Logo Design by FlamingText.com
Logo Design by FlamingText.com

DPD PEKAT INDONESIA BERSATU KABUPATEN ASAHAN

Sebagai bangsa yang besar dengan secara sadar, memiliki rasa tanggung jawab penuh dan turut ikut serta wajib membela dan menegakkan Persatuan dan Kesatuan serta Keutuhan bangsa dan Negara INDONESIA, merupakan bagian dari iman yang dapat diaktualisasikan dalam setiap peran kehidupan bermasyarakat dimanapun kita berada serta merupakan refleksi dari Undang Undang No. 20 Tahun 1982 pasal 2.

MUHAMMAD SYIHABUDDIN

KETUA DPD PEKAT INDONESIA BERSATU KABUPATEN ASAHAN

EFRIANTO RANY

SEKRETARIS DPD PEKAT INDONESIA BERSATU KABUPATEN ASAHAN

DOKUMENTASI

DOKUMENTASI KEGIATAN "DANA DESA UNTUK RAKYAT SEJAGTERA"

AGUS RAMANDA

WAKIL KETUA BIDANG OKK DPD PEKAT INDONESIA BERSATU KABUPATEN ASAHAN

Tuesday, 3 October 2017

Kisah Haru di Akhir Kehidupan Bung Karno



Wisma Yaso, tempat Bung Karno alami penderitaan setelah tak lagi tinggal di Istana Bogor.

Dalam buku 'Hari-hari Terakhir Sukarno' karya Peter Kasenda dan buku 'Kejayaan Dan Saat-saat Terakhir Bung Karno' karya Soewarto mengisahkan kondisi mengenaskan Bung Karno saat tidak lagi menjabat sebagai Presiden RI. Saat itu Bung Karno yang tengah sakit parah harus menjalani interogasi Kopkamtib (Komando Pemulihan dan Keamanan). Setelah sakit Bung Karno semakin parah barulah Soeharto memerintahkan penghentian interogasi. Namun, ini tak lantas menandai siksaan Soekarno berakhir.

Siksaan fisik dan psikis justru semakin menjadi-jadi. Para tentara yang ditugaskan mengawal Soekarno sungguh tidak memperlakukannya secara layak. Tak jarang mereka membentak Soekarno dengan kasar karena masalah-masalah sepele.

Banyak rumor beredar di masyarakat bahwa Bung Karno hidup sengsara di Wisma Yaso. Beberapa orang diketahui nekat membebaskan Bung Karno. Bahkan ada satu pasukan khusus KKO (Korps Komando) yang dikabarkan sempat menembus penjagaan dan berhasil masuk ke dalam kamar Bung Karno. Tapi, Bung Karno menolak mengikuti permintaan mereka karena menganggap hal itu akan memancing perang saudara.

Dokter Mahar Mardjono yang ikut merawat Soekarno kala itu memberi kesaksian, obat-obat yang diresepkannya tidak pernah diberikan. Obat-obat tersebut hanya disembunyikan di laci oleh dokter tentara yang bertugas merawat Bung Karno. Di Wisma Yaso ini kamar Bung Karno tampak suram karena tidak terawat. Yang ada hanya sebuah termos dengan gelas kotor. 

Mohammad Hatta yang dilapori kondisi Bung Karno lantas menulis surat tertuju pada Soeharto, mengecam cara merawat Soekarno. Demi mengingat sahabatnya, Hatta duduk di beranda rumahnya sambil menangis sesenggukan. Kepada istrinya Rachmi, Hatta lantas menyampaikan keinginannnya untuk bertemu dengan Soekarno. 

“Kakak tidak mungkin ke sana, Bung Karno sudah jadi tahanan politik,” kata Rachmi. Hatta bersikeras meyakinkan istrinya agar bisa menemui Soekarno. Seraya menoleh pada istrinya, Hatta berkata: “Soekarno adalah orang terpenting dalam pikiranku, dia sahabatku, kami pernah dibesarkan dalam suasana yang sama agar negeri ini merdeka. Bila memang ada perbedaan diantara kita itu lumrah tapi aku tak tahan mendengar berita Soekarno disakiti seperti ini.”

Keinginannya juga disampaikan kepada Soeharto yang sudah meminpin sebagai Presiden RI. Dia menyampaikannya melalui sebuah surat bernada tegas yang langsung disetujui Soeharto.

Di Wisma Yaso Sukarno dijenguk oleh dua sahabat setianya, Bung Hatta dan Ali Sadikin. Meski begitu, Sukarno sangat tersiksa oleh penyakitnya. Diceritakan dalam dua buku itu bila Sukarno sering berteriak-teriak “Ya Allah, sakit. Ya Allah, sakit sekali...!”

Tidak ada yang menolong Sukarno. Tentara pengawal hanya bisa diam, menerima perintah komandan. Sampai-sampai ada seorang tentara yang menangis mendengar teriakan Bung Karno di depan pintu kamar. Kepentingan politik tak bisa membendung rasa kemanusiaan, dan air mata adalah bahasa paling jelas dari rasa kemanusiaan itu.

Hingga pada 16 Juni 1970 sampailah Sukarno pada titik nadir pertahanannya. Bung Karno jatuh koma. Lelaki yang pernah begitu mempesona dan digila-gilai wanita-wanita cantik itu kini tak ubahnya laiknya mayat hidup.

Di rumah sakit, Hatta menemui Sukarno yang tergolek lemah. Tak disangka ini menjadi pertemuan terakhir kedua sahabat itu. Dengan hati-hati Hatta menghampiri sahabat lamanya itu. Sukarno yang semalam koma mendadak tersadar oleh kehadiran Hatta. 

“Bagaimana keadaanmu, No?" kata Hatta sembari berusaha menyembunyikan hatinya yang hancur melihat kondisi sahabatnya itu.

“Hou gaat het met jou..?” (Bagaimana keadaanmu?). Sukarno balik bertanya, mengingatkan saat-saat perjuangan mereka. Sambil memaksakan diri untuk tersenyum, Hatta meraih tangan Sukarno. Perlahan Hatta mulai memijit Sukarno dengan lembut. Nyaman dengan sahabatnya, Sukarno meminta Hatta untuk memasangkan kaca matanya agar bisa melihat sahabatnya dengan lebih jelas.

Sukarno yang dulu gagah dan mempesona itu pun menangis sesenggukan di hadapan sahabat lamanya. Lelaki perkasa itu menangis di depan kawan seperjuangannya, bak bayi kehilangan mainan.

Hatta yang berperangai dingin dan tak terbiasa menunjukkan perasaannya, kali ini tak kuat membendung bulir air matanya. Tak mampu lagi dia mengendalikan perasaannya dan ikut menangis, merasakan penderitaan sahabatnya. 

Saat itu tak ada lagi perbedaan politik di antara keduanya. Ini adalah pertemuan dua anak manusia yang berhasil melahirkan bangsa ini. Kedua teman lama yang sempat berpisah itu diceritakan saling berpegangan tangan, seolah takut berpisah.

Hatta tahu, waktu yang tersedia bagi orang yang dikaguminya tidak akan lama. Hatta juga tahu, betapa siksaan tanpa pukulan yang dialami sahabatnya sungguh sangat kejam. Suatu hal yang hanya bisa dilakukan oleh manusia tanpa nurani.

“No…” Hanya itu yang bisa terucap dari ucapan Hatta. Tak mampu berucap lebih. Bibirnya bergetar menahan kesedihan sekaligus kecewa. Bahunya terguncang.

Sejenak, mereka kembali mengenang masa-masa muda penuh perjuangan dan pencapaian. Sehari setelah pertemuan dengan Bung Hatta kondisi Sukarno menjadi semakin buruk. Matanya sudah tak lagi mampu terbuka. Suhu badannya terus meninggi. Sukarno kini menggigil. Peluh membasahi bantal dan piyamanya. Malamnya Dewi Sukarno dan puterinya yang masih berusia tiga tahun, Karina, hadir di rumah sakit. Sukarno belum pernah sekali pun melihat anaknya itu.

Minggu pagi 21 Juni 1970, dokter Mardjono, salah seorang anggota tim dokter kepresidenan melakukan pemeriksaan rutin. Dengan sangat hati-hati dan penuh hormat, dia memeriksa denyut nadi Sukarno.

Dengan sisa kekuatan yang masih ada, Sukarno menggerakkan tangan kanannya, memegang lengan dokternya. dr. Mardjono merasakan panas yang demikian tinggi dari tangan yang amat lemah itu. Tiba-tiba tangan yang panas itu terkulai. Situasi di sekitar ruangan sangat sepi. Begitu hening dan mencekam. Sukarno menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Ssstt, Ini Kisah Kelam Pramugari, Ada Kode 'Tidur Bareng' Pilot hingga Layani Birahi Penumpang

Cantik, tinggi, elegan, dan bisa terbang kemanapun merupakan sederet citra pramugari yang menjadikannya profesi impian banyak wanita muda.


Namun tidak dapat dipungkiri, dengan sederet 'mitos' tentang pramugari, profesi ini juga tak lepas dari stigma negatif masyarakat.

Antara lain, beredarnya rumor bahwa pramugari bisa diajak bercinta secara berbayar.

Ada pula rumor yang menyebut bahwa seorang pilot biasa mengajak pramugari untuk berhubungan intim di luar penerbangan.


Sebuah artikel yang diterbitkan media Jepang, Shukan Post, membahas soal praktik ini.

Artikel ini diterjemahkan dan ditulis ulang oleh The Daily Mail.

Dalam wawancara itu, seorang pramugari maskapai di Jepang menyebut, gaji yang rendah telah membuat pramugari-pramugari di Jepang mengambil kerja sampingan sebagai pemuas nafsu pilot.

Berdasarkan pengakuan pramugari itu, mereka bisa meraup Rp 5,6 juta dan Rp 8,4 juta untuk waktu 90 menit pelayanan.

Mereka yang berusia di bawah 30 tahun bisa memasang tarif paling tinggi.

Bahkan untuk melakukan hal itu para pramugari dibantu oleh seorang mucikari wanita.

Nah, ternyat ada kode sendiri dari pilot untuk pramugari yang dipilihnya.

"Pilot biasanya memberi kode dengan tangannya jika dia tertarik bercinta dengan seorang pramugari," kata seorang awak pesawat.

Pelacuran sebagai usaha sampingan pramugari ini rupanya sudah menjadi bagian dari sejumlah maskapai penerbangan di Jepang.

Mereka terpaksa melakukannya karena gaji mereka dipotong perusahaan tempat mereka bekerja.

Menurut Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan, gaji pramugari terus merosot secara signifikan.

Gaji pramugari Jepang pada 2004 berkisar Rp 522 juta setahun.

Pada 2013 terjadi penurunan hingga menjadi Rp 410 juta setahun.

Padahal di Jepang, menjadi pramugari adalah profesi impian banyak kaum hawa.

Puluhan ribu perempuan Jepang mendaftar jadi pramugari di sejumlah maskapai besar.

Dari pengakuan seorang pramugari Jepang berumur 30 tahun, praktek terselubung itu sudah ada beberapa tahun, bahkan sebelum ia bekerja tahun 2007. 

'Melayani' Birahi Penumpang

Lain di Jepang, lain pula kasus yang dialami pramugari-pramugari ini.

Seorang pramugari mampu meraup 650ribu poundsterling atau Rp14 miliar dari hasil pelayanan esek-esek dengan penumpang pesawat.

Upah fantastis itu diraup selama 2 tahun dengan melakukan layanan khusus itu.

Aktivitas bercinta ini biasa dilakukan di dalam toilet pesawat.

Kegiatan terlarang kru wanita di pesawat itu berlangsung tanpa diketahui kru lain.

Hingga akhirnya Ia tertangkap basah usai berhubungan seks di toilet.

Akhirnya, sang pramugari itu dipecat.

Tidak disebutkan pasti nama maskapai penerbangan tersebut.

Namun dilaporkan terduga adalah pramugari maskapai di Timur Tengah.

Pramugari itu sudah dipecat dan dideportasi seperti dikutip Grid.ID dari Tribunnews.

Seorang sumber kepada media Arab Saudi, Sada, mengungkapkan:

"Pramugari itu mengakui telah bercinta dengan banyak penumpang selama penerbangan. Ia melakukannya di penerbangan jarak jauh antara Negara-negara Teluk dengan Amerika Serikat."

Seorang sumber lain dari maskapai terkait mengatakan, perempuan itu menetapkan tarif bercinta 1.500 pound atau Rp32 juta untuk tarif sekali berhubungan.

Anehnya, ada saja penumpang yang rela membayar tarif sebesar itu.

Kasus serupa juga pernah terjadi pada sebuah maskapai di Tiongkok.

Dikutip dari Oriental Sunday, seorang pramugari bernama Liu Riu Qi juga sempat menggegerkan netizen saat foto-fotonya meng-oral seorang penumpang beredar.

Kasus ini bahkan sempat membuat masyarakat setempat ingin memboikot maskapai tempatnya bekerja karena dianggap lalai menangani tindakan seorang pekerjanya.

Detik-Detik Piton Raksasa 7 Meter Terkam Sekuriti sampai Kehilangan Banyak Darah

Persis adegan Film Anaconda, pria ini bergelut dengan ular piton raksasa sepanjang 7 meter.

Pria tersebut bernama Robet Nababan (37), warga Sungai Akar, Kecamatan Batang Gansal, Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu).

Ia harus terbaring lemah di ruang instlasati rawat inap (Irna) Bedah Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Indrasari Pematang Rebah, Kecamatan Rengat Barat, Indra Giri Hulu, Riau.

Netizen heboh, dengan postingan Risdawaty Nababan di akun Facebook-nya, pada Minggu (1/10/2017) pukul 16.18.
Ia mengunggah beberapa foto ular raksasa yang digantung warga dan anak kecil yang menduduki ular itu.

Selain itu juga ada beberapa postingannya yang memuat foto korban yang terbaring di tempat tidur rumah sakit, serta foto tangan yang digigit ular piton.

Dalam postingan itu, Risdawaty menulis: "Ini dia si ular yg gigit Ito q td mlm..."

Ia juga menyebut, korban adalah seorang sekuriti. Peristiwa itu terjadi di Simpang Granit, Sincalang, Inhu.

Menurut keterangan Robet, kejadian itu dialaminya ketika dirinya pulang kerja dari PT SSK.

Ular sawah yang menyerang Robet digantung di halaman warga menggunakan tali (istimewa)

"Saya pulang dan melihat ular melintas di Jalan Sungai Akar, kemudian saya memberhentikan sepeda motor saya dan kemudian mendekati ular itu," katanya sambil ditemani istrinya dan seorang anaknya, Senin (2/9/2017).

Kata Robet, di lokasi tersebut juga ada dua orang di jalan lintas Sungai Akar itu yang juga menunggu ular tersebut melintasi jalan tersebut, Sabtu (30/9/2017) malam sekitar pukul 21.00 WIB.

Namun, hanya Robet yang berani mendekat.

Saat itu, ular tiba-tiba menyerang dan menggigit lengan kiri Robet hingga mengakibatkan tangannya robek.

Robet harus bergelut dan berusaha melepaskan diri dari gigitan ular.

Warga menyaksikan ular sawah yang menyerang Robet setelah digantung di halaman menggunakan tali (istimewa)

Setelah terlepas, Robet langsung dibawa ke RSUD Indrasari Rengat untuk mendapatkan perawatan.

Hingga kini Robet masih menjalani perawatan intensif dan membutuhkan darah, pasalnya Robet dikabarkan kehabisan banyak darah karena luka itu.

Pihak keluarga yang menemani Robet juga menolak wawancara lebih lanjut soal kejadian yang dialami bapak dua orang anak itu.

Tribunpekanbaru.com juga masih menunggu hasil pemeriksaan dari dokter RSUD Indrasari terkait kondisi yang dialami Robet.

Seorang facebooker, Risdawaty Nababan memosting kondisi terkini korban dan ular piton yang akhirnya berhasil ditangkap warga.

Melalui chatting dengan tribun-medan.com, Risdawaty mengatakan korban digigit ular piton sepanjang tujuh meter yang tiba-tiba muncul ke jalan di Parbatuan, Desa Sungai Akar, Inhu, Sabtu malam.

Dalam perbincangannya dengan beberapa teman di facebook, disebut ular piton ini panjangnya tujuh meter.

Setelah berhasil dilumpuhkan warga ular ini dipajang dan dijadikan bahan permainan anak-anak. Karena panjangnya, badan ular piton ini mirip batang pohon yang dinaiki anak-anak.


Anak anak menunggangi ular piton raksasa yang sudah dimatikan (facebook)Ular piton 7 meter yang dimatikan warga mirip batang pohon. (facebook

Atas Nama Pimpinan PKI, Sudisman Meminta Maaf



Sejak Maret 1966, Partai Komunis Indonesia (PKI) menjadi partai terlarang. Pentolan-pentolannya sudah banyak yang tertangkap, anggota dan simpatisannya banyak yang sudah tewas dalam aksi persekusi terbesar dalam sejarah Indonesia. Namun, masih ada beberapa petinggi PKI yang belum tertangkap, salah satunya: Sudisman.

Pada September 1966 itu, setengah tahun dari pembubaran dan pelarangan PKI, Sudisman masih berada dalam pelarian. Kendati tahu partainya telah hancur lebur, namun ia masih berpikir bagaimana caranya memperbaiki PKI. 

“Kekuatan-kekuatan kontra-revolusioner dalam waktu singkat telah berhasil memukul dengan menimbulkan kerusakan-kerusakan berat pada PKI, mengharuskan kita yang masih bisa meneruskan perjuangan revolusioner ini untuk melakukan kritik dan otokritik sebagai satu-satunya cara yang tepat untuk bisa menemukan kekurangan-kekurangan dan kesalahan-kesalahan baik di bidang teori, politik dan organisasi, dan kemudian memperbaikinya,” tulis Sudisman pada September 1966 dalam Otokritik-selaku Politbiro PKI. 

Namun, niat Sudisman untuk memperbaiki partai harus dikubur dalam-dalam. Pada pengujung 1966, tepatnya pada 6 Desember, ia tertangkap. Sudisman ditahan di dalam sel berukuran 2,20 x 3,60 meter. Sudisman setidaknya kemudian mengalami 14 kali pemeriksaan, jika dihitung mencapai 70 jam. 

Penjara bukan barang baru baginya. Waktu muda dulu, dia pernah dipenjara pemerintah kolonial karena persdelict. Kali ini tuduhan yang dikenakan padanya adalah, menurut harian Angkatan Bersenjata (edisi 6 Juli 1967, “[...] mempersiapkan kup Gestapu PKI, dan usaha tertuduh menyusun kembali partai PKI […] tertuduh pada bulan Februari-Maret – April – Mei 1966 di daerah Jakarta Raja melakukan kegiatan jang bersifat merongrong usaha pemulihan keamanan dan ketertiban.” 

Sudisman tidak menyangkal keterlibatannya dalam G30S yang menculik dan membunuh para jenderal Angkatan Darat. Di persidangan secara terbuka dia mengatakan: “Saya sendiri terlibat dalam G30S, tetapi PKI sebagai Partai tidak terlibat dalam G30S.”

Membela partai memang kewajiban kader. Dan bukan sekali ini saja Sudisman melakukannya. Pada 1951, tiga tahun setelah peristiwa berdarah Kudeta Madiun 1948, ia pun membela PKI. dengan nama samaran Mirajadi, ia menulis uraian berjudul "Tiga Tahun Provokasi Madiun" di surat kabar Bintang Merah. Melalui artikel itu, lagi-lagi, Sudisman membela PKI yang -- baginya -- sama sekali tidak bersalah dalam peristiwa di Madiun. Ia menganggap Madiun 1948 sebagai provokasi pemerintahan Hatta.

Sudisman berencana menggunakan pengadilan Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub) untuk mengutarakan pikiran-pikirannya tentang G30S. Namun, rencana itu gagal. Pada pengadilan yang berlangsung pada 21 Juli 1967, seperti ia uraikan dalam Uraian Tanggung Jawab, “Sungguh sayang bahwa sidang-sidang Mahmilub yang mengadili perkara saya ini tidak disiarkan oleh RRI seperti halnya dengan sidang-sidang Mahmilub yang lalu sejak mengadili perkara saudara Dokter Subandrio.” 

Baginya, gerakan yang tak melibatkan massa rakyat seluruh pendukung PKI se-Indonesia hanyalah sebuah avonturisme (petualangan politik) petinggi partai. Para petinggi PKI, kata Sudiman, “Tanpa mengindahkan ketentuan-ketentuan organisasi melibatkan diri ke dalam G30S yang tidak berdasarkan kesadaran dan keyakinan yang tinggi massa Rakyat.”

G30S nyatanya menjadi jalan yang justru menghancurkan PKI. G30S, kata Sudisman, “telah menyebabkan terpencilnya partai dari massa rakyat. Kalau sudah jauh dari massa rakyat, yang harusnya jadi pendukung utama PKI, maka habis sudah PKI."

Jejak Sudisman Sebelum 1965

Sudisman yang terpelajar ini bukan orang baru di PKI. Setidaknya ia termasuk bagian dari jaringan kelompok PKI ilegal seperti Amir Sjarifuddin di zaman pendudukan Jepang. Mereka hanya bisa bergerak di bawah tanah. 

Menurut catatan Ben Anderson, dalam Revolusi Pemoeda (1989), “Pada 1939 ia mewakili Persatuan Pemuda Indonesia Surabaya (Perpis) dalam Kongres Pemuda III di Yogyakarta. Pada tahun 1940 ia menjadi wakil ketua Indonesia Muda cabang Surabaya.” 

Selain itu, dia aktif dalam organisasi kebudayaan Jawa dan dalam organisasi pimpinan Amir Sjarifuddin, Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo). Menurut AM Hanafi, dalam A.M. Hanafi Menggugat(1998), Sudisman adalah Ketua Barisan Pemuda Gerindo cabang Surabaya. 

Di masa kolonial, ia pernah mengelola dan menerbitkan jurnal bacaan radikal bernama Tamparan bersama kawannya, Tjoegito. Dia sempat ditahan sebentar pemerintah kolonial menjelang kedatangan Jepang. Ketika PKI bergerak di bawah tanah dan ilegal di zaman Jepang, Sudisman pernah dijatuhi hukuman penjara 8 tahun. Tentu saja hukuman itu tak dijalaninya selama itu karena Jepang sendiri hanya berkuasa kurang dari 4 tahun dan Indonesia merdeka pada 1945. 

Setelah bebas, dia menjadi pimpinan Pemuda Republik Indonesia (PRI) dan juga anggota Komite Nasional Indonesia (KNI) Jawa Timur. Ketika organisasi Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo) berdiri pada 10 November 1945, menurut Norman Joshua Soelias dalam Pesindo: Pemuda Sosialis Indonesia 1945-1950(2016), Sudisman termasuk menjadi salah satu pendirinya. Ia mendirikan Pesindo bersama Wikana, Ruslan Widjajasastra, Krissubanu dan lainnya. 

Pesindo kemudian menjadi organ pemuda yang sangat berpengaruh. Setelah Kongres III Pesindo pada 12 November 1950, Pesindo kemudian berganti nama menjadi Pemuda Rakyat (PR). Organisasi pemuda itu belakangan menjadi onderbouw PKI dan ikut kena gulung setelah 1965. 

Di awal-awal revolusi, Sudisman, menurut Harry Poeze dalam Madiun 1948: PKI Bergerak (2011), menjadi salah satu pemimpin PKI ilegal bersama Amir Sjarifuddin, Maruto Darusman, Wikana, Abdulmadjid, Setiadjit dan lainnya. Menurut Soe Hok Gie, dalam Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan, dalam susunan organisasi yang dibentuk pada 1948 setelah Musso kembali dari Eropa, Sudisman masuk ke dalam struktur PKI di seksi organisasi. Menurut pengakuannya sendiri, seperti terbaca dalam Pleidoi Sudisman: & Statement politiknya menyon[g]song eksekusi (2001), Sudisman menjadi Kepala Organisasi Central Comite (CC) alias pengurus pusat PKl. 

Kedatangan Musso memang mengubah secara dramatis jalan perjuangan PKI. Partai tersebut dalam posisi terpukul setelah Amir meletakkan jabatan sebagai Perdana Menteri karena dinilai memberi konsesi terlalu banyak kepada Belanda dalam Perjanjian Renville. Musso datang bukan hanya untuk mengambil alih PKI, namun juga mendorong PKI mengambil jalan yang lebih radikal dan memuncak pada peristiwa Kudeta Madiu 1949.

Setelah 1948, PKI berantakan. Tak semua anggotanya terbunuh. Mereka yang berhasil lolos dari pembersihan membangun kembali partai itu. Termasuk Sudisman yang, pada 1950, "diangkat sebagai Sekretaris CC PKI.” 

Di PKI (yang baru) inilah, di bawah kepemimpinan D.N. Aidit yang masih terhitung muda pada awal 1950an, Sudisman tampaknya begitu dipercaya untuk urusan organisasi. Ketika menjabat sebagai anggota Politbiro PKI, dia juga menjadi Anggota Departemen Organisasi PKI. Di luar urusan partai, Sudisman adalah anggota parlemen, Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong-Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (DPRGR-MPRS). 

Mewakili Aidit, Njoto, Sakirman dan Lukman

Sudisman ditangkap pada 6 Desember 1966 di sekitar Tomang, kini masuk wilayah Jakarta Barat. Ia sedikit "beruntung" karena tidak dipersekusi tanpa proses pengadilan. Sedangkan Aidit, Njoto, Sakirman dan Lukman dieksekusi tanpa proses hukum. Memang ada petinggi PKI lain, khususnya anggota Politbiro, yakni Njono, Peris Pardede, Muhammad Munir hingga Oloan Hutapea (yang terakhir dieksekusi pada 1968). Namun tampaknya Sudisman tidak tahu persis apa yang terjadi dengan yang lain, sehingga bisa dimengerti jika ia mencoba mengambil tanggungjawab.

Sudisman memilih menggunakan pengadilan untuk menjelaskan sikap PKI -- setidaknya mewakili empat kameradnya itu. Dan ia menyadari benar bahwa pledoinya akan menjadi dokumen sejarah. Kesadaran itulah yang membimbingnya untuk memanfaatkan "panggung" Mahmilub dengan sebaik mungkin.


Ia berkata dengan jelas: "Saya dengan mereka [Aidit, Njoto, Lukman, Sakirman] membangun kembali PKI sejak tahun 1951, dari kecil menjadi besar, dari berpolitik salah menjadi berpolitik benar, dari terisolasi menjadi berfront luas, dari kurang belajar teori menjadi mulai belajar teori Marxisme – Leninisme, dan karena tidak menguasai teori Marxisme – Leninisme secara kongkrit kemudian berakhir terpelanting dalam kegagalan’ G-30-S yang membawa kerusakan berat pada PKI."

Ia menampik keterlibatan PKI sebagai organisasi dalam G30S. Akan tetapi, kata Sudisman, "Saya pribadi terlibat dalam G-30-S yang gagal. Kegagalan ini berarti pula kegagalan saya dalam memimpin PKI, sehingga mendorong menjadi unggulnya pihak lawan politik PKI."

Baginya sangat jelas: G30S adalah kesalahan fatal yang dari sanalah PKI harus ikut-ikutan memikul akibatnya. Dan untuk semua akibat fatal itu, bagi Sudisman, seluruh pemimpin PKI harus memikul tanggungjawab. 

"Kalau pimpinannya baik dan beres seharusnya hal seperti itu tidak terjadi," demikian Sudisman melakukan otokiritik. 

Dan sebagai satu-satunya petinggi PKI yang masih hidup, ia memikul tanggungjawab untuk -- termasuk -- mewakili empat kameradnya yang lain. Katanya: "Mereka berempat adalah saya, dan saya adalah mereka berempat, sehingga solidaritas Komunis mengharuskan saya untuk menunggalkan sikap saya dengan mereka berempat dan memilih 'jalan mati'."

Untuk itulah ia menyatakan: “Bagaimana pun juga, sebagai pimpinan tertinggi yang masih hidup, saya memakai kesempatan ini untuk meminta maaf atas apa yang terjadi.” 

Ia divonis bersalah dan dijatuhi hukuman mati. Eksekusinya dilakukan pada tahun yang sama, 1967. 

Monday, 2 October 2017

Kronologi Tewasnya Siswi IPDN saat Diksar di Akpol


Gubernur Akademi Kopolisian, Inspektur Jenderal Polisi Rycko Amelza Dahniel, menjelaskan kronologi meninggalnya Dea Rahma Amanda (17 tahun), siswi calon Praja Institut Pemerintah Dalam Negeri (IPDN) asal Lampung, saat sedang mengikuti Pendidikan Dasar Mental Disiplin Praja (Diksar) di Akpol, Semarang, Jawa Tengah.

Dea meninggal setelah menjalani latihan di lapangan Akpol Semarang, Minggu, 1 Oktober 2017 sekira pukul 08.15 WIB.

Rycko menjelaskan, Dea hari ini menjalani rangkaian Diksar mulai pukul 04.00 WIB sampai 06.00 WIB. Kegiatan dimulai dengan bangun pagi, salat subuh berjemaah, kemudian dilanjutkan dengan pengajian di Masjid Umar Bin Khatab. 

Usai pengajian, pukul 06.00-06.30 WIB, seluruh calon Praja mengikuti makan pagi di GOR, serta pukul 07.00 WIB peserta menuju Batalyon melaksanakan apel pagi di lapangan Resimen Akpol.

"Pada pukul 07.30 WIB, dilakukan kegiatan lari setengah keliling lapangan Resimen. Saat itu korban masih bertahan, " kata Rycko.

Namun usai lari di lapangan, sekira pukul 07.40 WIB, seluruh peserta melakukan baris berbaris. Dan saat itu, Dea langsung roboh dan pingsan. Saat itu, teman-teman Dea langsung menolong dan membawanya ke Rumah Sakit Akpol tak jauh dari lokasi. 

"Pertolongan darurat dilakukan selama 30 menit. Pukul 08.15 WIB, tim dokter menyatakan Dea meninggal dunia," katanya.

Siswi IPDN Meninggal saat Latihan Dasar di Akpol

Suasana Akademi Kepolisian

Seorang siswi calon Praja Institut Pemerintah Dalam Negeri bernama Dea Rahma Amanda, 17 tahun, mendadak meninggal dunia saat mengikuti latihan dasar di Akademi Kepolisian Semarang, Jawa Tengah, Minggu, 1 Oktober 2017. Siswi tersebut meninggal dunia setelah melaksanakan pelatihan lari di lapangan sekitar pukul 08.15 WIB.

Gubernur Akpol, Inspektur Jenderal Polisi Rycko Amelza Dahniel, menuturkan bahwa siswi tersebut merupakan angkatan 2017 yang tercatat sebagai calon Praja asal Lampung. Sebelum meninggal gadis 17 tahun tersebut dinyatakan masih dalam keadaan sehat. Namun, saat menjalani latihan Dea langsung pingsan.

Ia menceritakan, awalnya almarhumah bersama rekan-rekannya menjalani pelatihan seperti biasa. Korban bangun pagi pukul 04.00 WIB untuk mengikuti salat berjemaah dan pengajian.

"Kemudian masih ikut makan bersama lalu dilanjutkan apel pagi pukul 07.45 WIB, " kata Rycko saat meninjau jenazah calon praja itu di RS Bhayangkara Semarang.

Namun, setelah siswi tersebut mengambil kegiatan fisik dengan lari satu putaran dan dilanjutkan berbaris bersama teman-temannya, ia langsung terjatuh dan pingsan.

"Jarak yang dekat membuat kami memutuskan membawa almarhumah ke Bhayangkara, namun ia telah dinyatakan meninggal," katanya.

Rycko mengaku turut berduka cita atas meninggalnya siswi asal Lampung tersebut. Ia menyebutkan bahwa rangkaian laksar di Akpol dimulai sejak 9 September sampai 6 Oktober 2017.

"Kita ingin tahu jejak rekam medisnya di IPDN. Yang jelas tidak ditemukan kekerasan fisik karena laksar praja putri dipisah dengan putra," ujar Rycko.

Gubernur Institut Pemerintah Dalam Negeri, Ermaya Suradinata, menambahkan tak ada latihan yang berlebihan dalam diksar yang dijalankan pihaknya di Akpol Semarang. Ia menyebut, jika almarhumah sebelumnya punya histori sesak napas.

"Pengakuan ke temannya ada sesak napas, gejala-gejala itu ada. Setelah makan bilang ke teman perutnya agak kenyang, kemudian lari mutar satu dua kali, biasa, tidak ada yang berlebihan, prosedur juga sudah ditempuh," katanya.

Saat ini, jenazah korban berada di RS Bhayangkara untuk dilakukan autopsi. Namun upaya autopsi masih menunggu keluarga korban yang datang dari Lampung.

DPD PEKAT IB Asahan: RDP Komisi C DPRD Kab Asahan terkait Arus Lalulintas Di Kota Kisaran


Senin (02/10/17) bertempat diruangan Komisi C DPRD Kab. Asahan.  Dihadiri oleh Kasat Lantas Polres Asahan, Kepala Dinas Perhubungan Kab. Asahan, dan Camat Kota Kisaran Timur. 

Dalam pertemuan tersebut Kasat Lantas mengakui Bahwa  dalam Rekayasa tersebut pihak Pemerintah Kab. Asahan belum mengeluarkan Payung Hukum.
Pihak Satlantas Polres Asahan telah menyurati pihak Pemerintah Kabupaten Asahan cq. Dinas Perhubungan Kab. Asahan terkait Payung Hukum perubahan arus lalulintas di Kota Kisaran tersebut.


Dalam Rapat Dengar Pendapat tersebut disepakati agar Pihak Dinas Perhubungan dan Pihak Satuan Lalulintas Polres Asahan bersama dengan DPD PEKAT-IB Kab. Asahan yang diketuai oleh Syaid Muhsyi dapat langsung turun kelapangan untuk dapat menemukan solusi dari perubahan lalin. 

Komisi C DPRD Kab. Asahan memberikan waktu paling lama 2 minggu agar segera didapatkan solusi dari permasalahan tersebut.

Pacaran Bertahun Tahun, Mempelai Wanita Ini Malah Meninggal 2 Jam Sebelum Akad Nikah. Kata Kata Terakhirnya Bikin Sedih


Banyak orang bilang, manusia punya rencana, Allah punya kehendak.

Ya, kita yang hanya manusia awam memang tidak pernah tahu apa yang dikehendaki Allah.

Terkadang, rencana yang telah kita persiapkan dengan matang, dan akan berlangsung, bisa saja batal.

Seperti yang dialami sepasang kekasih asal Palembang ini.

Pasangan bernama Darma Darmadi dan Elsya Putri Julita ini batal menikah, karena calon pengantin wanita telah dipanggil Sang Maha Kuasa dua jam sebelum akad nikah pada Sabtu (6/5/2017).

Padahal seharusnya hari itu menjadi momen paling bahagia dalam hidup mereka.
Namun nyatanya takdir berkata lain.

Elsya meninggal dunia sebelum akad nikah dan resepsi pernikahan mereka digelar.

Sontak, hari nan bahagia itu pun berubah menjadi hari pemakaman Elsa.
Elsya dikebumikan di TPU Kramat Jong pada pagi harinya.
Dwi Syahrial, yang merupakan ayah mendiang Elsya, mengaku masih ingat persis kejadian sebelum putri tercintanya itu menghembuskan nafas terakhirnya. Dia katakan saat itu, putrinya sempat mengeluh rasa nyeri pada bagian dada.

Karena rasa nyeri yang dirasakannya semakin kuat, almarhumah Elsa pun akhirnya dilarikan ke rumah sakit.
“Waktu itu jam 12 siang Elsya merasa sakit sesak, tapi tidak pingsan. Memang jam dua siangnya itu mau akad nikah. Karena Elsya terus merasa sesak, kami bawa ke rumah sakit cabang charitas di Lebong Gajah. Sewaktu dalam perjalanan, Elsa ngomong pak sakit nyeri sambil memegang dadanya,” ujar Dwi Syahrian.

Menurut Dwi, putrinya saat itu terlihat seperti sudah mengetahui ajalnya, sehingga putrinya itu sempat mengucapkan kalimat terakhir yang amat menyentuh hati dia dan istrinya yang terus diingat hingga kini.

“Pak..bu..aku dak bakalan lamo lagi,” itulah kata-kata yang diucapkan Elsya sebelum meninggal.

Namun ibunya mengatakan, “bertahan saja nak, kita berobat.”

“Kami sudah pasrah dan waktu itu jam satu lewat, saya merasa Elsya sudah tidak bernyawa lagi saat masuk ke UGD,” ucap Dwi, dengan kedua matanya yang terus berbinar menahan air matanya agar tak menetes.

Akhirnya, pernikahan yang sudah dinanti-nanti pasangan yang telah merajut kisah asmara selama kurang lebih 10 tahun ini pun hanya tinggal kenangan.

Ternyata, 3 hari sebelum akad nikah berlangsung, Elsya sempat mencurahkan keluhan rasa sakitnya itu di akun Facebook pribadinya.

“Tinggal nunggu hari kondisi badan maseh drop:'(“ tulisnya.

Hingga kini, akun Facebook Elsya terus dibanjiri belasungkawa dan doa dari rekan-rekannya maupun para netizen.

Selamat jalan Elsya, semoga amal ibadahmu diterima Allah SWT. Amin.

DPP PEKAT IB Gelar Nobar Film G-30 S / PKI


Dewan Pimpinan Pusat Pembela Kesatuan Tanah Air Indonesia Bersatu (DPP Pekat IB), mengadakan nobar film G-30S PKI di Lapangan Penggilingan Cakung Jakarta timur, Sabtu, (30/09/2017).

Perlu diketahui, film G-30S PKI yang diputar DPP Pekat IB adalah film yang original alias asli tanpa ada yang kena rombak, potong dan diedit.

Terlihat antusias warga yang berdatangan ingin mengikuti acara nonton barang bersama PEKAT IB. Ratusan pengendara motor pun ikut masuk menuju tempat penayangan Film yang diadakan oleh PEKAT IB.


Menurut Ketua Umum Pekat IB, H Markoni Koto SH, saat menjelaskan terkait pemutaran pemutaran Film G-30 S PKI, “Kami mengadakan nonton bareng Film G -30 S/PKI ini adalah hanya satu tujuan kami mengingatkan kembali kepada pemuda generasi bangsa. Bukan hanya Film G-30 S PKI saja termasuk film-film perjuangan lainnya seperti Film Cut Nyak Dien , Imam Bonjol dan Film lainnya. Ini untuk meningkatkan rasa patriotisme dan nasionalisme kita,” katanya.


“Jadi esensi dari patriotisme dan nasionalisme kita adalah cinta tanah air. Itu intinya, jadi cinta tanah air adalah bagaimana cara kita menghargai dan menghormati, karena kita telah mempelajari sejarah-sejarah bangsa dengan tujuan untuk mengangkat harkat dan martabat bangsa dan negara,” terang Markoni.

Beliau juga ngatakan,”Bahwa tujuan mengingatkan kembali kepada pemuda generasi bangsa akan bahayanya gerakan G-30 S PKI ini. Untuk kedepannya, ini sangat bahaya kami melihat dari sisi lain bahwa ini termasuk disebut perang prosedur untuk penghancuran untuk pelemahan terhadap kelembagaan negara republik Indonesia,” ucap Markoni.

Terkait isu-isu miring yang beredar untuk pemutaran Film G-30 S PKI beliau mengatakan, “Saya rasa yang mengakatakan itu adalah bagian dari PKI, artinya kan bahwa sejarah bangsa dan pelaku-pelaku nya dan korbannya, mengatakan hal yang jelas dan nyata kenapa harus diragukan, tapi kami dari PEKAT IB menganggap bahwa ini penyimpangan dari sejarah dan ini sengaja di plesetkan oleh kepentingan-kepentingan tertentu. Ingat ini adalah merupakan adu domba untuk menghancurkan bangsa dan negara, hanya satu tujuan kita selamatkan bangsa dan negara dari kehancuran, bahwa kepentingan negara di atas segalanya mengalahkan kepentingan kelompok dan golongan yang ingin merongrong keutuhan bangsa dan negara republik Indonesia,” tegas Markoni Koto.

Di akhir wawancara beliau berharap,” Untuk seluruh bangsa Indonesia yang menonton kembali film sejarah-sejarah bangsa khususnya film G-30 S PKI ini adalah bukan sekedar tontonan ini adalah tuntunan bagi masyarakat Indonesia generasi muda bangsa untuk kedepannya bahwa sejarah itu tidak boleh terjadi lagi di negara republik Indonesia ini,” pungkas Markoni.

Wiranto Akui Ada Masalah Pada Impor Senpi Brimob, Prabowo: Jenderal Gatot Benar!


Menko Polhukam Wiranto akhirnya mengakui, bahwa ada persoalan dalam impor senjata api untuk Korps Brimob Polri. Artinya, misteri impor senjata ilegal yang disebutkan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo mulai terkuak.

“Berarti Jenderal Gatot BENAR #sayabersamapanglima,” tegas mantan Kasum TNI Letjen (Purn) Suryo Prabowo menanggapi pengakuan Menkopolhukam Wiranto.

Kendati mengakui ada masalah, Wiranto menolak memberikan keterangan rinci. “Ada masalah yang perlu kita selesaikan dengan cara musyawarah, mufakat dan koordinasi. Tugas saya sebagai Menkopolhukam atas perintah Presiden adalah mengkoordinasikan semua lembaga di bawah saya untuk sama-sama kita selesaikan,” kata Wiranto dilansir dari intelijen.co.id.

Ratusan senjata yang dibeli Korps Brimob Polri masih tertahan di Bea Cukai lantaran menunggu proses perizin dari Badan Intelijen Strategis (Bais) TNI selesai. Kepolisian telah mengakui bahwa senjata tersebut adalah milik polisi.

Menurut Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Pol Setyo Wasisto, ratusan senjata itu dibeli untuk Korps Brimob Polri. Senjata itu sah meski tertahan oleh Bea Cukai lantaran menunggu izin dari Badan Intelijen Strategis (Bais) TNI rampung.

Di sisi lain, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo tak mau berkomentar ihwal senjata dan amunisi impor Polri yang tertahan di gudang Kargo Unex, Bandara Soekarno Hatta. Gatot meminta wartawan mengkonfirmasi ke Menkopolhukam.

DOR…Pencuri Kreta asal Simalungun Ditembak Karena Melawan Polisi


Tiga kali dihukum penjara tak membuat jera. Peluru panas menghentikan perlawanan Supriadi (45) dan Edy Susanto (24), pelaku pencurian sepedamotor yang melawan dan mencoba melarikan diri.

Dua pria yang tercacat sebagai warga Kabupaten Simalungun ini, dihadiahi timah panas tepat di bagian kaki masing-masing ketika mencoba melarikan diri dari sergapan polisi.

Informasi diperoleh, kedua tersangka diringkus personel unit Jahtanras Satreskrim Polres Asahan, Minggu (1/10). Kedua tersangka merupakan warga Sayur Matinggi, Dusun II, Kecamatan Ujung Padang, Kabupaten Simalungun.

Kasat Rrskrim Polres Asahan AKP Bayu Putra Samara SIK didampingi Kanit Jahtanras Ipda Khomaini pada wartawan menerangkan, penangkapan kedua pelaku berawal dari laporan Indra Sitorus, warga Dusun VII, Desa Urung Pane, Kecamatan Setia Janji yang mengaku telah menjadi korban pencurian, Senin (27/9) sekira pukul 06.00 WIB.

Dilaporkan, korban mengaku kehilangan satu unit sepedamotor Yamaha Vixion BK 2917 NAO warna merah dan 2 unit hp, dengan nilai total kerugian Rp25 juta.

Setelah menerima laporan, pihak kepolisian berkordinasi dengan pihak Polsek Prapat Janji, dan langsung melakukan penyelidikan serta memintai keterangan saksi-saksi.

Dari hasil penyelidikan dan sesuai keterangan saksi diperoleh ciri-ciri dan identitas terduga pelaku.

Hasil penyelidikan diperoleh informasi yang menyebutkan di Desa Seberang, persisnya di wilayah Desa Sayur Matinggi ada seorang residivis yang baru keluar dari penjara.

Poniman langsung disergap tim yang dipimpin langsung Ipda Khomaini dan Kanit Reskrim Polsek Prapat Janji Ipda Sunipan Gurusinga SH, tanpa perlawanan di rumahnya.

Hasil interogasi, Poniman mengaku bekerja sama dengan 2 orang teman sekampungnya, Edy Susanto dan Putra (DPO).

“Edy kita ringkus sehari setelah penangkapan Poniman. Saat kita meringkus Edy dan akan melakukan penangkapan terhadap Putra, Poniman dan Edy coba melarikan diri. Tim kita tidak mau ambil resiko, langsung diberikan tembakan terukur, karna saat itu kedua pelaku melawan dan mau melukai anggota,”kata Bayu.

Poniman mengaku telah 4 kali melakukan pencurian di wilayah Kabupaten Asahan dan Kabupaten Simalungun. Keempat aksi itu dilakukan bersama Edy dan Putra.

“Aku dulu buruh lepas di kebun. Kami tiga satu kampung. Aku baru 2 bulan keluar LP Labuhanruku. Kreta kujual ke Rantoprapat Rp2,5 juta,” ucap residivis yang telah 3 kali keluar masuk penjara ini.

Sementara Edy mengaku hanya ikut-ikutan.

“Aku dulu kernet truk. Kalo jual kreta belum dapat aku, cuma hp saja kupegang. Yang jual kreta dia(Poniman),”kata Edy.

287 Calon Panwascam Ikuti Ujian Tertulis



Panitia Pengawas Pemilihan (Panwaslih) Kabupaten Asahan telah mengumumkan sebanyak 287 orang pelamar calon panitia pengawas pemilihan kecamatan (Panwascam) yang lolos persyaratan administrasi hasil penelitian berkas administrasi. Selanjutnya, hari ini, Senin (2/10) mereka akan mengikuti ujian tertulis yang berlokasi di SD Luar Biasa (SDLB) Jalan H.M Yamin pukul 14:00 WIB.

Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Panwaslih Kabupaten M Irfan Islami Rambe, saat dikonfirmasi wartawan, Minggu (1/10). “Kemudian kepada para peserta calon Panwaslih Asahan yang namanya masuk dalam daftar hasil pengumuman diminta untuk hadir pada hari Senin besok, (2/10) di SD Luar Biasa Jalan HM. Yamin Kelurahan Kisaran Naga untuk mengikuti ujian tertulis yang dimulai pada pukul 14:00 WIB,” ujar Irfan.

Irfan menambahkan, dari sekitar 300 pelamar yang mendaftar 287 pelamar dinyatakan lolos untuk ikut tahap ujian selanjutnya, sementara 13 pelamar lainnya gugur karena tidak melengkapi administrasi.Selanjutnya hasil ujian tertulis yang bakal dilaksanakan tersebut, nantinya akan diseleksi kembali menjadi 150 orang peserta dimana pada setiap kecamatan hanya ada 6 peserta yang lolos mengikuti tahap wawancara.

“Jadi dalam ujian tertulis ini, para pelamar panwaslih kecamatan ini akan disusutkan menjadi enam peserta masing masing kecamatan. Artinya, dari 25 kecamatan ada enam orang, jika ditotal seluruhnya menjadi 150 orang,” ujarnya.

Diinformasikan sebelumnya, Panwaslih Kabupaten Asahan membuka masa pendaftaran bagi calon peserta mulai tanggal 20 September 2017 lalu. Kemudian memperpanjang masa pendaftaran untuk 10 kecamatan sampai tanggal 29 September 2017. Hal ini dikarenakan 10 kecamatan tersebut belum memenuhi jumlah minimal pelamar yakni sembilan orang.

Kecamatan Kisaran Timur menjadi menjadi yang paling banyak pelamarnya yakni 32 orang sementara kecamatan yang paling sedikit pelamarnya yakni Aek Ledong dengan 7 orang pelamar.

Sementara itu, Yanto salah seorang pelamar untuk Panwaslih kecamatan Kisaran Timur mengharapkan kepada penyelenggara untuk berlaku jujur dan adil serta transparan dalam pelaksanaan penjaringan Panwaslih ditingkat kecamatan.

Ia pun tidak mengharapkan adanya unsure nepotisme selama masa penjaringan. “Artinya hasil ujian harus bisa dipertanggungjawabkan jangan adanya unsure nepotisme, sesuai dengan azas penyelenggara pemilu diantaranya jujur dan adil,” harapnya.

Sunday, 1 October 2017

Masyarakat Kisaran Antusias Nonton Bareng Film G30S PKI


Ribuan masyarakat terlihat antusias datang ke alun-alun Rambate Rata Raya Kisaran untuk menyaksikan pemutaran film G30S PKI yang digagas oleh Kodim 0208 Asahan bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten, Sabtu (30/9) malam.

Antusias masyarakat untuk menyaksikan film ini cukup tinggi beberapa warga sampai terlihat duduk di atas rumput di tengah lapangan mulai dari anak-anak, remaja, pelajar, hingga lansia.

Tepat pukul 20:00 WIB film ini diputar beberapa pejabat terlihat hadir di antaranya Dandim 0208 Asahan Letkol Inf ARM Suhono SE, Wakil Bupati Asahan H Surya dan Wakil Ketua DPRD Asahan Dahrun Hutagaol.

Sebelum pemutaran film, Dandim mengatakan tujuan dilaksanakannya acara nonton bareng film film Penghianatan G-30S/PKI ini bertujuan agar rakyat Indonesia tidak melupakan sejarah Bangsa Indonesia.

“Kita jangan pernah melupakan sejarah bangsa kita sendiri, yang mana pada masa itu telah terjadi perebutan kekuasaan secara paksa oleh partai komunis Indonesia (PKI),” ujar Dandim 0208 Asahan, Letkol Inf ARM Suhono saat memberikan sambutannya sebelum dimulainya acara.

Selanjutnya Dandim memaparkan singkat Sejarah kelam yang dialami bangsa indonesia berawal dari Ambisius perebutan kekuasaan oleh segelintir orang yang tidak bertanggung jawab, yang dengan sengaja dan dalam keadaan sadar telah berbuat kebiadaban kebiadaban dibangsa ini. Namun Tuhan yang Maha kuasa masih menyelamatkan bangsa kita dari kebiadaban mereka.

Bupati Asahan yang diwakili oleh Wakilnya H Surya BSc, juga menyampaikan melalui pemutaran film G 30 S pada hari ini diharapkan dapat meningkatkan kecintaan kita terhadap Pancasila serta nilai – nilai yang terkandung di dalamnya.
“Semoga masyarakat Kabupaten Asahan yang datang menonton pemutaran film ini dapat memaknai betapa kejamnya PKI saat itu dan sama kita tolak paham komunis,” ujar H Surya.

Lebih jauh, Surya juga mengingatkan kembali kepada generasi muda serta masyarakat bahwa sejarah kekejaman dan kebiadaban pengkhianatan G-30 S/PKI, harus di pahami oleh semua pihak mengenai bahaya latin Komunis sangat berbahaya bagi keutuhan bangsa dan Negara.
“Dalam hal ini ditujukan kepada generasi muda untuk kalian ketahui bahwa sejarah tidak boleh di lupakan, apalagi ini menyangkut sejarah kelam bangsa kita,” ujar Surya mengakhiri pidatonya.

Warga Konsumsi Beras Raskin yang Bercampur Padi


Masyarakat miskin di Kota Tanjungbalai yang berdomisili di 6 kecamatan, 31 Kelurahan diperkirakan mencapai ribuan jiwa. Mereka sangat mengharapkan adanya kepedulian dari Pemko Tanjungbalai terhadap nasib mereka. Beras dari bulog yang mereka konsumsi untuk makan sehari-hari warnanya agak kehitaman dan masih bercampur dengan padi.

Kepada wartawan Idah (49) dan Marni (50) warga Lingkungan IV, Kelurahan Muara Sentosa Tanjungbalai mengatakan, untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka, maka masyarakat harus pandai berhemat seperti membeli beras bulog.
Menurut mereka beras Bulog yang didapat di Kantor Lurah kondisinya berwarna kehitaman. Jika untuk dikonsumsi harus ditampi dan memilih padi yang berada di dalam kemasan karung beras Bulog.

Sementara Lurah Muara Sentosa Abd Hadi Lubis mengaku pernah kehilangan beras yang tersimpan di dalam kantor lurah. Namun menurut Hadi hal itu merupakan tanggungjawab pihak kelurahan dan pihak kelurahan wajib melakukan pergantian beras itu agar masyarakat yang punya jatah beras tidak kecewa.