterangan saksi sudah tinggal sendiri selama setahun. Mungkin karena kesibukan jadi jarang bersosialisasi dengan tetangga sebelah," jelas Aries.

Sebelumnya, warga Cengklik digegerkan penemuan mayat perempuan tanpa busana, Senin (22/1/2018).

Perempuan berambut pirang ini saat ditemukan kepalanya ditutup selimut, tangan diikat, ada bekas memar di dahi, leher terjerat tali tas dan mulutnya disumbat.


Sumber: tribunnews.com

Nenek Tua Simpan Mayat Suami dan Anaknya di Rumah, Dipasangi Keris dan Percaya akan Bangkit Kembali

7 Fakta Misteri Penemuan Kerangka Manusia di Cimahi

Penemuan dua mayat yang telah menjadi kerangka tulang belulang di sebuah rumah di Gang Nusa Indah 6 RT 07/17, Kelurahan Melong, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi menggemparkan publik pada Selasa (30/1/2018).

Diketahui kemudian kedua jenazah tersebut adalah Nanung Sobana dan Hera Sri Herawati yang disimpan oleh Neneng Hatijah (74) di tengah rumahnya.

Kedua jenazah itu pun hanya ditutupi oleh sarung.

Seperti apa kisahnya?

Berikut ini tujuh fakta mengenai dua kerangka tersebut.

1. Jenazah Itu Merupakan Ayah Dan Anak
Dua jenazah yang berada di tengah rumah Neneng, merupakan suami dan anaknya.

Nanung Sobana, suami Neneng, meninggal pada 2016 lalu di usianya yang ke-85.

Sementara, jenazah satunya lagi merupakan anak pertama dari pasangan Neneng-Nanung, Hera, yang menutup usia pada umur 50 tahun pada Desember 2017.

Menurut, Kapolsek Cimahi Selatan, AKP Sutarman, rumah tersebut dihuni satu keluarga sebanyak 5 orang dan 2.

2. Diletakkan Di Dua Tempat Yang Berbeda
Walau diletakkan di satu ruangan yang sama.

Jenazah Nanung dibaringkan di atas kursi dengan ditutupi sarung.

Sedangkan, Hera dibaringkan di atas kasur yang digelar di atas lantai.

3. Warga Sering Mencium Bau Bangkai
Salah seorang warga RT 07, Katrin (47) mengatakan dirinya kerap mencium bau seperti bangkai tikus itu selama satu tahun ketika melewati rumah tersebut.

"Ketika melewati rumah itu, sering mencium bau tidak sedap, seperti bau tikus," ujar Katrin saat ditemui dilokasoli penemuam mayat, Selasa (30/1/2018).

Namun, kata dia warga tidak pernah menanyakan terkait kecurigaan tersebut, karena pemilik rumah yakni Neneng Hatijah (74) tidak pernah terbuka.

4. Ditemukan oleh Petugas Kesehatan
Pegawai Puskesmas Melong Asih Zaki Rahman (42), terperanjat ketika membuka dua kerangka manusia yang ditutup dengan kain sarung di rumah milik Neneng Hatijah (74) di Gang Nusa Indah 6 RT 07/17, Kelurahan Melong, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi.

Zaki merupakan salah seorang pegawai Puskesmas Melong Asih yang melakukan pendataan kesehatan ke rumah milik Neneng.

"Di dalam rumah itu kondisinya sangat berantakan dan bau tidak sedap serta ada dua orang dewasa yang ternyata anak ke dua dan anak ke tiga Neneng," ujar Zaki Rahman saat ditemui dilokasi kejadian, Selasa (30/1/2018).

Zaki mengatakan, ketika kain sarung tersebut dibuka ada kerangka manusia dengan posisi telentang, tak lama dari itu, Zacki dan Ketua RT langsung melaporkan penemuan tersebut ke Polsek Cimahi Selatan.

5. Ditemukan Keris, Botol Pewangi, Bunga dan Benda KlenikLainnya
Aparat kepolisian yang melakukan pemeriksaan di lokasi penemuan dua kerangka manusia, menemukan sejumlah botol pewangi yang sudah kosong dan sejumlah keris serta bunga.

Kapolsek Cimahi Selatan, AKP Sutarman mengatakan hingga saat ini masih melakukan pengembangan kasus penemuan dua kerangka tersebut.

6. Percaya Anak dan Suaminya Bangkit Kembali
Neneng menyimpan mayat suami dan anaknya itu karena merasa mendengar bisikan ghaib kalau keduanya akan bangkit lagi.

Sehingga kata dia, Neneng percaya dan enggan untuk menguburkan mayat suami serta anaknya yang telah meninggal sejak satu tahun yang lalu itu.

"Kita sudah mengamankan Ibu Neneng, sedangakan, anak keduanya langsung dibawa ke rumah sakit jiwa untuk dilakukan pemeriksaan," katanya.

7. Neneng Sadar Perbuatannya Tak Wajar
Neneng Hatidjah (76), istri yang menyimpan kerangka suami dan anaknya menyadari jika tak wajar menyimpan jasad di dalam rumah.

Namun Neneng tak mau memberi tahu warga soal kematian suami dan anaknya.

"Takut warga enggak percaya. Soalnya saya dapat hidayah (tidak menguburkan jasad suami dan anak)," ucap Neneng saat diperiksa di Mapolsek Cimahi Selatan, Selasa.

Saat petugas memberikan sejumlah pertanyaan, Neneng pun menjawab dengan jelas.

Tak ada jawaban yang tak sesuai. Neneng pun menjelaskan alasannya menyimpan kerangka dua anggota keluarganya itu.



Sumber: tribunnews.com

Misteri Keluarga Neneng yang Simpan Mayat Suami dan Anaknya di Rumah




Puluhan warga di Gang Nusa Indah VI Blok 013 RT 007 RW 17, Kelurahan Melong, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi, tampak berkerumun di depan rumah bercat merah.

Suasana kompleks pemukiman itu mendadak ramai setelah munculnya penemuan dua kerangka manusia di rumah bernomor 117 pada Senin (29/1/2018) pagi.

Dari informasi yang dihimpun Kompas.com, rumah itu ditempati oleh pasangan suami istri Nanung Sobana (86) dan Neneng Hatidjah (77). Di rumah itu tinggal pula tiga anaknya, Hera Sri Herawati (51), Erna Hendrasari (49), dan Denny Rohmat (43).

Dua kerangka yang ditemukan diketahui merupakan sosok Nanung dan Hera. Dua kerangka manusia itu ditemukan pertama kali oleh sejumlah petugas Puskesmas Melongasih, salah satunya Zacky Rahman.

Zacky bercerita, Senin pagi, sekitar pukul 08.00 WIB, ia hendak melakukan pemeriksaan kesehatan terhadap keluarga Neneng. Merujuk pada data kartu keluarga, petugas berniat memeriksa lima penghuni rumah tersebut.

Namun, saat itu Neneng menolak dengan alasan suaminya tengah tidur. Zacky percaya lantaran saat itu ia melihat ada seseorang tidur berselimut di ruang tamu.

Pada pukul 13.00 WIB, Zacky kembali mendatangi rumah Neneng. Neneng kembali melakukan penolakan dengan alasan yang sama.

Keesokan harinya, Selasa (30/1/2018) pukul 08.00 WIB, Zacky kembali ke rumah Neneng dengan didampingi petugas kepolisian dan TNI. Mereka sengaja mengajak aparat kewilayahan lantaran curiga dengan gelagat aneh Neneng beserta keluarganya.

Terlebih, bau busuk tercium menyengat saat petugas kesehatan datang pada Senin lalu.

Kedatangan petugas mendapat penolakan keras dari Neneng. Ia beserta anaknya, Erna, ngotot tak ingin membuka pintu. Bahkan, mereka menahan pintu dengan kasur. Namun, setelah dibujuk, Neneng akhirnya luluh dan mau membuka pintu.

Petugas terkejut saat melihat kerangka manusia utuh yang merupakan sosok Nanung tertutup selimut. Petugas kembali dikejutkan dengan ditemukannya kerangka Hera tepat di bawah kerangka Nanung.

Petugas kepolisian langsung datang mengamankan lokasi kejadian. Setelah diperiksa, dua kerangka itu dikuburkan. Hasil autopsi polisi, tidak ditemukan adanya bekas kekerasan terhadap dua jenazah itu.

Neneng saat ini tengah diperiksa di Rumah Sakit Dustira Cimahi. Sementara kedua anaknya sedang menjalani pemeriksaan kejiwaan di RSJ Cisarua.

Ketua RT, Timbul.

Dikenal Ramah

Aksi Neneng dan kedua anaknya yang menyimpan jenazah Nanung dan Hera memang tak masuk akal. Namun, menurut warga, tak ada sikap aneh dan mencurigakan dari keluarga Neneng.

Timbul, ketua RT setempat, mengatakan, sepengetahuannya Neneng dan Sobana merupakan warga asli Melongasih. Mereka sudah bermukim di rumah tersebut saat ia pertama kali pindah pada 2004 silam.

Timbul mengatakan cukup akrab dengan sosok Nanung. Sebelumnya, Nanung bekerja sebagai tukang bubut (pandai besi). Namun, beberapa tahun lalu Nanung berhenti bekerja karena sakit. Selain ramah, Nanung juga dikenal sebagai sosok yang rajin ikut ronda.

"Dia rajin siskamling," ucap Timbul saat ditemui Kompas.com, Kamis (1/2/2018).

Timbul mengatakan, terakhir kali ia bertemu dengan Nanung di acara syukuran salah seorang warga pada pertengahan 2016 lalu.

"Terakhir bertemu itu pertengahan 2016. Saya lupa bulannya. Kondisi kakinya sudah bengkak," ucapnya.

Timbul pun mengaku tak mengetahui jika Nanung telah meninggal. Bahkan, meninggalnya Nanung dan Hera tak pernah diketahui warga.

Di tengah tanda tanya warga soal hilangnya sosok Nanung dan Hera, warga mulai mencium bau busuk di area rumah Neneng. Warga tak mengetahui pasti kapan bau busuk itu mulai menyeruak.

"Pak Nanung meninggal gak tahu, setahu saya karena awalnya bau busuk pokoknya bau banget," ucap Tati, tetangga Neneng.

Tati mengungkapkan, sejak hilangnya Nanung, keluarga Neneng mendadak bersikap tertutup.

"Kalau Bu Neneng keluar, saya suka tanya Bu seperti bau bangkai di situ (menunjuk teras rumah Neneng). Jawabannya selalu itu mah bangkai tikus, nanti juga hilang," ujar Tati.

Rumah Neneng sudah dilingkari garis polisi. Dari luar, kondisi rumah bercat merah itu tampak tak terawat. Di teras rumah, menjulang pohon besar. Tepat di depan pintu terlihat barang-barang berserakan seperti kasur, meja, tangki air, hingga asbes.

Dua jasad kerangka manusia yang ditemukan di sebuah rumah dimakamkan. Sementara pemilik rumah, Neneng Hetidjah, kini diperiksa intensif oleh polisi.


Sumber: kompas.com

Friday, 2 February 2018

Tebak Asal-Asalan Nomor PIN ATM, Pencuri Gasak Belasan Juta Milik Korban

Ilustrasi

Polisi meringkus pelaku penguras uang di dalam ATM dengan cara menebak nomor Personal Identification Number (PIN), Helmy. Yang mana pelaku mencoba mengombinasikan tanggal, bulan dan tahun kelahiran korban.

"Tersangka ini sudah dua kali melakukan pencurian di Hotel Ibis Harmoni. Dia mengambil tas milik korbannya saat ada acara di dalam Ballroom. Korban lengah dan tasnya pun hilang," kata Kapolres Jakarta Pusat Kombes Roma Hutajulu, di Mapolres Metro Jakarta Pusat, Jumat (2/2).

Roma mengatakan, pencurian pertama dilakukan pada tanggal 19 Desember 2017. Korban berinisial MDE, saat itu ia kehilangan tas miliknya saat sedang sibuk di dalam Ballroom.

"Di dalam tas MDE, ada kartu identitas pribadinya. Lalu pelaku tebak-tebak buah manggis. Ia mencoba memasukkan PIN dengan kombinasi tanggal bulan dan tahun. Tiga ATM milik korban dibobol. Total kerugian Rp 17.700.000," ujarnya.

Lanjutnya, korban kedua yang berprofesi sebagai jurnalis berinisial GGQ kehilangan tas di tempat yang sama pada tanggal 24 Januari 2018. Saat itu ia sedang menghadiri sebuah acara konferensi pers.

"Pelaku memang balik lagi ke lokasi yang sama dan kembali melakukan pencurian. Di dalam dompet ada uang tunai Rp 300 ribu dan ATM. Namun tak ada kartu identitas korban di dalam tas itu," ujar Roma.

Meski begitu, di dalam tas terdapat secarik kertas bukti pembayaran yang mencantumkan nomor identitas korban berupa tanggal kelahiran. Kertas itu memandu pelaku untuk membobol ATM milik korban.

"Pertama pelaku memasukkan kombinasi secara berurutan menggunakan nomor tanggal, bulan dan tahun, tetapi gagal. Kedua, nomornya di balik, tetapi gagal lagi. Terakhir dia hanya menggunakan 3 nomor tanggalnya saja. Kemudian ternyata berhasil. Dari ATM itu ia berhasil menggasak uang sebesar Rp 7 juta sehingga total kerugian sebesar Rp 7.300.000," beber Roma.

Sementara itu pelaku bernama lengkap Chaery Monny Helmy (37) mengaku kalau dirinya hanya bermodalkan tebak-tebakan tanggal lahir korbannya. Pelaku mengaku menggunakan uang tersebut untuk membayar utang-utangnya.

"Saya tebak-tebak saja. Kebetulan ada di data dirinya. Uangnya saya gunakan untuk pribadi," kata Chaery.

Atas kejadian ini, Roma mengimbau agar masyarakat tidak menggunakan tanggal lahir sebagai kode PIN ATM agar kejadian serupa tak terulang kembali.

"Jangan pakai tanggal lahir sebagai PIN seperti tanggal lahir, tanggal pernikahan. Upayakan agar tak menyimpan data diri di dalam tas karena sangat riskan kalau atau dompetnya hilang," tutur Roma.

Atas perbuatannya, pelaku dijerat dengan Pasal 362 KUHP tentang pencurian dengan ancaman kurungan penjara di atas 5 tahun.


Sumber: merdeka.com

Penumpang Garuda Indonesia Kecewa Koper Dibobol & Gembok Ditukar

Koper penumpang Garuda Indonesia dibobol.

Foni Foeh asal Kupang, Nusa Tenggara Timur yang merupakan penumpang pesawat Garuda Indonesia tujuan Batam-Yogyakarta transit Jakarta, kecewa. Sebab, kopernya dirusak dan isinya diobrak-abrik serta gemboknya diganti.

Foni mengaku dari Batam mau ke Yogyakarta transit di Jakarta dengan pesawat Garuda Indonesia GA 155. Kemudian dari Jakarta ke Yogyakarta dengan pesawat Garuda Indonesia GA 212.

"Saya naik pesawat Garuda GA 155 dari Batam transit Jakarta. Dari Jakarta ke Yogyakarta dengan Garuda GA 212 dan sampe Yogyakarta ketika saya ambil bagasi, ternyata koper saya yang awalnya pakai sarung penutup dan gembok, ternyata sarung penutupnya sudah tidak ada lagi dan gemboknya sudah diganti, sehingga ketika saya buka kunci yang ada pada saya tidak bisa lagi," ujar Foni melalui pesan singkat, Jumat (2/2).

Karena takut ada barang-barangnya yang hilang, dia pun mengadu kepada petugas bagasi sehingga gembok tersebut langsung digergaji.

Koper penumpang Garuda Indonesia dibobol 2018

"Saya mengadu ke petugas bagasi Garuda di Bandara Adisucipto dan gemboknya digergaji. Memang isi tas tidak ada yang hilang, namun isi tasnya sudah diobrak-abrik," ungkap Foni.

Dia berharap, kejadian ini tidak lagi menimpa pengguna jasa transportasi udara yang lain. Petugas seperti itu jika ketahuan harus ditindak tegas.

"Ini mungkin bisa membantu sahabat-sahabat lain yang sering berpergian supaya koper pakaian bisa dipakai pembungkus plastik, yang kira-kira tidak mudah dibongkar orang," ucapnya.


Sumber: merdeka.com

Kisah Guru Yang Sangat Dihormati Di Barak Kopassus

Gladi resik HUT TNI.

Kasus penganiayaan seorang guru hingga tewas oleh muridnya di Sampang Madura bikin geger seantero Nusantara. Peristiwa itu berawal ketika Budi Cahyono sedang mengajar kesenian dan HI tertidur di kelas itu. Dia kemudian menghampiri pelaku yang tidur dan mencoret mukanya dengan tinta.

Namun, HI tiba-tiba memukul sang guru. Pelaku juga mencegat sang guru setelah pulang sekolah dan memukul korban. Sesampainya di rumah, korban langsung pingsan, sehingga dirujuk ke RS Dr Soetomo di Surabaya. Sayangnya, nyawa sang guru tidak terselamatkan. Polisi pun menangkap bocah tersebut.

Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) mengaku terkejut dengan kasus ini. Sekjen FSGI, Heru Purnomo meminta kasus ini diusut tuntas agar tak terjadi kasus serupa. Dia tak habis pikir seorang murid bisa membunuh guru karena hukuman sepele.

"Kejadian ini sudah di luar batas kewajaran sehingga harus menjadi perhatian dan efek jera kepada para siswa yang berpotensi melakukan tindak kekerasan, baik di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah. Sedangkan bagi para pendidik harus selalu menyadari bahwa dalam melaksanakan tugas ada risiko seperti itu," kata Heru.

Ada kisah menarik bagaimana dulu profesi guru sebagai pendidik sangat dihormati. Di barak-barak Kopassus, pada guru lah mereka menitipkan anak-anak saat pergi berperang.

Anta (80) seorang pensiunan prajurit Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD kini disebut Kopassus TNI AD), menceritakan dulu tentara sangat menghormati guru.

Saat itu para prajurit baret merah nyaris tak pernah berada di rumah. Mereka harus terus pergi ke medan perang atau menjalani latihan.

Dalam setiap operasi RPKAD selalu diterjunkan paling dulu. Anta merasakan operasi melawan DI/TII, PRRI/Permesta, Dwikora hingga penumpasan G30S PKI.

"Pada guru kami titip anak-anak kami. 'Pak, mohon dibimbing, diajari sopan santun dan tata krama. Bapaknya harus pergi perang, jarang di rumah'," kata Anta saat berbincang dengan merdeka.com beberapa waktu lalu.

Jika guru memukul anak, orang tua nyaris tak pernah komplain. Mereka sadar itu bagian dari proses pendidikan. Apalagi anak tentara yang terkenal dengan sebutan 'anak kolong' dikenal nakal dan berani.

Prayitno, salah seorang anak RPKAD yang tinggal di Batujajar dan Cijantung juga membenarkan bagaimana dulu guru sangat dihormati. Dulu anak-anak tentara dititipkan pada guru karena bapaknya pergi bertempur.

Mengadu pada orang tua gara-gara dihukum guru, bukan dibela. Malah bisa-bisa pulang dipukul dengan kopelrim alias sabuk tentara. Pengalaman seperti itu lazim dirasakan para anak tentara.

"Kalau salah dihukum ya diterima saja," kata Prayitno.

Sumber: merdeka.com

Kisah Miris Dunia Pendidikan, Anak Didik Pukuli Guru Hingga Tewas

Budi Cahyono

Kisah miris dunia pendidikan datang dari Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur. Betapa tidak, Ahmad Budi cahyono, guru honorer SMA Negeri 1 Torjun, Desa Jrengik tewas usai dihujani bogem mentah anak didiknya sendiri.

HL, siswa kelas IX pelaku penganiyaan tersebut. Ia kesal, ia marah, ia tidak terima ketika pipinya dicoret oleh korban dengan menggunakan cat lukis. Padahal, saat itu HL sendiri tengah bersenda gurau dengan siswa lainnya dengan cara yang sama.

Karena membuat keributan, praktis HL langsung ditegur korban.

"Korban memberikan tindakan, mencoret pipi HL dengan cat lukis. Tapi, HL tidak terima, kemudian memukul korban," ujar Kabid Humas Polda Jawa Timur, Kombes Frans Barung Mangera, Jumat (2/2).

Aksi pemukulan itu dilerai oleh siswa lainnya yang ada di dalam kelas. Di sisi lain, siswa juga ada yang melaporkan guru. Akhirnya, korban dan HL dibawa ke ruang guru lalu menjelaskan duduk perkaranya kepada Kepala Sekolah. Mediasi pun dilakukan.

Ketika itu, kepala sekolah mengaku tidak melihat luka di tubuh dan wajah korban.

Nahas, dendam sudah menjalar dalam diri HL. Upaya mediasi itu tidak menghilangkan kekesalannya terhadap korban.

Langsung saja, saat jam pulang sekolah, HL mengadang korban. Di situlah HL memukuli korban hingga menyebabkan pembuluh darahnya pecah.

Sesampainya di rumah, korban langsung pingsan, sehingga dirujuk ke RS Dr Soetomo di Surabaya. Sayangnya, nyawa sang guru tidak terselamatkan.

"Dari keterangan dokter yang menangani, korban di diagnosa korban mengalami MBA atau mati batang otak dan semua organ dalam sudah tidak berfungsi," ujar Barung.

Tidak berselang peristiwa tersebut, HL pun dibekuk, Kamis (1/2) tengah malam.

"Penangkapan dilakukan di rumahnya di Dusun Brekas, Desa Torjun, Kecamatan Torjun, Sampang, sekitar pukul 24.00 WIB," ujar Kasat Reskrim Polres Sampang AKP Hery Kusnanto, Jumat (2/2) pagi.

Teman-teman sekelas HI menyayangkan tindakan yang dilakukan bersangkutan terhadap guru Budi tersebut. Mereka menilai tindakan guru tersebut wajar dilakukan.

Hal senada dikatakan Bupati Sampang Fadhilah Budiono. Ia menyayangkan tragedi yang menimpa dunia pendidikan di SMA Negeri I Torjun hingga menyebabkan seorang guru di lembaga pendidikan itu meninggal dunia.

"Sangat disayangkan dan tidak seharusnya hal itu terjadi di dunia pendidikan kita," ujar Fadhilah di Sampang.

Bupati meminta agar aparat kepolisian segara bertindak cepat mengatasi berbagai kemungkinan yang akan terjadi. Menurut Fadhilah, kasus pemukulan yang telah menodai citra pendidikan itu, harus ditangani secara profesional, termasuk mengantisipasi berbagai kemungkinan pasca terjadinya kasus tersebut.

"Saya juga telah meminta kepada Kepala Dinas Pendidikan Sampang, agar memperhatikan kasus ini," tandasnya.




Sumber: merdeka.com

Acungan Buku Kuning dan Peringatan Untuk Presiden Joko Widodo


Ketua BEM UI beri kartu kuning ke Jokowi.

Presiden Joko Widodo melakukan kunjungan Kampus Universitas Indonesia (UI) pada Jumat pagi kemarin. Jokowi, begitu dia disapa datang untuk menghadiri acara Dies Natalis Ke-68 Universitas Indonesia (UI) sekaligus meresmikan Forum Kebangsaan UI di Balairung Kampus UI.

Semula acara begitu tenang. Jokowi bahkan sempat menyampaikan rasa terima kasihnya pada UI karena telah menciptakan lulusan terbaik yang kini duduk di kursi Kabinet Kerja.

"Ini menunjukkan UI gudang orang-orang pintar, sumber pejuang pembangunan, sumber energi untuk Indonesia yang maju," ucap Jokowi, Jumat (2/2).

Tiba-tiba di sela sambutan Jokowi, seorang mahasiswa berdiri di tengah tamu-tamu yang hadir. Dia mengacungkan buku berwarna kuning ke arah podium. Aksi mahasiswa berbatik lengan panjang warna merah sigap ditindaklanjuti Paspampres.

Paspampres bergerak cepat menggiring mahasiswa yang belakangan diketahui bernama Zaadit Taqwa. Dia ternyata mahasiswa jurusan Fisika FMIPA-UI. Paspampres langsung mengamankan dan menggiringnya ke luar ruangan.

Menanggapi kejadian tersebut, Juru Bicara Kepresidenan, Johan Budi SP, mengatakan Jokowi tak merasa tersinggung atas ulah Zaadit.

"Soalnya dari awal memang sudah ada agenda Presiden ketemu BEM UI itu selepas acara. Tapi acara itu batal karena aksi tersebut," sambung Johan.

Di acara itu memang sudah dijadwalkan, Jokowi menerima Ketua BEM UI 2018 selepas peresmian Forum Kebangsaan tersebut. Jokowi ingin mendengar masukan dari BEM UI.

"Karena katanya ada yang mau disampaikan dari BEM UI kepada Presiden. Tapi, tidak tahu tiba-tiba saat acara di dalam, ada mahasiswa yang mengacungkan buku berwarna Kuning," jelas Johan.


Perihal kejadian itu, Korbid Sospol BEM UI, Averous Noor Esa, menjelaskan aksi Zaadit di dalam ruang Balairung UI itu menjadi bagian dari konsep pemberian kartu kuning yang memang sudah digagas BEM UI.

"Tapi untuk pemberian kartu kuning di dalam ruangan itu didorong keinginan sendiri karena melihat ketidakjelasan rencana pertemuan Presiden dengan mahasiswa," ujar Noor Esa saat berbincang dengan merdeka.com, Jumat (2/2).

Dia menjelaskan, ibarat permainan sepakbola, pemberian kartu kuning pada pemain sebagai bentuk peringatan atas pelanggaran yang dia lakukan. Terkait yang dilakukan pada Jokowi, dia menyebut sejumlah pelanggaran yang telah dilakukan pria asal Solo itu.

Terpisah, Zaadit sebagai pelaku aksi kemudian menjelaskan maksudnya mengacungkan buku kuning ke Jokowi. Ditemui di ruang Pusat Kegiatan Mahasiswa, Zaadit Taqwa menuturkan, pemberian kartu kuning itu sebagai warning untuk Presiden.

"Sebagai aksi simbolik saja sih. Untuk peringatan (pada Presiden)," katanya Zaadit.

Dia memberanikan diri melakukan aksi pemberian kartu kuning agar Presiden mendengar suara dan mengetahui sikap mahasiswa. Sebagai Ketua BEM dan mahasiswa tingkat akhir, Zaadit mengaku mendapat dukungan dari BEM fakultas.

"Ini momentum. Kita punya momentum Presiden datang ke UI dan belum tentu akan seperti ini lagi," ucapnya.

Dia menuturkan, ada tiga hal yang ingin disampaikan pada Presiden. Pertama soal kasus Suku Asmat di Papua yang sudah menelan korban, Jokowi dianggap abai dalam kasus ini.

"Kondisi ini agar segera diselesaikan dengan cepat. Dan mendorong pembangunan Papua bukan hanya infrastruktur tapi juga pemberdayaan masyarakat," paparnya.

Kedua, soal penjabat gubernur yang diwacanakan diisi oleh jenderal aktif Polri. Menurutnya hal itu tidak sesuai dengan UU Polkada dan Kepolisian.

"Ini sama saja dwifungsi dan seperti kembali pada orde baru," ucapnya.

Dia juga Permen Ristekdikti yang dinilai bakal menghambat gerak organisasi mahasiswa. "Organisasi antar universitas non keilmuan akan terancam (dibubarkan)," ucap Zaadit.

Berikut Videonya:


Sumber: merdeka.com

Menimbang Kepantasan Nazaruddin Memperoleh Asimilasi Dan Bebas Bersyarat

Angelina Sondakh bersaksi di sidang Nazaruddin.

Mantan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang juga terpidana kasus korupsi wisma atlet dan gratifikasi, Muhammad Nazaruddin diusulkan mendapatkan asimilasi. Asimilasi merupakan proses pembinaan narapidana atau warga binaan yang dilaksanakan di luar lembaga pemasyarakatan.

Asimilasi merupakan proses pembinaan di luar lapas. Namun bukan berarti terpidana benar-benar keluar dari lapas. Terpidana tetap tinggal di lapas. Pagi hari terpidana keluar dan bekerja di tengah masyarakat. Sore hari kembali masuk ke lapas. Terpidana yang mendapat asimilasi harus ada tempat bekerja terlebih dulu.

Usulan asimilasi bagi Nazaruddin disampaikan Lapas Sukamiskin kepada Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan HAM. Kementerian Hukum dan HAM masih meminta rekomendasi KPK sebelum memutuskan mengabulkan atau menolak usulan asimilasi Nazaruddin.

Nazaruddin dianggap sudah memenuhi syarat untuk mendapat asimilasi. Syarat yang dimaksud adalah berkelakuan baik, sudah menjalani 2/3 masa pidana, aktif dalam pembinaan di lapas dan tidak pernah melanggar aturan.

Namun, remisi, asimilasi maupun pembebasan bersyarat bagi terpidana kasus korupsi masih menimbulkan pro kontra. Dengan pemberian keringanan hukuman bagi terpidana korupsi, pemerintah dianggap tak konsisten dengan semangat pemberantasan korupsi. Layakkah Nazaruddin mendapat asimilasi?

Pakar hukum pidana Universitas Indonesia Gandjar Laksmana Bonaprapta mempertanyakan terpenuhinya syarat berkelakuan baik. Sebab, kata dia, tidak ada yang bisa menjamin Nazaruddin berkelakuan baik selama di Lapas Sukamiskin.

"Masalahnya dalam hal syarat materiil yaitu tidak langgar aturan, berkelakuan baik, bagaimana mengeceknya? enggak bisa dicek karena di dalam Lapas. Bisa saja dia pegang HP, dan dapat fasilitas macam-macam. Kalau saya pribadi sangsi. Kelakuan baik ini mesti dijelaskan karena publik bertanya-tanya," ujar Gandjar saat berbincang dengan merdeka.com, semalam.

Terkait persyaratan formil yakni sudah menjalani 2/3 masa tahanan, Gandjar menilai perlu dilihat lebih dalam. Dia menuturkan, Nazaruddin memenuhi syarat itu karena selama ini mendapat diskon keringanan hukuman berupa remisi. Salah satunya saat Agustus 2017.

Remisi yang diterima Nazaruddin patut dipertanyakan. Dia menjelaskan, remisi terpidana kasus korupsi hanya diberikan kepada justice collaborator. Dalam hal ini, KPK memang sudah menatapkan status Nazaruddin sebagai justice collaborator sejak September 2017.

Gandjar mengkritisi itu. Sebab, justice collaborator seharusnya hanya diberikan bukan kepada pelaku utama kejahatan korupsi. Sedangkan Nazaruddin dinilainya sebagai pelaku utama.

"Dia kan ada di semua kasus itu. Dari situ kita lihat dia pelaku utama. Harusnya enggak pantas jadi justice collaborator dan dapat remisi. Kalau dia ditetapkan justice collaborator, berarti KPK yang melanggar," tegasnya.

Dia mengakui, pada prinsipnya remisi, asimilasi dan pembebasan bersyarat adalah hak terpidana. Dia hanya mempermasalahkan syarat-syarat yang dinilai sudah terpenuhi. Syarat yang dimaksud tercantum dalam Peraturan Pemerintah nomor 99 tahun 2012 tentang pembantasan remisi bagi terpidana kasus korupsi, narkoba, dan terorisme.

"Kejahatan korupsi itu kan kita lawan. Keringanan-keringanan itu yang kita lawan. PP itu syaratnya harus diperketat," jelasnya.

Dihubungi terpisah, peneliti Pusat Kajian Anti Korupsi (PUKAT) UGM, Hifdzil Alim mengatakan, asimilasi dan pembebasan bersyarat ada aturannya. Yakni narapidana harus berkelakuan baik dan terlihat mendapatkan perkembangan yang meningkat atas kesadarannya terhadap tindak kejahatan yang telah dilakukan. Asimilasi semacam uji coba bagi narapidana berbaur ke masyarakat.

Meski masih menimbulkan pro kontra, asimilasi bisa digunakan sebagai bagian dari strategi pemberantasan korupsi. "Semestinya bisa dimanfaatkan oleh pemerintah untuk mendukung pemberantasan korupsi," ungkap Hifdzil.

Dia melanjutkan, kalau Nazaruddin mau mendapatkan asimilasi, maka pemerintah dan KPK perlu menegosiasikan pemberian instrumen itu. Misalnya, pemerintah menekan kepada Nazaruddin agar dia memberikan lebih banyak informasi tentang kasus-kasus korupsi yang saat ini sedang ditangani penegak hukum.

"Termasuk juga untuk kasus yg belum terbongkar."

Dalam pandangannya, pemerintah bisa menerapkan strategi jitu pemberantasan korupsi dengan memanfaatkan pemberian asimilasi. Ini untuk mengungkap kasus korupsi. Dia setuju jika KPK dan pemerintah semacam menandatangani kesepakatan bahwa Nazaruddin harus membongkar kasus korupsi yang sedang ditangani penegak hukum sebagai syarat memperoleh asimilasi.

"Saya kira disini poinnya. Bisa seperti itu," singkatnya.

KPK mengaku belum menerima surat resmi dari Lapas Sukamiskin Bandung dan Kementerian Hukum dan HAM. Juru Bicara KPK, Febri Diansyah menjelaskan, proses asimilasi, pembebasan bersyarat ataupun proses-proses lain di Lapas terhadap narapidana menjadi domain dari Lapas. Aturan itu tertuang dalam PP Nomor 99 Tahun 2012. Tapi, kata Febri, ada ketentuan koordinasi dengan penegak hukum yang menangani perkara yang bersangkutan.

Mantan aktivis ICW ini menambahkan pada prinsipnya pemberian remisi asimilasi dan pembebasan bersyarat merupakan hak narapidana. Namun hanya bisa dilakukan dengan sangat terbatas. Untuk terpidana kasus korupsi, narkotika, terorisme dan kejahatan-kejahatan serius lainnya ada syarat-syarat yang cukup berat di PP 99 Tahun 2012.

"Itu yang harus dilihat satu per satu, apakah terpenuhi atau tidak. Jadi belum bisa disampaikan kesimpulannya iya (keberatan) atau tidak karena memang suratnya sendiri belum diterima," ucapnya.

Febri mengingatkan, syarat mendapatkan remisi, asimilasi, hingga syarat pembebasan bersyarat untuk terpidana kasus korupsi sesungguhnya bukan hanya berkelakuan baik.

"Ada syarat seperti berkontribusi mengungkap perkara yang lain membantu penegak hukum misalnya atau sudah mengembalikan kerugian keuangan negara. Sudah membayar denda dan syarat-syarat yang lain di sana itu yang kemungkinan akan jadi poin-poin yang dipertimbangkan," paparnya.

Soal layak atau tidaknya Nazaruddin menerima asimilasi, Febri enggan mengomentari. Alasannya belum ada surat resmi yang sampai ke lembaga antirasuah itu. Setelah surat diterima, akan ada proses internal secara kelembagaan. Sampai saat ini KPK juga belum berkoordinasi dengan Ditjen PAS Kementerian Hukum dan HAM.


Sumber: merdeka.com