Logo Design by FlamingText.com
Logo Design by FlamingText.com

DPD PEKAT INDONESIA BERSATU KABUPATEN ASAHAN

Sebagai bangsa yang besar dengan secara sadar, memiliki rasa tanggung jawab penuh dan turut ikut serta wajib membela dan menegakkan Persatuan dan Kesatuan serta Keutuhan bangsa dan Negara INDONESIA, merupakan bagian dari iman yang dapat diaktualisasikan dalam setiap peran kehidupan bermasyarakat dimanapun kita berada serta merupakan refleksi dari Undang Undang No. 20 Tahun 1982 pasal 2.

MUHAMMAD SYIHABUDDIN

KETUA DPD PEKAT INDONESIA BERSATU KABUPATEN ASAHAN

EFRIANTO RANY

SEKRETARIS DPD PEKAT INDONESIA BERSATU KABUPATEN ASAHAN

DOKUMENTASI

DOKUMENTASI KEGIATAN "DANA DESA UNTUK RAKYAT SEJAGTERA"

AGUS RAMANDA

WAKIL KETUA BIDANG OKK DPD PEKAT INDONESIA BERSATU KABUPATEN ASAHAN

Tuesday, 12 September 2017

ASAL USUL WARGA ASAHAN/KISARAN

Desa Sei Apung-Asahan, 1949

Siapa dan bagaimana asal usul masyarakat Asahan hingga saat ini masih belum ada yang mampu menjawabnya. Ada yang bilang warga Asahan berasal dari keturunan orang Jawa, ada yang mengatakan dari Batak, ada juga yang bilang dari Aceh Darusallam, dari India, China, dan Persia. 

Namun berdasarkan penemuan terbaru yang dilakukan oleh ahli sejarah di Asahan, ditemukan bukti kuat bahwa masyarakat Asahan merupakan keturunan dari Minangkabau. Hal ini diperkuat dengan bukti tentang penamaan beberapa daerah yang ada kaitannya dengan Minangkabau.

Penasaran dengan cerita-cerita dari para leluhur tersebut, akhirnya penulis yang merupakan putra asli kelahiran Asahan yakni di Simpang Enam Kisaran, Gang Belimbing Jalan Karttini mencoba menelusuri siapa sebenarnya nenek moyang masyarakat Melayu Asahan. Berdasarkan rasa penasaran tersebut penulis bertemu dengan seorang pria yang sudah cukup tua yakni Abdul Muis warga Asahan yang berusia sekitar 78 tahun.

Menurut Abdul, ia sendiri tidak mengetahui secara pasti siapa nenek moyang dan bagaimana asal usul masyarakat Melayu Asahan. Menurutnya, saat ia masih kecil, berdasarkan cerita kakeknya (atok/atuk/ompung), banyak versi yang menceritakan tentang asal usul masyarakat Melayu di Asahan. Hanya saja, Abul mengatakan, berdasarkan legenda sekitar ratusan tahun lalu, di Asahan ada pusat kerajaan di Batubara, Tanjungbalai, di Kota Kisaran, di Asahan, dan Kecamatan di Tanjung Alam, di Kecamatan Tinggi Raja dan ada kerajaan kecil lainnya. 

Mendengar pengakuan dari Abdul, akhirnya saya menelusuri wilayah Tanjung Alam untuk mencari kepastian/kebenaran tentang kerajaan yang pernah berdiri di daerah tersebut. Namun sayang, beberapa warga yang ditemui yakni Ibu Rahmawati (45), Ibu Siti (50) dan Iwan (43) mengaku secara pasti di mana pusat kerajaan di daerah tempat mereka tinggal. Tapi menurut legenda, memang di kampung mereka dulu pada masa ratusan tahun lalu pernah berdiri kerajaan yang diyakini sebagai cikal bakal Kerajaan Asahan.

Masih menurut mereka, di Tanjung Alam dulu sekitar tahun 1990 an juga pernah ditemukan beberapa bukti sejarah seperti gelang tangan kerajaan yang terbuat dari emas, mahkota kerajaan, guci, kapal/perahu yang tertanam di dalam tanah di pesisir pantai, dan tugu/prasasti dan masih banyak lagi. 

Jasnis Sulung budayawan dan pengamat sejarah Asahan yang ditemui mengatakan, di Asahan banyak kerajaan yang tidak tercatat dalam buku sejarah pelajaran di sekolah, mau pun buku sejarah kerajaan nasional. Anehnya pada buku sejarah kerajaan dari luar negeri seperti, China , Mesir, Arab , India, malah tercatat beberapa nama kerajaan yang pernah ada di Asahan.

Menurut Jasnis Sulung, berdasarkan hasil penelitiannya selama hampir 7 tahun lebih yang dilakukannya, baik melalui penelurusan langsung ke lokasi yang diyakini sebagai tempat berdirinya pusat beberapa kerajaan di Asahan dan buku sejarah kerajaan China masa dinasti Ming, Dinasti Han, Dinasti Tang dan Qing, serta buku sejarah kerajaan India kuno yang membahas tentang dinasti kerajaan Kerajaan Chola, buku Aceh Sepanjang Abad, Medan Tempoe Doeloe, ternyata ada banyak kerajaan yang ada di Asahan baik di Batubara, Asahan, Tanjungbalai yang tidak tercatat dalam buku pelajaran sejarah di sekolah dan buku sejarah Negara Kertagama.

Zasnis menambahkan, sebelum berdirinya kerajaan Istana Lima Laras, berdasarkan hasil penelusurannya selama ini dan berdasarkan buku sejarah yang dibacanya sebagai refrensi, nama Batubara di Asahan diambil dari sebuah batu di pendalaman yang pada malam hari mengeluarkan cahaya merah berapi.

“Demikian menurut catatan John Anderson, seorang utusan dari Gabenur Inggeris di Pulau Pinang ketika mengunjungi Batubara di tahun 1823 seperti dinyatakannya ‘Batubara is so called from a large stone in the interior, which at night has the appearance of being red hot, and throws a light around it,” ucap Zasnis. 

Zasnis menambahkan, berdasarkan cerita turun temurun rakyat Asahan, wilayah Batubara dulunya di huni oleh masyarakat dari asal Minangkabau yang mula-mula mendarat menaiki kapal ‘Gajah Ruku’.

“Nama-nama daerah di wilayah Batubara mengingatkan kita akan negeri asal nenek-moyang mereka seperti Lima Puluh, Lima Laras, Pesisir, Tanah Datar, tetapi apakah para pemukim pertama ini langsung datang dari Minangkabau atau melalui Siak, Zasnis tak berani memastikannya. 

Di tanah Minangkabau ada tiga luhak yang besar yaitu Luhak Tanah Datar, berkedudukan di Padang Datar di Ulak Tanjung Bungo, Luhak Agam di Padang Panjang dan Luhak Limapuluh Koto berkedudukan di Koto Nan Ampat, Paya Nan Kumbuh sekitar Payakumbuh. Demikianlah susunan ketiga masa adanya kerajaan Pagaruyung. 

Karena lalu lintas pada masa itu sebahagian besar melalui sungai maka hulu sungai sekitar Paya Kumbuh adalah Hulu Sungai Kampar kanan yang bermuara di sekitar Kampar, Pelalawan, agak jauh dari Sumatera Timur. Umumnya imigrasi dari Minangkabau melalui sungai itu ke Semenanjung Tanah Melayu, Negeri Sembilan. 

Sementara itu di Kerajaan Siak Inderapura juga mempunyai orang-orang besar, Datuk Empat Suku yaitu Datuk Lima Puluh bergelar Datuk Seri Bijuansa, Datuk Tanah Datar bergelar Datuk Seri Pekermaharaja, Datuk Pesisir bergelar Datuk Maharaja Ketuansa dan Datuk Kampar bergelar Datuk Seri Amar Wangsa, mereka berasal dari Minangkabau. Nama-nama itu meyakinkan kita adanya persamaan dengan yang di Batubara dan imigrasi dari wilayah-wilayah tadi yang ada di Siak ke wilayah Batubara dengan sekadar menyusur pantai saja arah ke utara dari Siak. 

Jasnis mengatakan, Batubara memberontak dari Aceh hingga Sultan Aceh langsung memimpin ekspedisi militer ke Batubara. Serangan kerajaan Aceh itu berhasil memukul raja Batubara. Beberapa kepala negeri Batubara menyatakan tunduk dan mereka menpersembahkan minuman dari air kelapa.. Rupa-rupanya salah satu dari air kelapa itu diberi racun sehingga ketika Sultan Aceh itu meminumnya ia jadi sakit, sehingga serta merta angkatan laut Aceh itu kembali pulang ke Aceh. Mereka yang memberontak kembali memperkuat Batubara.

Ketika Raja Kecil tiba dari Pagaruyung menjadi Sultan Siak, dengan bantuan orang-orang Minangkabau di Siak dan Batubara, mereka berhasil merebut takhta imperium Melayu Johor-Riau di tahun 1717. Kemudian setelah ia terusir oleh orang-orang Bugis dari Riau, ia kembali ke Siak menjadi raja di situ dan semasa pemerintahan di Siak tahun 1723 sampai 1740M, ia menetapkan pengangkatan raja-raja di Batubara, Perbaungan dan Denai. 

Sejak masa itu kerajaan-kerajaan Melayu di pesisir Sumatera Timur termasuk Batubara berada di bawah kekuasaan Siak. Setiap pengangkatan raja-raja yang baru termasuk Datuk di Batubara haruslah menghadap ke Sultan Siak untuk memperoleh cap yang baru. Untuk mewakili Sultan Siak di Batubara, diangkatlah seorang Bendahara di Bogak.

Pengangkatan para Datuk di wilayah Batubara tidaklah lagi berdasarkan adat Minangkabau di mana para Datuk itu mewakili suku turunan tertentu tetapi Datuk-datuk di Batubara sebagaimana halnya raja-raja di negeri Melayu adalah mengepalai suatu wilayah teritorial tertentu. 

Di daerah Bogak ada dua orang yang memperebutkan hak ini yaitu Datuk Temenggung diakui dan mendapat cap dari Siak dan Datuk Indra Muda mendapat cap dari Yang Dipertuan Besar Pelalawan yang merangkap juga Raja Muda Bogak. Kerana adanya perpecahan itu maka Sultan Asahan campur tangan dan mengusir baik Datuk Temenggung mau pun Datuk Indra Muda dan Bendahara yang mewakili Siak di situ. 

Sultan Serdang kemudian ikut campur pula dan mengangkat Datuk Lima Laras dengan cap dan gelar Datuk Laksamana Putera Raja. Memang keadaan di Batubara masa pertengahan abad kesembilan belas itu agak kacau kerana di Siak sendiri pemerintah agak lemah. Datuk Indra Muda yang diusir Sultan Asahan itu masih berkeinginan menjadi Datuk Bogak sehingga melalui Pengeran Langkat ia minta bantuan Siak memulihkan kedudukan itu di tahun 1862. 

Menurut laporan John Anderson di tahun 1823 itu mesti pun wilayah Batubara diperintah Siak dengan menempatkan wakilnya yaitu Bendahara di Bogak sejak 1804 dan para Datuk menerima pengangkatan dan cap dari Sultan Siak tetapi pada umumnya mereka seolah-olah negeri merdeka. Mereka menerima cukai import dan eksport yang berada di bawah Shahbandar Ahmad. Mereka membuat perjanjian dagang sendiri dengan Inggris dan menghukum serta membuat peraturan sendiri untuk rakyat mereka. 

Di tahun 1823 itu Datuk-datuk di Batubara ialah Datuk Seri Biji Diraja, Che Wang gelar Datuk Semu Wangsa, Wan Noordin bergelar Datuk Paduka Sri Laksamana, Sulaiman bergelar Datuk Seagar Raja. Di bawah Datuk-datuk ini ada dua-puluh orang Penghulu yang mengepalai distrik dan kampung-kampung. Di samping itu ada lagi Temenggung Abdul Latif yang mengepalai Kampung Bogak. 

Menurut Anderson Sungai Bedagai Mati adalah di bawah Batubara, begitu juga Sungai Tanjung dan Pagurawan. Kampung-kampung masa itu yang ada di Sungai Batubara ialah Bagan sebelah kiri, ada 75 buah rumah penduduknya nelayan, menyusul Bogak disebelah kanan, sungai memudik dengan 100 buah rumah, kemudian Kampung, tempat kediaman Datuk dengan 200 buah rumah. Di ketiga buah kampung ini berdiam kebanyakan nakhoda dan anak buah kapal perahu-perahu dagang. Wanita di sini terkenal kerana penenun kain. Sedikit di atas Bagan, sungai terbahagi dua, yang pertama Tanah Datar dan kedua Limapuluh. Di atas Sungai Tanah Datar kita dapati kampung-kampung Permatang, Lahuhan Ruku, Terusan, Pahang, Pelangkai, Padang Ganting, Kampung Panjang, Sejamput, Kelobot, Kelubi, Simpang, Lima Puluh. Di atas Sungai Lima Laras ada Kampung Nibung Angus, Kampung Lalang, Sentang, Pinang, Kedah, Asam Bacang, Pengalai, Raja dan Tanjung Rawa. 

Produksi Batubara umumnya rotan, ikan asin, kuda, kain bertabur, import adalah candu, benang emas, garam, kain berbagai ragam. Penduduk Batubara merupakan pemilik dan anak-buah kapal-kapal yang mengangkut barang-barang dari negeri-negeri Melayu di pantai Sumatera Timur ke Penang dan Melaka. Yang disebut itu kebanyakan penduduknya kaya dan mempunyai kapal-kapal besar. Hamba-hamba orang Batak dari pendalaman diangkut dalam jumlah besar. 

Menurut Syahbandar ada 600 buah kapal besar yang dimiliki Batubara yang setiap kali dipakai dalam perniagaan. Di setiap rumah di Batubara ditemui industri kerajinan tenun dan dieksport ke negeri Melayu di Sumatera dan Malaya . 

Penduduk: Penduduk Melayu berjumlah kira-kira 10,000 orang dan 4,000 orang sebagai perajurit perang. Orang Batak ada di pendalaman dari suku Kataran atau Simalungun. Raja-raja Simalungun memberikan puteri mereka kepada Datuk-datuk Melayu dengan bayaran 300-400 dollar untuk upacara perkahwinan ditambah persembahan 10 sampai 12 orang budak, beberapa ekor kuda dan kerbau. 

Cukai: Batubara adalah ‘free-port’, pelabuhan bebas dan mata-wang berbagai negara dapat dipakai di sini. Sungai Silow merupakan batas Batubara dengan Asahan. 

Kampung Bagan di bawah Penghulu Mohamad masih di bawah Batubara. Dengan bantuan Siak dan Belanda, Datuk Indra Muda mengangkat anaknya, Orang Kaya Abdul Samad sebagai Datuk Bogak. Tetapi Datuk Laksamana Putera Raja dari Lima Laras menentang Belanda. 

Ketika ekspedisi militer Belanda kedua terhadap Asahan dan Serdang yang melawan dilancarkan pada tahun 1865, penyerangan pertama ialah ke Batubara pada tanggal 12 September untuk mencari Datuk Lima Laras yang kemudian diketahui bersembunyi di Serdang. Maka puteranya Orang Kaya Abdullah yang menentang lalu rumahnya dikepung dan setelah perlawanan singkat ia dapat ditangkap dan dibawa ke kapal perang Belanda serta senjata dan rumahnya dibakar Belanda. 

Datuk Laksamana dari Lima Laras diketahui Belanda aktif sebagai perantara antara Sultan Serdang dengan Sultan Asahan dan Inggeris di Penang di dalam menentang penetrasi Belanda ke Sumatera Timur dan pada tanggal 17 September dalam ekspedisi militer Belanda beliau naik kapal meninggalkan Batubara menuju Asahan dan Serdang. 

Di dalam tahun 1882 oleh pemerintah India-Belanda ditetapkanlah batas antara daerah kekuasaan Datuk-datuk di Batubara. Ketika pada tanggal 31hb Mei, 1884 diadakan perjanjian di mana pemerintah India-Belanda mengambil alih hak pajak dan monopoli. Maka kesatuan Shahbandar di Batubara juga dihapuskan. 

Kepada para datuk Tanah Datar, Bogak, Lima Puluh, Lima Laras dan Pesisir diberikan ganti rugi masing-masing sebesar 2,000 guilder setahun sebagai ganti rugi hak yang dimiliki itu dan kepada Datuk Lima Puluh diberikan lagi tambahan ganti rugi sebesar 875 guilder kerana pengambilan alih hak cukai di muara Sungai Gambus dan Telok Piai dan 750 guilder kepada Shahbandar Batubara kerana ia kehilangan hak ambil terhadap cukai di Batubara. Pada tanggal 16 Juli 1889, 11 November 1890 dan 25 Oktober dibuatlah perjanjian dengan kerajaan-kerajaan di Batubara sama seperti bunyinya dengan Kota Pinang. 

Kemudian perjanjian serupa dibuat pula oleh Belanda dengan jajahan Siak iaitu Tanjung, Sipare-pare dan Pagurawan di mana Siak melepaskan haknya atas ketiga daerah kecil ini juga dimasukkan ke dalam Afdeeling Batubara. Tiga daerah Simalungun iaitu Tanah Jawa, Permatang Siantar dan Tanjung Kasau di tahun 1888. 

Jasnis menambahkan, Tahun 1894, Raja Pagurawan, Datuk Setia Wangsa dibuang selama lima tahun ke Bengkalis oleh Belanda dan digantikan puteranya Datuk Setia Maharaja Lela. Begitu juga Raja Tanjung Kasau dijatuhkan Belanda di tahun 1900 digantikan oleh adiknya Raja Maharudin. Adapun gelar Raja-raja di Batubara tahun 1900 ialah Tanah Datar, Datuk Seri Biji Diraja, Bogak, Datuk Indra Muda, Lima Puluh, Datuk Seri Maharaja, Lima Laras, Datuk Maharaja Seri Indera, Pesisir, Datuk Semuawangsa, Tanjung, Datuk Indera Setia, Sipare-pare, Datuk Sutan Pahlawan, Pagurawan, Datuk Setia Maharaja Lela. 

Dengan Beslit 1887 No 21, residen Sumatera Timur dibahagi dalam Lima Afdeeling, antara lain Afdeeling Batubara berkedudukan di Labuhan Ruku di bawah seorang Kontelir Belanda. Kemudian wilayah Batubara juga tidak ketinggalan di buka oleh maskapai asing perkebunan tembakau di tahun 1885. Ada 565 pak meningkat di tahun 1889 menjadi 2,877 pak tembakau. Perkebunan tembakau di tahun 1900 ada 7 buah dan 3 buah perkebunan kopi di Batubara mengingat jejak Deli-Serdang di tahun 1906 dibuka kebun Lima Puluh oleh Deli Batavia Maskapai. 

Dengan Beslit Gabenor-General tahun 1920 beberapa kerajaan di Batubara disatukan dengan yang lain, seperti daerah Tanjung, Sipare-pare, Tanjung Kasau dan Pagurawan disatukan dan dijadikan satu kerajaan bernama Inderapura di mana diangkat oleh Belanda salah seorang pegawainya, seorang bangsawan bernama Tengku Abdullah Seman alias Tengku Busu iaini menandatangani penyataan pendek Korte Verklaring 21.10.1920. 

Begitu juga kerajaan Lima Laras dihapuskan bersama Bogak dan disatukan menjadi sebuah kerajaan Suku Dua. Yang menjadi raja diangkatlah Ahmad Khalil, Datuk Suku Dua yang menandatangani Korte Verklaring tahun 1920. Kerajaan Limapuluh menandatangani Korte Verklaring untuk pertama kali dilakukan oleh Wan Alang, Datuk Maharaja Seri Indera Muda pada tanggal 14.8.1907. Datuk Abdullah, Datuk Lela Wangsa dari Pesisir menandatanganiKorte Verklaring pada tanggal 14.7.1907 dan Tanah Datar pada tanggal 14.8.1907 yang ditandatangani oleh Datuk Sharoni, Seri Indera Diraja. 

Pada bulan Augustus 1930, ahli waris tata kerajaan Lima Laras, OK Abdul Rahim telah berangkat sendiri ke Batavia untuk menuntut kepada Gabenor-General hak atas kerajaan Lima Laras yang dihapuskan dan disatukan Belanda dengan Bogak, iIa tidak berhasil. Pada 19 Juli 1934, ditabalkanlah Datuk Abdul Jalil alias Datuk Abdul Rani menjadi Datuk Pesisir yang baru. Begitu juga pada bulan Juli, 1939, Wan Ingah Mansyur ditabalkan menjadi Datuk Lima Puluh pada tanggal 22 Juli, 1940, Wan Asmayudin pula ditabalkan menjadi Datuk Suku Dua. Suatu gabungan kerajaan yang baru didirikan Belanda di tahun 1927. 

Dari hasil penelitian pemerintahan Belanda yang mengumpulkan bahan-bahan dari sumber setiap kerajaan di Batubara disimpulkan Batubara dihuni oleh pemukim dari Siak. Pada abad ke-17 sukubangsa Karo (Karo Jahe) turun ke wilayah pesisir dan mendirikan urung (negeri) di Langkat, Deli, dan Serdang. Dalam kurun ini juga lahir beberapa kerajaan kecil di pesisir Sumatera Timur.

Salah seorang panglima Sultan Iskandar Muda Aceh bernama Sri Paduka Gocah Pahlawan, bergelar Laksamana Khoja Bintan. Ia menjadi Wali Negara di Deli. Panglima Khoja Bintan berusaha meningkatkan wibawanya untuk memperlancar proses Islamisasi (Melayunisasi) dengan jalan mendekati empat raja urung di Deli yang berasal dari Karo dan beragama Islam.

Ia juga menikah dengan adik Datuk Sunggai, yaitu raja urung yang terkuat pada masa itu. Sebagai hadiah pernikahan, ia diangkat sebagai Panglima Kerajaan Bintan kawasan pesisir Deli dan berdudukan sebagai wakil Aceh. Ia menjadi primus inter pares di antara raja-raja itu. Pada masa pemerintahan putranya, Tuanku Panglima Perunggit, Aceh menjadi lemah, terutama sejak pemerintahan dipegang oleh raja-raja wanita (mungkin mengikuti jejak negeri-negeri di Sumatera Barat).

Kesempatan ini digunakan Deli untuk memproklamasikan kemerdekaannya dari Aceh pada tahun 1699 (Sinar, 1980a). Kemudian Deli berhubungan dengan VOC di Betawi dan Melaka. Pada zaman pemerintahan putra Perunggit, yaitu Tuanku Panglima Paderap, pada awal abad ke-18 terdapat ancaman dari Siak. Pemerintahan Imperium Melayu Riau-Johor mulai lemah di bawah kekuasaan Sultan Mahmudsyah II yang terbunuh pada tahun 1699 (dan diberi gelar Marhum Mangkat Di Julang).

Sejak itu Bendahara Tun Habib Amudi Nadji menjadi raja Johor dan keturunan raja-raja Melaka putus. Peristiwa ini menimbulkan kekacauan yang lebih besar, terutama dengan munculnya Raja Kecil dari Minangkabau melalui Siak yang mengaku dirinya sebagai putra Marhum Mangkat Di Julang. Dia berhasil merebut ibukota Johor dan memproklamasikan dirinya dengan gelar Sultan Djalil Rahmatsyah pada 21 Maret 1717.

Dengan meninggalnya Panglima Paderap di Deli, terjadi perang saudara di antara ke-4 putranya, sehingga putra mahkota (bungsu) terpaksa mengungsi ke wilayah Serdang dan mendirikan Kerajaan Serdang pada tahun 1720, sedangkan kakaknya, Panglima Gandar Wahid menjadi raja di Deli.

Saat pemerintahan putra Gandar Wahid, yaitu Tuanku Amal, Siak menaklukkan Deli (1780), kemudian Amal diangkat menjadi Sultan Panglima Mangedar Alam Deli dengan akta Sultan Siak tertanggal 8 Maret 1814. Sultan Amal pernah ditemui John Anderson yang berkunjung ke Deli pada tahun 1823 (Edinburgh, 1826: 305–306; Sinar, 1970a: 33–47).

Di Serdang, keturunan Tuanku Umar Kejeruan Junjungan melebarkan wilayahnya ke Denai, Perbaungan, Serbajadi, Percut, Padang, Bedagai, dan Senembah, sampai ke pegunungan yang dihuni orang Karo dan Simalungun. Pada zaman cucunya, Sultan Thaf Sinar Basyarsyah (1790–1850), Serdang merupakan kerajaan yang makmur dan tenteram, seperti kesan John Anderson ketika berkunjung ke wilayah tersebut, pada tahun 1823.

15 Misteri Rumah Sakit Umum Katarina Kisaran, Ternyata Angker Banget!


Rumah Sakit Umum (RSU) Katarina Kisaran berlokasi di Kisaran Barat, Kabupaten Asahan, Sumatera Utara tidak jauh dari bukit Katarina. Rumah Sakit ini merupakan peninggalan Belanda yang menjadi tempat rujukan pasien kritis dari berbagai puskesmas di daerah tersebut. Kini namanya berubah menjadi Rumah Sakit Ibu Kartini.

Rumah Sakit memang dipercaya masyarakat sebagai tempat yang menyimpan banyak misteri dan hal-hal mistis. Hal tersebut diyakini karena Rumah Sakit menjadi tempat kejadian orang-orang menemui ajalnya. Ada yang meninggal dalam kondisi baik, utuh sempurna, dan ada juga yang meninggal dalam bentuk tak beraturan karena kecelakaan, dibunuh, dan lain sebagainya. Semua bercampur baur di tempar tersebut.

Tidak mengherankan jika di RSU Katarina Kisaran banyak misteri yang masih belum terungkap. Apa saja misterinya? Mari kita simak bersama.

1. Misteri Asal-Usul Nama RSU Katarina Kisaran
Konon nama RSU Katarina Kisaran diambil dari nama seorang dokter yang bertugas dari Belanda yang bernama Catherine. Dokter tersebut merupakan dokter pertama yang ada di Rumah Sakit tersebut.

2. Misteri Mimpi Sukino di RSU Katarina Kisaran
Konon Sukino dirawat di RSU Katarina Kisaran bermimpi di malam Jum’at, Ia bertemu dengan seorang laki-laki gagah perkasa, menggunakan pakaian kebesaran Cina. Kemudian, Sukino diajak masuk ke dalam istana di bawah bukit Katerina. Istana tersebut sangat indah dan Ia disambut baik disana hingga ia merasa tidak ingin pulang.

Namun ketika ia akan mencicipi hidangan yang diberikan, ada kekuatan ghaib yang mendorongnya kelar dari tempat tersebut. Disaat itulah Ia terbangun dan menyadari bahwa dia sedang berada di Rumah Sakit.

3. Misteri Kisah Salima dan Jarum Gantung di RSU Katarina Kisaran
Konon pada era tahun 80-an kisah Salima dan jarum gantung di RSU Kisaran amat melekat dalam benak masyarakat setempat. Konon Salima dan jarum gantung dijadikan idiom ketika kondisi pasien sedang kritis, atau dalam kondisi antara hidup dan mati. Oleh karenanya, pihak keluarga harus bersiap dengan banyak berdoa dan berserah diri, bisa jadi nyawa pasien tidak dapat tertolong.

4. Misteri RSU Katarina Kisaran Telantarkan Pasien
Mei 2016 silam, RSU Katarina Kisaran diberitakan menelantarkan pasien. Ialah Sulastri wanita berusia 36 tahun asal desa Aek dirujuk ke Rumah Sakit tersebut karena bayinya yang berusia 6 bulan meninggal dalam kandungan. Namun, ternyata tidak ada tindakkan apapun yang dilakukan oleh para dokter hingga pasien merasa geram dan kecewa.

5. Misteri Pegawai RSU Katerina Kisaran Jadi Bandar Narkoba
Dikabarkan salah satu pegawai RSU Katerina Kisaran menjadi bandar sabu-sabu. Ia di ringkus oleh satuan Narkoba Polres Tebing Tinggi dengan barang bukti sabu-sabu seberat 5,43 gram.

6. Misteri Ular Naga dan Ikan Dungdung di Bukit Katarina
Bukit Katarina yang dekat dengan RSU Katarina Kisaran ternyata menyimpan misteri yang sejak dulu dipercaya masyarakat setempat. Konon, di bukit tersebut dahulu menjadi tempat pertempuran panglima perang kerajaan Cina dengan Raja Maria Pane ke-7. Setelah bertarung, ternyata tidak ada yang kalah dan menang, sehingga keduanya berubah menjadi ikan dundung dan ular naga.

7. Misteri Makhluk Bermahkota di Gua Dekat RSU Katarina Kisaran
Konon, gua kisaran menyimpan misteri yang belum terpecahkan. Dahulu, ada orang yang berkhasil masuk kedalam gua tersebut diantar oleh seorang kakek misterius menuju gua dengan berjalan di atas air sungai. Mereka melihat mahkota bercahaya di dalam gua yang ternyata merupaka sosok seperti ular raksasa.

8. Misteri Bukit Katarina
Bukit katerina merupakan bukit kecil dari gundukan tanah biasa yang tingginya kurang lebih 50 meter. Berlokasi dekat dengan RSU Katarina Kisaran, nama bukit Katerina konon berasal dari nama Rumah Sakit tersebut.

9. Misteri Pasien RSU Katarina Kisaran
Salah satu pasien di RS tersebut adalah pasien wanita yang bernama Ita, selama 6 bulan ia dirawat, namun tidak juga sembuh. Hal yang menganehkan adalah wanita tersebut berusia 19 tahun namun wajahnya seperti nenek-nenek berusia 70 tahun. Konon berawal dari mimpi dikejar-kejar 2 ekor ular berwarna hitam, kemudian dia berubah dadanya mengeriput. Selama 6 bulan di rawat, dokter menyatakan tidak ada penyakit yang diderita Ita.

10. Misteri Penampakkan Makhluk Halus di RSU Katarina Kisaran
Seperti Rumah Sakit pada umumnya, konon di tempat tersebut juga terkadang ada penampakkan makhluk lain yang terlihat oleh pengunjung.

Ternyata masih banyak misteri lain di Rumah Sakit Katarina Kisaran yang berlum terungkap, diantaranya:

11. Misteri Goa Kisaran
12. Misteri Bukit Katerina
13. Misteri Pembunuhan Tukang Becak Dekat RSU Kisaran
14. Misteri Pasien Kritis di RSU Katarina Kisaran
15. Misteri kakek Samudi

Keberadaan makhluk halus di Rumah Sakit, memang menjadi cerita mistis yang beredar di masyarakat. Mereka percaya akan keberadaan makhluk tersebut disana. Terlepas dari semua itu, selama kita tidak berniat jahat dan mengganggu tentu kita tidak akan mendapatkan masalah yang berarti. Kita hanya perlu hidup berdampingan, tanpa saling mengusik satu sama lain.

Sejarah Kota Kisaran


Nama Resmi : Kabupaten Asahan
Ibukota : Kisaran
Luas Wilayah: 462.441 Ha
Alamat Kantor: Jl. Jend. Sudirman No. 5, Kisaran - Sumatera Utara
Telp. (0623) 41100, 41200 Fax. (0623) 433333
Kisaran adalah ibukota Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara yang berjarak ± 160 Km dari ibu kota Provinsi Sumatera Utara (Medan). Kisaran meliputi dua kecamatan yaitu: Kota Kisaran Barat dan Kota Kisaran Timur. Kisaran selain dilintasi oleh Jalan Raya Lintas Sumatera juga terletak di jalur KA Sumatera bagian utara.

Dengan mempertimbangkan posisi yang lebih strategis, maka pada tanggal 20 Mei 1968, melalui PP Nomor 19 Tahun 1980, ibukota Kabupaten Asahan dipindahkan dari Kota Tanjung Balai ke Kota Kisaran. Status Kisaran sebelumnya adalah kota administratif, yang kemudian dihapuskan menjadi kecamatan biasa pada tahun 2003 karena tidak memenuhi persyaratan peningkatan daerah otonom.

Asal Mula Nama ”Kisaran”

Menurut buku Cerita Rakyat: ”Legenda Kisaran Naga” yang dikarang oleh Bapak. R. Sutrisman, M.E.S.Sos. bahwa nama Kisaran diambil dari sebuah perkampungan yang disebut Kampung Kisaran Naga.

”pada suatu hari hujan turun sangat lebat, petir sambung menyambung, angin topan bertiup sangat kencang, kayu ara dan pohon kelapa di tepi sungai bertumbangan. Sehingga orang-orang kampung pun berhamburan keluar rumah karena takut tertimpa pohon yang roboh . air-air sungai mendadak naik sampai ke bibir sungai. Dalam kepanikan itu tiba-tiba salah seorang warga melihat ada makhluk yang berkisar-kisar di bawah timbunan pepohonan yang tumbang. Dan rumput kelayau pun terkuak seolah-olah ada yang membuka. Ia pun berteriak ”naga berkisar,....naga berkisar.....” orang kampung pun segera mendekati orang yang berteriak tersebut. ”mana ular naganya??” orang yang pertama melihatpun menunjuk ke arah tumpukan pepohonan yang tumbang ”itu........., tengoklah”. Mereka melihat dengan jelas seekor ular besar seperti naga tubuhnya bahkan lebih besar dari pohon durian tua dan sangat panjang. Tubuh ular itu sudah berselimut, bahkan rumput-rumputan sudah tumbuh di atasnya. Ular naga itu terus bergerak berkisar dengan mengibas-ngibaskan ekornya untuk menyingkirkan pepohonan yang menimpa tubuhnya. Lalu ia menuju ke sungai yang sudah meluap dan menghanyutkan diri ke hilir sungai silau, sampai ke muara sungai Asahan di Tanjung Balai.

Itulah sekelumit dongeng asal mula nama ”Kisaran”
Perjalanan Sultan Aceh "Iskandar Muda" ke Johor dan Malaka tahun 1612 dapat dikatakan sebagai awal dari sejarah Asahan. Dalam perjalanan tersebut, rombongan Sultan Iskandar Muda beristirahat di kawasan sebuah hulu sungai yang kemudian dinamakan Asahan. Perjalanan dilanjutkan ke sebuah "Tanjung" yang merupakan pertemuan antara sungai Asahan dengan sungai Silau, kemudian bertemu dengan Raja Simargolang. Di tempat itu juga Sultan Iskandar Muda mendirikan sebuah pelataran sebagai "Balai" untuk tempat menghadap, yang kemudian berkembang menjadi perkampungan. Perkembangan daerah ini cukup pesat sebagai pusat pertemuan perdagangan dari Aceh dan Malaka, sekarang ini dikenal dengan "Tanjung Balai".


Dari hasil perkawinan Sultan Iskandan Muda dengan salah seorang putri Raja Simargolang, lahirlah seorang putera yang bernama Abdul Jalil yang menjadi cikal bakal dari kesultanan Asahan. Abdul Jalil dinobatkan menjadi Sultan Asahan I. Pemerintahan kesultanan Asahan dimulai tahun 1630 yaitu sejak dilantiknya Sultan Asahan yang I s/d XI. Selain itu di daerah Asahan, pemerintahan juga dilaksanakan oleh datuk-datuk di wilayah Batubara dan ada kemungkinan kerajaan-kerajaan kecil lainnya.


Tanggal 12 September 1865, kesultanan Asahan berhasil dikuasai Belanda. Sejak itu, kekuasaan pemerintahan dipegang oleh Belanda. Kekuasaan pemerintahan Belanda di Asahan/Tanjung Balai dipimpin oleh seorang Kontroler, yang diperkuat dengan Gouverments Besluit tanggal 30 September 1867, nomor 2 tentang pembentukan Afdeling Asahan yang berkedudukan di Tanjung Balai dan pembagian wilayah pemerintahan dibagi menjadi tiga, yaitu:
1) Onder Afdeling Batubara
2) Onder Afdeling Asahan
3) Onder Afdeling Labuhan Batu
Kerajaan Sultan Asahan dan pemerintahan Datuk-datuk di wilayah Batubara tetap diakui oleh Belanda, namun tidak berkuasa penuh sebagaimana sebelumnya. Wilayah pemerintahan Kesultanan dibagi atas Distrik dan Onder Distrik, yaitu:
1) Distrik Tanjung Balai dan Onder Distrik Sungai Kepayang
2) Distrik Kisaran
3) Distrik Bandar Pulau dan Onder Distrik Bandar Pasir Mandoge
Sedangkan wilayah pemerintahan Datuk-datuk di Batubara dibagi menjadi wilayah Self Bestuur, yaitu:
1) Self Bestuur Indrapura
2) Self Bestuur Lima Puluh
3) Self Bestuur Pesisir
4) Self Bestuur Suku Dua (Bogak dan Lima Laras)
Pada tanggal 13 Maret 1942, Pemerintahan Belanda berhasil ditundukkan Jepang. Oleh Pemerintahan Fasisme Jepang yang dipimpin T. Jamada, mengganti nama struktur pemerintahan menjadi Asahan Bunsyu dan bawahannya Fuku Bunsyu Batubara. Selain itu, wilayah yang lebih kecil dibagi menjadi Distrik, yaitu Distrik Tanjung Balai, Kisaran, Bandar Pulau, Pulau Rakyat dan Sei Kepayang.


Pemerintahan Fasisme Jepang berakhir pada tanggal 14 Agustus 1945 dan tanggal 17 Agustus 1945, kemerdekaan Republik Indonesia diproklamirkan. Sesuai dengan perkembangan Ketatanegaraan RI, maka berdasarkan UU Nomor 1 Tahun 1945, Komite Nasional Indonesia wilayah Asahan dibentuk pada bulan September 1945. Pada saat itu pemerintahan yang dipegang oleh Jepang sudah tidak ada lagi, tapi pemerintahan Kesultanan dan pemerintahan Fuku Bunsyu di Batubara masih tetap ada.
Pada tanggal 15 Maret 1946, berlaku struktur pemerintahan RI di Asahan dan wilayah Asahan dipimpin oleh Abdullah Eteng sebagai Kepala Wilayah dan Sori Harahap sebagai Wakil Kepala Wilayah, sedangkan Asahan dibagi atas 5 (lima) kewedanaan, yaitu:
1) Kewedanaan Tanjung Balai
2) Kewedanaan Kisaran
3) Kewedanaan Batubara Utara
4) Kewedanaan Batubara Selatan
5) Kewedanaan Bandar Pulau
Kemudian setiap tahun, tanggal 15 Maret diperingati sebagai "Hari Jadi Kabupaten Asahan".
Pada Konferensi Pamong Praja se-Keresidenan Sumatera Timur pada bulan Juni 1946 diadakan penyempurnaan struktur pemerintahan, yaitu:
1) Sebutan Wilayah Asahan diganti dengan Kabupaten Asahan
2) Sebutan Kepala Wilayah diganti dengan Bupati
3) Sebutan Wakil Kepala Wilayah diganti dengan Patih
4) Kabupaten Asahan dibagi menjadi 15 (lima belas) wilayah kecamatan, terdiri dari:
a) Kewedanaan Tanjung Balai dibagi atas:
(1) Kecamatan Tanjung Balai
(2) Kecamatan Air Joman
(3) Kecamatan Simpang Empat
(4) Kecamatan Sei Kepayang
b) Kewedanaan Kisaran dibagi atas:
(1) Kecamatan Kisaran
(2) Kecamatan Air Batu
(3) Kecamatan Buntu Pane
c) Kewedanaan Batubara Utara dibagi atas:
(1) Kecamatan Medang Deras
(2) Kecamatan Air Putih
d) Kewedanaan Batubara Selatan dibagi atas:
(1) Kecamatan Talawi
(2) Kecamatan Tanjung Tiram
(3) Kecamatan Lima Puluh
e) Kewedanaan Bandar Pulau dibagi atas:
(1) Kecamatan Bandar Pulau
(2) Kecamatan Pulau Rakyat
(3) Kecamatan Bandar Pasir Mandoge

Foto: Tugu Selamat Datang

Dengan mempertimbangkan posisi yang lebih strategis, maka pada tanggal 20 Mei 1968, melalui PP Nomor 19 Tahun 1980, ibukota Kabupaten Asahan dipindahkan dari Kota Tanjung Balai ke Kota Kisaran.

Foto: Mesjid Agung Ahmad Bakrie

Menelusuri Asal Nama Asahan


Asahan merupakan nama salah satu kabupaten di Sumatera Utara. Dulunya kabupaten Asahan meliputi daerah kabupaten Batu Bara, Pemko Tanjungbalai dan kabupaten Asahan sendiri. Seiring dengan perjalanan waktu, daerah ini dimekarkan menjadi dua kabupaten dan satu pemerintahan kota. Pada awalnya penulis menduga nama kabupaten Asahan dambil dari nama salah satu sungai yang mengalir di daerah ini, yaitu sungai Asahan. Namun ternyata setelah dipelajari, nama Asahan memiliki latar sejarah yang cukup panjang. Pengalaman serupa bisa jadi juga dialami oleh banyak orang yang menduga bahwa nama kabupaten Asahan berasal dari nama sungai Asahan seperti yang dialami oleh penulis. Inilah diantara latar belakang dasar ketertarikan penulis untuk mencoba melakukan penelusuran asal nama Asahan.

Jauh sebelum Indonesia merdeka, di daerah kabupaten Asahan terdapat satu kesultanan yang bernama kesultanan Asahan. Kesultanan Asahan menurut sejarawan Tanjungbalai, Drs.H.Arifin, berdiri pada tahun 1620, dihitung sejak penabalan sultan pertama, yakni Sultan Abdul Jalil. Pendapat lain menyebutkan bahwa Sultan Asahan pertama ditabalkan bukan pada tahun 1620, tetapi pada tahun 1630. Terkait perbedaan pendapat tentang angka tahun penabalan sultan pertama Asahan ini barangkali akan dibahas dalam tulisan tersendiri nantinya. Namun yang jelas kesultanan Asahan sudah berdiri sejak awal abad ke 17. Dan sejak itu pula nama Asahan sudah ada.

Dalam buku Sumatera Utara Dalam Lintasan Sejarah yang diterbitkan tahun 1995 oleh Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Sumatera Utara dijelaskan bahwa nama “Ashacan” sudah ada di dalam catatan Portugis tahun 1613 oleh De Eredia. Dengan demikian bisa disimpulkan bahwa nama Asahan tentunya sudah ada sebelum tahun 1613 dan itu sebelum penabalan sultan pertama Asahan.

Menurut Zasnis Sulungs (sejarawan Asahan) nama Asahan pertama kali ditabalkan oleh Sultan Aceh Alauddin Riayat Syah Al Qahhar bersama rombongan ketika menemukan jenis rumput yang daunnya dapat mengasah atau membersihkan benda-benda berkarat di Teluk Piai sekarang daerah bernama Dusun Persembahan Desa Sei Paham – Kepayang. Inilah asal mula, diberi nama negeri Asahan pada tanggal 31 Desember 1540 M setelah melakukan kajian dari berbagai literatur dan observasi lapangan.

Foto: Rumput Asahan

Pendapat lain menyebutkan bahwa nama Asahan bukan berasal dari cerita penemuan rumput yang dapat digunakan untuk membersihkan benda-benda berkarat seperti yang diceritakan oleh Zasnis Sulungs. Menurut Alek Margolang (salah seorang keturunan raja Simargolang) nama Asahan berasal dari kebiasaan raja Simargolang mengasah Piso Gading/ Mata Halasan di Aek Toba. Jadi berawal dari “Asah – Halasan” sehingga kemudian dikenal dengan Asahan atau dalam catatan Portugis disebut Ashacan. Aek Toba sendiri merupakan sebutan untuk nama sungai Asahan dulunya oleh warga kerajaan Simargolang di daerah Pulau Raja. Pendapat ini sangat masuk akal, karena Aek itu artinya air, sehingga bisa diterjemahkan bahwa Aek Toba adalah air yang mengalir dari danau Toba atau dari daerah Toba.

Foto: Mata Halasan

Faktor penyebab Aek Toba kemudian lebih dikenal dengan nama sungai Asahan menurut hemat penulis itu dikarenakan di hilir sungai ini (Tanjungbalai) terdapat pusat kesultanan Asahan yang sejak berdirinya mulai ramai didatangi oleh para pedagang dan pendatang dari berbagai daerah. Sehingga bisa jadi kemudian orang-orang yang datang ke Asahan menyebut sungai tersebut dengan nama sungai Asahan karena di daerah tersebut terdapat kesultanan Asahan.

Nama Asahan dalam perjalanannya kemudian semakin dikenal tidak hanya di tingkat nasional tapi juga di tingkat internasional menurut penulis disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya: Pertama, keberadaan kesultanan Asahan sendiri yang berpusat di Tanjungbalai yang berkembang menjadi daerah pusat perdagangan sejak abad ke 17. Kedua, keberadaan sungai Asahan sebagai satu-satunya sungai yang mengalir dari Danau Toba. Ketiga, proses penelitian dan pengembangan proyek raksasa Asahan (PLTA Siguragura dan Inalum) dan masih banyak faktor lain yang turut mempengaruhi semakin populernya nama Asahan.

Dari uraian singkat di atas dapat disimpulkan bahwa nama Asahan bukan berasal dari nama sungai Asahan. Kedua, nama Asahan punya hubungan sejarah dengan kesultanan Asahan di Tanjungbalai dan kerajaan Simargolang di Pulau Raja. Ketiga, nama Asahan sudah ada sebelum kesultanan Asahan berdiri. Tentang dari mana asal kata Asahan masih perlu proses penelitian lebih lanjut.

Monday, 11 September 2017

Berantas Narkoba, BrigJend Pol Siswandi Bersama PEKAT IB Luncurkan Film 3 Pilihan Hidup


Narkoba adalah penyakit internasional, dampaknya sangat luas dan membahayakan anak bangsa, terkhususnya generasi muda Indonesia. Oleh sebab itu, Kepolisian Republik Indonesia tidak pernah tinggal diam, selain penindakan dan aksi preventif lainnya, beberapa inovasipun dimunculkan.

Kali ini, setelah film Marry go round yang dirilist sebelumnya, telah meraup jutaan penonton di Indonesia, BrigJend Pol Siswandi bekerjasama dengan Ormas PEKAT (Pembela Kesatuan Tanah Air) Indonesia Bersatu, kembali merilist film fenomenal dan sangat mendidik yang berjudul ‘3 Pilihan Hidup’. Sehingga, saat ini masyarakat-pun sudah sangat takut dengan ancaman dan akibat dari narkoba.

Menurut sumber Jurnal.News, bahwa setelah penanda tanganan MOU antara Ormas PEKAT Indonesia Bersatu (PEKAT-IB) dengan BNN dan Kementrian Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan (KEMENKO POLHUKAM), maka Ormas PEKAT IB menjadi garda terdepan untuk penyelamatan anak bangsa dari bahaya Narkoba.

“Untuk itu, seluruh kader PEKAT-IB diseluruh nusantara senantiasa selalu mengawal dan memberikan arahan kepada generasi muda, tentang bahaya narkoba yang bisa mengancam keselamatan jiwa serta merusak norma kehidupan,” ungkap Rudy Koto, aktivis PEKAT IB di Sumatera Barat, menirukan apa yang disampaikan oleh Ketua Umum PEKAT Indonesia Bersatu, Markoni Koto, kepada kadernya seluruh Indonesia.


Makna dari film yang berjudul ‘3 Pilihan Hidup’ tersebut adalah; rehabilitasi, penjara dan kuburan (alias meninggal dunia). Oleh sebab itu, tidak ada pilihan yang menguntungkan jika sudah bersentuhan dan/ atau memakai yang namanya narkoba.

“Semoga film ini menjadi sebuah pembelajaran dan menjadi cambuk untuk berhenti serta meninggalkan mengkosumsi narkoba. Narkoba adalah musuh No 1 negara pada saat ini

Narkoba merupakan teroris bagi anak bangsa,” ungkap kader lainnya PEKAT IB kepada Jurnal.News, dengan semangat berantas narkoba.

Sebagaimana yang dilansir oleh Jagratara.co, dan juga Brigjend Pol Siswandi, kepada Jurnal.News, mengingatkan kepada bangsa ini bahwa masalah penyalahgunaan narkoba di Indonesia saat ini sudah mencapai titik yang sangat mengkhawatirkan. Apalagi, penyalahgunaan narkoba tidak membedakan strata sosial, ekonomi, usia maupun tingkat pendidikan.

Sampai saat ini tingkat peredaran narkoba sudah merambah pada berbagai level, tidak hanya pada daerah perkotaan saja melainkan sudah menyentuh komunitas pedesaan. Hal ini terbuktinya dengan meningkatnya pengungkapan kasus tindak kejahatan narkoba dan pengedar narkoba yang tertangkap di berbagai daerah.

Semangat Brigjend Pol Siswandi bersama Markoni Koto, sudah tidak terbendung lagi. Pihaknya saat ini sedang gencar memerintahkan berbagai elemen, terutama kader PEKAT IB di seluruh Indonesia untuk memasang dan mensosialisasikan spanduk tentang Film ‘3 Pilihan Hidup’.

Ternyata Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Mabes Polri punya cara yang terbilang menarik dalam mengkampanyekan pencegahan penyalahgunaan narkoba. Dengan menggandeng sejumlah artis ternama diantaranya Marshanda, Cinta Laura, Julia Perez, Della Puspita, Ade Yunita, Roy Marten, Tessy dan lainnya, untuk meluncurkan sebuah film berjudul “3 Pilihan Hidup” itu.

Brigjend Pol Siswandi adalah Deputi Analis Kebijakan Utama Bidang Narkoba Bareskrim Polri. Ia lah sebenarnya penggagas film edukatif dan fenomenal ini. Iapun menyebutkan bahwa sosialisasi bahaya narkoba sekarang ini marak karena memang Indonesia darurat narkoba dan untuk pencegahan pun semakin beragam dan salah satunya adalah melalui film “3 Pilihan Hidup”.

Untuk diketahui, narkoba adalah singkatan dari narkotika dan obat/bahan berbahaya. Selain “narkoba”, istilah lain yang diperkenalkan khususnya oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia adalah Napza yang merupakan singkatan dari narkotika, psikotropika, dan zat adiktif.

Semua istilah ini, baik “narkoba” ataupun “napza”, mengacu pada kelompok senyawa yang umumnya memiliki risiko kecanduan bagi penggunanya. Menurut pakar kesehatan, narkoba sebenarnya adalah senyawa-senyawa psikotropika yang biasa dipakai untuk membius pasien saat hendak dioperasi atau obat-obatan untuk penyakit tertentu. Namun kini persepsi itu disalahartikan akibat pemakaian di luar peruntukan dan dosis yang semestinya.

Pada tahun 2015 saja terdapat 35 jenis narkoba yang dikonsumsi pengguna narkoba di Indonesia dari yang paling murah hingga yang mahal seperti LSD. Di dunia terdapat 354 jenis narkoba. (Rico AU/RK/JT).

Bagi yang ingin memiliki Film 3 Pilihan Hidup.
Silakan Download DISINI

Pekat IB Prioritaskan Pembangunan Ekonomi Kerakyatan Hingga Seluruh Pelosok Negeri


Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Pembela Persatuan Tanah Air Indonesia Bersatu (Pekat IB) menggelar acara pelantikan bersama untuk DPD Pekat IB Wilayah Barat,di Gor Serba Guna Harapan Sport, Gegerbitung, Sukabumi.

Selain melantik pengurus, DPD Sukabumi juga mengadakan silaturahmi dan tatap muka bersama Dewan Penasehat, Ketua Umum DPP dan Pengurus DPW Jawa Barat.

Gelaran acara ini dihadiri ratusan kader dan masyarakat. Selain itu, hadir pula Muspika Kabupaten dan Kota Sukabumi, Jajaran Kepolisian, TNI, serta Tokoh Masyarakat.

Dalam pelantikan ini, diambil sebuah tema yaitu ” Menjalin Sinergitas dengan Pemangku Jabatan dalam Rangka Mewujudkan Pembangunan Ekonomi Kerakyatan dan Kearifan Lokal”.

Tema yang mulia ini didasari atas visi da misi Pekat IB yang selalu menginginkan dan berupaya meningkatkan taraf hidup perekonomian masyarakat Indonesia dan khususnya masyarakat Sukabumi.

Hal tersebut ditegaskan oleh Ketua Umum DPP Pekat IB, Markoni Koto, saat memberikan sambutannya di acara tersebut. Beliau mengatakan bahwa, menyoroti tema yang diusung, pertama, Pekat IB akan menyiapkan dan mengedepankan program pembangunan ekonomi kerakyatan, mulai dari bawah di seluruh pelosok negeri ini.

Kedua, lanjut Markoni, Pekat IB sudah mempunyai sebuah Koprasi yang telah bersinergi dengan Korda Sukabumi yang akan membantu dan mempermudah bagi anggota yang akan membuka usaha mandiri.

“Jadi, bila anggota mengajukan pinjaman untuk modal usaha maka tidak akan diminta jaminan. Yang menjadi jaminan adalah Ketua DPD-nya,” ujar Markoni.

Selain itu, Pekat IB juga mendirikan Lembaga Bantuan Hukum yang bertujuan untuk membantu dan mendampingi masyarakat yang merasa terzolimi dari pihak yang mempunyai berbagai kepentingan.

Sejalan dengan hal tersebut, Bupati Sukabumi yang diwakili Asisten Daerah mengatakan bahwa tema yang diusung, sangat relevan bagi ekonomi kerakyatan. Pihaknya menyatakan siap bersinergi untuk mewujudkan hal tersebut.

“Kami siap bersinergi guna membangun perekonomian mandiri dan religius,” tandasnya.

Ketua Umum Pekat IB: Esensi Kemerdekaan Adalah Kemandirian


Dalam rangka menyambut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-72, Ketua Umum DPP Pembela Kesatuan Tanah Air Indonesia Bersatu (Pekat IB), H Markoni Koto SH berharap bangsa ini mampu mandiri seperti yang tertuang dalam Trisakti.

“Esensi kemerdekaan adalah kemandirian, seperti yang tertuang dalam Trisakti. Kami dari organisasi masyarakat menginginkan bangsa ini berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi, dan berkepribadian di bidang budaya. Jadi artinya, Trisakti yang dicita-citakan para pendiri bangsa ini untuk mengingatkan supaya bangsa ini tidak dikusiri oleh bangsa lain,” ungkapnya saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (16/08/2017).

Pekat IB, dikatakannya, saat ini sudah tidak lagi dapat melihat bangsa ini berdikari di bidang ekonomi, terutama dengan naiknya harga sembako (sembilan bahan pokok).

“Yang riskan bagi kita sebagai rakyat Indonesia, sembako itu dikuasi asing. Contohnya, besok lusa harga telor naik, itu semua dimiliki oleh kartel-kartel yang tidak bertanggung jawab untuk ekonomi bangsa,” ucapnya.

Ia pun merasa tak masuk akal bila saat ini kebutuhan pokok, seperti garam bangsa ini harus mengimpornya.

“Padahal secara geografis, negara kita mempunyai garis pantai yang sangat panjang. Siapa yang berbuat adalah pengkhianat-pengkhianat terhadap kedaulatan bangsa,” katanya.

Sementara itu, dalam mengisi Hari Kemerdekaan Indonesia ke-72, dikatakannya, Pekat IB telah memasang spanduk-spanduk di kota-kota besar yang berisi imbauan untuk masyarakat agar mengisi kemerdekaan ini tanpa euforia.

“Kami mengimbau melalui spanduk yang ada di kota-kota besar. Pekat IB mengajak semua masyarakat Indonesia mengisi kemerdekaan ini secara baik tanpa euforia,” katanya.

Markoni pun berharap kepada para generasi muda bangsa ini untuk meneladani pahlawan yang telah berjuang mempertahankan kedaulatan negara.

“Di hari kemerdekaan ini, kami mengimbau kepada seluruh generasi muda untuk belajar bersungguh-sungguh, tingkatkan rasa nasionalisme kita terhadap bangsa dan negara ini, dan mencontoh kepribadian-kepribadian para pendiri bangsa kita, sehingga kita menjadi generasi muda yang tangguh dan bertanggung jawab terhadap bangsa dan negaranya,” ucapnya.

Bendera Merah Putih Dilecehkan, Massa Sweeping Mes Pekerja Asing Tol Cisumdawu Semedang


Massa melakukan sweeping di mes pekerja terowongan Tol Cisumdawu, Desa Cigendel, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang, untuk mencari pelaku pelemparan bendera merah putih, Minggu (10/09/2017).

Massa yang merupakan gabungan berbagai organisasi ini, melakukan sweeping ke setiap ruangan di mes yang menjadi tempat para pekerja beristirahat disela melakukan pekerjaan pembuatan terowongan. Lalu mereka memaksa para pekerja yang terdiri dari para pekerja asing berkewarganegaraan China ini untuk keluar kamar dan disuruh berbaris di lapangan tengah mes untuk memastikan tidak ada yang menyembunyikan pelaku.

“Keluar! Keluar! Bawa passport dan dokumen!” teriak massa sembari memaksa para pekerja asing tersebut keluar.

Satu di antara mereka bahkan tak dapat menahan emosi dan berteriak-teriak menggunakan kata-kata kasar dan rasis.

Sebelumnya, pihak kepolisian bersama tentara telah lebih dulu melakukan pemeriksaan ke tiap kamar di mes tersebut untuk mencari keberadaan pelaku. Namun rupanya massa belum puas dan mensweeping kembali setiap kamar untuk memastikan sendiri keberadaan pelaku.

Mes tersebut hanya berjarak sekira 300 meter dari lokasi insiden pelemparan bendera ke tanah yang terjadi di gerbang lokasi proyek. Sweeping mess pekerja proyek terowongan tol Cisumdawu tersebut merupakan buntut dari dugaan pelecehan bendera merah putih oleh pekerja asing di lokasi proyek terowongan tol Cisumdawu.

Hal tersebut diceritakan Dede Tarmedi (40), penjaga keamanan proyek terowongan Tol Cisumdawu sekaligus saksi mata insiden tersebut, ketika ditemui Otoritasnews-Jabar di lokasi proyek terowongan tol Cisumdawu, Desa Cigendel, Kecamatan Pamulihan, Minggu (10/09/2017).

“Kejadiannya sekitar 08.30 WIB , di gerbang itu (proyek terowongan) ada dua bendera, memang menghalangi sedikit, tiba-tiba seorang pekerja asing melepaskan bendera pertama dari besi yang menjadi tiangnya dan melemparkannya ke tanah,” ujar Dede Tarmedi.

“Di situ saya marah, itu bendera negara saya dilempar ke tanah,” ujar Dede.

Dede kemudian menegur pekerja tersebut dan memintanya untuk meminta maaf sekaligus memberi sanksi yaitu hormat pada bendera merah putih.

“Yang bikin marah itu kenapa harus dilempar, padahal bisa diberikan ke saya saja,” ujar Dede Tarmedi.

Saat ini, beberapa organisasi masyarakat bersama warga mendatangi lokasi proyek terowongan Tol Cisumdawu untuk menuntut kejelasan dan permintaan maaf, terkait kejadian pelemparan bendera merah putih tersebut.

Proses mediasi antara perusaan MCC selaku perusahaan yang mengerjakan proyek terowongan, dan warga bersama beberapa organisasi masyarakat Sumedang tengah berlangsung.

Dari hasil klarifikasi, pekerja asing tersebut sudah menghilang. Hal tersebut diduga karena pelaku, yang merupakan pekerja asing atas nama Chenapa (40), warga negara China, takut diamuk massa.

Menurut pantauan Otoritasnews-Jabar di lokasi kejadian, Minggu (10/9/2017), baik kepolisian maupun massa gabungan dari beberapa organisasi masyarakat masih berkumpul di mes yang berjarak sekira 300 meter dari lokasi kejadian.

Sayangnya, baik Kepolisian maupun anggota Koramil Pamulihan tidak mengetahui dimana pelaku saat ini. Bahkan perusahaan yang menaungi pekerja asing asal China tersebut, PT MCC , tidak mengetahui di mana pelaku.

“Belum tahu posisinya, masih dicari pelakunya,” ujar Iptu Agus Permana, Kapolsek Pamulihan.

97 Rumah Di 4 Desa Kecamatan Sei Dadap Terendam Banjir


ASAHAN- Akibat curah hujan yang sangat lebat pada Minggu malam, Sebanyak 97 rumah Kepala Keluarga di 4 (Empat) Desa Kecamatan Sei Dadap Kabupaten Asahan terendam oleh banjir,Minggu 10 September 2017.


Rumah yang terendam banjir tersebut yakni sebanyak 67 rumah di Desa Perk.Sei Dadap III/IV, di huni sebanyak 231 jiwa bertempat tinggal di dusun I,II,III dan IV terendam air dengan ketinggian mencapai 80 Cm sampai dengan 100 Cm.

Di Desa Bahung Sibatu-Batu sebanyak 5 rumah terendam oleh banjir di dusun II dengan ketinggian air mencapai 50 Cm sampai 70 Cm.Banjir juga melanda dan merendam 20 rumah di dusun V,VI,VII Desa Tanjung Alam dengan ketinggian air mencapai 70 Cm.Sementara di Desa Sei Kamah Baru,banjir menggenangi sebanyak 5 rumah di dusun I ,dengan ketinggian air mencapai 50-70 Cm.

Penjelasan situasi kondisi banjir yang terjadi pada Minggu semalam tersebut,langsung disampaikan Camat Sei Dadap Rahman Halim Ap Senin 11/9 kepada Media.

“Situasi kondisi banjir yang menggenangi dan merendam 97 rumah penduduk di empat desa,telah kita laporkan kepada Bupati Asahan.Kita juga telah mengajukan permohonan bantuan kepada Pemerintah Kabupaten Asahan untuk dapat memberikan bantuan kepada para korban banjir”kata Halim.

“Alhamdulilah pengajuan bantuan yang kita usulkan,mendapat respon cepat dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Asahan,dengan memberikan bantuan berupa Beras,Mie Instan,Telur dan Gula tutur Halim.

Halim juga menuturkan, saat terjadi banjir ,kita Pemerintah Kecamatan bersama masyarakat telah mendirikan posko banjir dan kesehatan di desa yang terkena rendaman banjir.Semoga peristiwa banjir seperti ini tidak terulang kembali dan.kita berharap banjir segera surut, jelas Camat Halim mengakhiri penyampaiannya.

Awas….!!! Lubang – Lubang Di Jalan Seputaran Kota Kisaran

Siap Menanti Korban....!!!

Kisaran – Masyarakat diminta untuk meningkatkan kewaspadaannya saat melintas di jalan seputaran kota Kisaran, pasalnya banyak lubang – lubang yang sengaja dibuat rekanan siap menanti korban.

Pantauan dilapangan, lubang – lubang yang sengaja dibuat oleh rekanan Pemkab. Asahan itu tersebar hapir diseluruh badan jalan yang ada di kota Kisaran. Mulai dari Jalan Ir H Juanda, Madong Lubis, Budi Utomo, KH Agus Salim, Sei Silau, Pramuka, Panglima Polem, Diponegoro, SM Raja dan Jalan RA Kartini.

Lubang – lubang itu sengaja dibuat oleh rekanan Pemkab.Asahan sejak akhir Bulan Suci Ramadhan lalu dan diduga rekanan hanya berambisi mengambil down payment (DP) namun hingga berita ini diturunkan belum ada tanda – tanda tindak lanjut dari pekerjaan itu.

Belum diketahui dengan pasti apakah pekerjaan itu dibawah kendali langsung pihak Dinas PU PR Kabupaten Asahan atau dipercayakan kepada rekanan, jika dipercayakan kepada rekanan diduga rekanan itu tidak memiliki modal yang cukup alias modal dengkul. Hal itu terbukti sudah hampir tiga bulan belum ada tanda – tanda tindak dari pekerjaan itu sementara lubang – lubang itu sudah banyak memakan korban.

Khairul Anhar Harahap salah seorang tokoh pemuda di Kabupaten Asahan saat dimintai komentarnya mengatakan, dirinya sangat prihatin melihat kondisi banyaknya badan jalan di kota Kisaran yang berlubang apakah itu akibat ulah rekanan atau ulah pihak Dinas PU PR, tegasnya.

Wajar jika masyarakat penguna jalan mengeluh, sebab keberadaan lubang – lubang itu mengancam keselamatan jiwanya dan itu sangat disayangkan jika pekerjaan itu dipercayakan kepada rekanan dan pihak pemberi kerja tidak mengambil tindakan, ujar Khairul Anhar Harahap, Sabtu (9/9) saat berbincang dengan Asahansatu.com.

Kita berharap pihak terkait dapat memperhatikan hal ini, pasalnya masyarakat selaku pembayar pajak dirugikan dan lubang – lubang itu mengancam jiwa para pengguna jalan.

“Kalau jadi rekanan modal dengkul bagus tiarap saja, jangan sakiti masyarakat,”tegasnya

Peredaran Narkoba Di Asahan Mengkhawatirkan


Kisaran – Aparat terkait diminta untuk lebih giat melakukan penindakan terhadap pelaku kejahatan narkotika di Kabupaten Asahan, pasalnya sudah sangat mengkhawatirkan bagi kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara.

Hal itu disampaikan H Azhari R Lubis salah seorang tokoh agama di Kabupaten Asahan, Minggu (10/9) saat berbincang dengan Asahansatu.com di kediamanya.

“Saat ini kondisinya sudah sangat mengkhawatirkan sebab pelaku kejahatan narkotika sudah berani mengembangkan sayapnya ke berbagai lapisan masyarakat,”ujarnya.

Jika beberapa tahun yang lalu pelaku kejahatan narkotika hanya sebatas orang dewasa, saat ini pelaku kejahatan narkotika sudah melibatkan remaja dan anak – anak.

“Pihak terkait seperti aparat Kepolisian dan Badan Narkotika Nasional (BNN) diminta serius dalam menjalankan tugasnya, jangan ada lagi cerita miring di masyarakat,”tegas Ustad jebolan Gontor itu.

Kepolisian dan BNN memiliki anggaran dan personil yang memadai untuk menghambat laju pertumbuhan peredaran gelap narkotika di Kabupaten Asahan khususnya dan di Indonesia pada umumnya.

“Narkoba sudah mengancam stabilitas negara sehingga aparat terkait diminta untuk lebih serius, jangan beri ruang gerak bagi pelaku kejahatan narkotika Asahan,”pintanya.

Hal senada dikatakan Raden, merujuk pernyataan dari Kapolres Asahan AKBP Kobul Syahrin Ritonga di media yang mengatakan narkoba masih marak di Asahan dilihat dari hasil penindakan pada Ops Antik 2017 yang dilancarkan pada bulan Agustus lalu, maka diminta untuk menindak lanjuti pernyataan itu, ungkap Raden.

Banyak lokasi disinyalir dijadikan ajang oleh pelaku penyalagunaan narkotika yang masih belum tersentuh seperti tempat hiburan malam dan rumah – rumah kost dimana pelaku menjadikan lokasi tersebut sebagai ajang transaksi dan penyalagunaan narkotika, masyarakat siap membantu tinggal lagi bagaimana keseriusan pihak terkait

Sunday, 10 September 2017

Ribuan Masyarakat Asahan Melepas Pindah Tugas AKBP.Tatan Dirsan Atmaja,SIK


Ribuan warga masyarakat Asahan khususnya yang berada di dua kecamatan diantaranya Kecamatan Kota Kisaran Timur dan Kecamatan Kota Kisaran Barat, melepas keberangkatan mantan Kapolres Asahan AKBP Tatan Dirsan Atmaja,SIK usai prosesi upacara tradisi pedang pora di halaman depan Mako Polres Asahan, Sabtu (8/4/2017).

Sayid Musyi Ketua DPD Pekat IB Asahan dalam komentarnya mengatakan sepanjang sejarah berdirinya Polres Asahan , baru AKBP. Tatan Dirsan Atmaja, SIK yang mendapat sambutan dihati warga masyarakat Asahan begitu mendalam, sehingga dalam kepergiannya meninggalkan Asahan untuk kembali bertugas di Polrestabes Medan, ribuan warga masyarakat didua kecamatan ini turut mengahantarkan mantan Kapolres Asahan ini dengan menaiki mobil hias rumah adat melayu hingga perbatasan sungai silau yang berada di jalan A.yani Kisaran.

Saat pelepasan AKBP. Tatan Dirsan Atmaja, SIK berserta Hj.Cut Hafitatul Aini, dan warga masyarakat juga banyak yang menitikan air mata, bukan warga masyarakat biasa saja yang menitikan air mata kalangan anggota kepolisian Resor Asahan, para jurnalis yang senantiasa ngepos di Polres Asahan , rekan rekan OKP maupun Ormas serta tokoh agama larut dalam kesedian atas kepergian AKBP. Tatan Dirsan Atmaja ini, namun demikian biarlah Tatan Dirsan Atmaja saat ini meninggalkan Asahan demi untuk tugas , namun esok dia akan kembali lagi dengan jabatan sebagai orang nomor satu dijajaran Kepolisian Sumatera Utara.

Sementara ketua KNPI Asahan Agus Ramandha juga mengatakan sosok Tatan Dirsan Atmaja dalam memimpin di jajaran Kepolisian Resor Asahan sangat berbeda dengan yang terdahulu, sosok Tatan Dirsan Atmaja dapat membaur dan menyatu dengan masyarakat Asahan secara luas, Tatan tidak membedakan satu sama lain, namun dalam sikap sangat tegas terlebih dalam menangani perkara narkotika dan tindak kejahatan lainnya.

Sepanjang sejarah tidak pernah seorangpun Kapolres di Asahan ini saat perpindahannya dihantar dengan ribuan warga masyarakatnya, itu merupakan bentuk kecintaan warga masyarakat Asahan terhadap sosok Tatan Dirsan Atmaja, ungkapnya.

AKBP. Tatan Dirsan Atmaja, SIK mantan Kapolres Asahan usai menyalami satu persatu anggota kepolisian Resor Asahan ketika hendak meninggalkan Polres Asahan dengan menaiki kendaraan yang sudah disediakan terpaksa batal dikarenakan ribuan warga masyarakat Asahan medaulat mantan Kapolres Asahan AKBP. Tatan Dirsan Atmaja, SIK untuk menaiki mobil hias rumah adat melayu, hal itu manambah rasa haru mantan Kapolres Asahan dan derai air mata yang tidak terbendung kembali menetes, dalam perjalanan hingga perbatasan sungai Silau dengan menaiki mobil hias tersebut mantan Kapolres Asahan tidak henti hentinya menyapu air matanya.

Asahan Deklarasi Damai Untuk Kemanusian di ROHINGYA

"Kami TOKOH AGAMA menghimbau Pemerintah agar lebih EMPATI menjamin umat beragama untuk BERIBADAH"




Kabupaten Asahan melakukan deklarasi damai tiga pilar plus dan doa bersama antar lintas agama terkait dengan tragedi kemanusian di Rohingya, Jumat.



Aksi damai yang dirangkai dengan membacakan pernyataan sikap bersama tokoh agama di Asahan dipimpin oleh Waka Polres Asahan, Kompol Bernard Panjaitan disaksikan oleh Wakil Bupati Asahan, DPRD Asahan dan forkopinda, di Aulun-Alun Rambate Rata Raya Kisaran.


Pernyataan sikap yang disampikan Ketua FKUB Asahan, Humaidi Samsuri Pane menyebutkan bahwa pihkany mengutuk keras pelanggaran hak azasi manusia di negara Myanmar, mendorong pemerintah untuk menampung pengusi Roningya yang datang ke Indonesia, melakukan diplomatik kepada Myanmar meminta pihaknya menjamin kerukunan beragama.


Mengajak semua tokoh masyarakat untuk tidak terprovokasi oleh oknum yang tidak bertanggungjawab memberikan informasi kondisi Myanmar.” Kami tokoh agama menghimbau Pemerintah agar lebih empati menjamin umat beragama untuk beribadah,” ucap Humaidi dihadapan seluruh peserta deklarasi damai.


Sementara itu, Waka Polres Asahan meminta semua lapisan masyarakat menjaga serta memelihara keamanan di Kabupaten Asahan. Dan juga memberikan pencerahan dan penjelasakan sehingga tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.


“Semoga Asahan menjadi Kabupaten percontohan dalam membina kerukunan beragama,” sebut Waka Polres.


Selain melakukan deklarasi damai 3 pilar plus dan doa bersama antar lintas agama terkait dengan tragedi kemanusian di Rohingya, kegiatan juga dirngkai dengan pengumpulan dana untuk Rohingya.


Usai melakukan deklarasi, seluruh peserta terlihat menyisihkan uangnya untuk membantu masyarakat Rohingya di Myanmar. Mulai dari Wakil Bupati Asahan, Waka Polres Asahan, Forkopinda, tokoh agama di Asahan, Camat, Lurah memberi bantuanya.


Akhirnya dana yang terkumpul lebih kurang sebesar Rp 9.478.000. dan dana tersebut akan disalurkan kepada masyarakat Rohingya. 


Pernyataan sikap ditanda tangani langsung oleh para tokoh agama diantaranya, Tokoh Agama (Toga) oleh H Salaman Abdulah Tanjung, toga Kristen Khatolik, Danrisman, Sitanggang, toga Hindu, NK Sabay, toga Budha, PMDJoseph Randy, toga Konghu chu, Martono dan diketahui oleh Pemkab Asahan dan forkopinda.

PRIBUMI "Latar Belakang Istilah Orang Indonesia Asli"

Oleh : YUSRIL IZA MAHENDRA

Copy Paste Postingan Ketua DPD PEKAT Indonesia Bersatu Kabupaten Asahan.



Judul asli tulisan ini adalah “Latar Belakang Istilah “Orang Indonesia Asli atau Pribumi” yang ditayangkan pada laman fecebook Yusril Ihza Mahendra sekitar 15 jam yang lalu.

Dilihat dari sudut sejarah ketatanegaraan, negara RI bukanlah penerus Majapahit, Sriwijaya atau lainnya, melainkan meneruskan “semi negara” Hindia Belanda. Karena itu aturan peralihan UUD 45 (sebelum amandemen) mengatakan bahwa segala badan negara dan peraturan yang ada masih langsung berlaku sebelum diadakan yang baru menurut UUD ini.



Yang dimaksud peraturan yang ada dan langsung berlaku itu, baik dalam konsepsi maupun dalam kenyataan, bukanlah badan negara dan peraturan zaman Majapahit, Sriwijaya atau warisan penguasa militer Jepang, melainkan badan dan peraturan yang diwariskan oleh Pemerintah Hindia Belanda.

Adapun mengenai penduduk Indonesia, peraturan yang ada dan lembaga yang mengurus/menanganinya yang berlaku dan dipahami orang sejak zaman Hindia Belanda adalah peraturan dalam Pasal 163 IS (Indische Staatsregeling) yang membagi penduduk Indonesia (Hindia Belanda) dalam tiga golongan, yakni Golongan Eropa; Golongan Timur Asing (terutama Tionghoa dan Arab) dan Golongan “Inlander” atau pribumi atau “orang Indonesia asli” yang pada umumnya beragama Islam dan sebagian menganut agama Hindu, Buddha dan lainnya.

Orang Inlander atau pribumi yang beragama Kristen status mereka sama dengan golongan Eropa. Dalam hal kelahiran dan perkawinan, golongan Eropa dan Inlander (Pribumi) Kristen tunduk pada Hukum Eropa (Burgerlijk Wetboek) dan lembaga yang mengurusinya adalah Burgerlijk Stand (Catatan Sipil).

Orang Tionghoa Kristen juga sama. Sementara bagi Inlander Muslim atau Hindu/Buddha tunduk pada hukum adat masing-masing dan tidak ada lembaga negara jajahan Hindia Belanda yang mengurusinya.

Status sosial, ekonomi dan hukum bagi ketiga golongan ini berbeda. Tiga golongan ini dapat dikatakan seperti urutan dari atas ke bawah. Tempat tinggal mereka dimana-mana juga beda. Kalau di Jakarta Golongan Eropah tinggal di Weltevreden (sekitar lap. banteng), Mester Cornelis (Jatinegara, Polonia). Sementara Gol Timur Asing Tionghoa mendominasi daerah Pecinan Glodok. Sedangkan Inlander ya tinggal di pinggiran, Krukut, Klender, Condet, Cengkareng dan sebagainya.

Ekonomi ketiga golongan ini jelas, Gol Eropa paling makmur, Gol Timur Asing lumayan kaya. Golongan Inlander atau pribumi adalah yang paling miskin di antara semua. Maka tak heran, jika golongan Inlander inilah yang ngotot ingin merdeka karena ketidakadilan dan diskriminasi yang mereka alami di zaman penjajahan.

Dengan latar belakang sejarah ketatanegaraan itu, kita dapat memahami maksud kata-kata dalam draf UUD 1945 yang pasal 6 ayat (1) mengatakan “Presiden Indonesia adalah orang Indonesia asli dan beragama Islam”. Kata “beragama Islam” dihapuskan pada tanggal 18 Agustus 45. Jadi syarat jadi Presiden adalah “orang Indonesia asli” yakni “Inlander” atau pribumi, dengan merujuk kepada Ps 163 IS, jadi bukan orang dari Gol Eropa dan bukan pula dari Gol Timur Asing.

Demikian pula pasal-pasal mengenai kewarganegaraan dalam draf pasal 26 yang mengatakan bahwa yang menjadi warganegara Indonesia adalah orang Indonesia asli dan orang-orang dari bangsa lain yang disahkan oleh UU menjadi warganegara.

Aturan-aturan yang diskriminatif yang dibuat oleh Pemerintah kolonial itulah yang menjadi latar belakang istilah “orang Indonesia asli” atau pribumi.

Saya hanya mengingatkan kita semua agar jangan sekali kali melupakan sejarah.