Logo Design by FlamingText.com
Logo Design by FlamingText.com

DPD PEKAT INDONESIA BERSATU KABUPATEN ASAHAN

Sebagai bangsa yang besar dengan secara sadar, memiliki rasa tanggung jawab penuh dan turut ikut serta wajib membela dan menegakkan Persatuan dan Kesatuan serta Keutuhan bangsa dan Negara INDONESIA, merupakan bagian dari iman yang dapat diaktualisasikan dalam setiap peran kehidupan bermasyarakat dimanapun kita berada serta merupakan refleksi dari Undang Undang No. 20 Tahun 1982 pasal 2.

MUHAMMAD SYIHABUDDIN

KETUA DPD PEKAT INDONESIA BERSATU KABUPATEN ASAHAN

EFRIANTO RANY

SEKRETARIS DPD PEKAT INDONESIA BERSATU KABUPATEN ASAHAN

DOKUMENTASI

DOKUMENTASI KEGIATAN "DANA DESA UNTUK RAKYAT SEJAGTERA"

AGUS RAMANDA

WAKIL KETUA BIDANG OKK DPD PEKAT INDONESIA BERSATU KABUPATEN ASAHAN

Wednesday, 27 September 2017

Hasil Visum Ini Ungkap Keganjilan Adegan Pencungkilan Mata di Film G30S/PKI

Hasil visum Ahmad Yani

Puluhan tahun fakta di balik peristiwa 1965 terkunci rapat.
Ia hanya mengalir dari ruang kelas kedokteran satu ke kelas kedokteran yang lain.

Intisari September 2009 dalam judul “Saksi Bisu dari Ruang Forensik” mencoba mengurai itu; mengungkap faktra-fakta yang tersembunyi di balik bangsal-bangsal forensik.

Oktober 1965 bisa disebut sebagai masa kelam bagi dunia pers Indonesia, juga buat seluruh masyarakat Indonesia.

Media-media cetak kala itu, yang dipelopori media milik pemerintah militer ramai-ramai memuat kekejaman perisitwa penculikan enam jenderal yang kelak disebut sebagai Pahlawan Revolusi.

Harian Angkatan Bersendjata dan Berita Yudha menulis dengan sedikit hiperbolik.

Misalnya, Ahmad Yani dicungkil matanya, juga yang lebih sadis lagi, kemaluan para korban tersebut diiris-iris menggunakan silet, lalu dipermainkan oleh para pelaku yang kebanyakan perempuan.

Berita yang ditulis oleh dua corong militer tersebut berefek domino, koran-koran lain di luar dua koran itu, terutama yang memiliki sentimen besar terhadap komunisme Indonesia, turut mengutip berita-berita tersebut.

Lantas menyebar ke masyarakat luas.

Imbasnya bisa dipastikan, kemarahan rakyat meluap dan membutuhkan pelampiasan-pelampiasan.

Lalu muncul arus pembantaian terhadap massa partai komunis atau yang diduga komunis yang tak kalah ganasnya.

Kabarnya, angka kematian akibat kemarahan ini mencapai angka 1,5 juta jiwa.

Tim forensik secara bernas memang mengatakan para korban mendapat perlakuan cukup kejam di luar batas kemanusiaan.

Tapi ada fakta lain yang mengejutkan, tidak ada pencukilan mata dan pemotongan penis para korban.

Dalam kondisi saat itu, tidak mudah bagi para para ahli forensik mengatakan hal yang sebenarnya.

Seolah ada ketakutan, kalau menuliskan apa adanya, kemungkian mereka dicap sebagai PKI sangat besar.

Oleh karena itu, visum et repertum melaporkan seperi apa yang dimuat di Berita Yudha dan Angkatan Bersendjata.

Cerita “pencungkilan” mata dan “pemotongan” penis sejatinya sudah terlebih dahulu terdengar di masyarakat sekitar.

Tepatnya setelah para korban G30S ditemukan di dalam sumur di Lubang Buaya, Jakarta Timur, 4 Okotober 1965.

Tujuh mayat jenderal itu lantas dibawa ke RSPAD guna diotopsi.

Untuk menangani mayat-mayat tersebut, dibuatlah tim yang terdiri dari dua dokter RSPAD, yaitu dr Brigjen. Roebiono Kartopati dan dr. Kolonel. Frans Pattiasina; lalu ada tiga dari Ilmu Kedokteran Kehakiman UI, Prof. dr. Sutomi Tjokronegoro, dr. Liau Yan Siang, dan dr. Lim Joe Thay.dr. Lim Joe Thay ()

Mereka bekerja delapan jam dari sore 4 Okotber sampai 5 Okober 1945 dini hari di kamar mayat RSPAD.

Sesuai perintah, tim ini mengidentifikasi korban dan melakukan autopsi bagian luar jenazah.

Dari identifikasi itu, tim berkesimpulan, para jenderal tersebut mendapat penyiksaan sebelum dibunuh dan dikubur dalam sumur tua di Lubang Buaya.

Tapi, ada fakta baru, tidak ditemukan sama sekali bukti bahwa mereka dicungkil matanya dan dipotong penisnya.

Penemuan itu bukan berita baik tentunya bagi tim tersebut, justru membuat mereka tertekan.

Sebelum mengeluarkan laporan, mereka terlebih dahulu melakukan pembicaraan khusus guna menentukan sikap, menulis yang benar atau melaporkan seperti yang berkembang di masyarakat.

Lalu muncul ketakutan, jika menulis apa yang ada, mereka akan dicap pro-PKI. Dilematis memang.

Dikisahkan, setiap anggota tim mengemukakan pendapat, termasuk dr. Lim Joe Thay, yang saat itu termuda, berusia 39 tahun.

"Kita dipertemukan Tuhan di sini, sehingga saya yakin Tuhan pasti mau yang terbaik. Kita juga disumpah sebagai dokter, jadi kita tulis saja apa adanya," kata Lim seperti diceritakan kembali oleh dr. Djaja Surya Atmadja, dokter ahli forensik FKUI.

Bagi Djaja, sikap bekas gurunya itu sangat mengesankan.

Pada visum memang tertulis kondisi biji mata beberapa korban terlihat kempis dan keluar.

Tapi menurut Djaja hal itu disebabkan oleh pembusukan jenazah.

Berbeda jika mata sengaja dicungkil, karena pasti akan terdapat luka, tusukan, atau tulang yang patah di sekitar mata.

Kondisi kemaluan para korban juga tertulis semuanya utuh. Buktinya bisa diketahui ada empat penis dikhitan dan tiga penis yang tidak.

Visum menggambarkan para korban umumnya terkena tembakan senjata api, yang menghasilkan luka tembak masuk dan luka tembak keluar.

Jenazah Achmad Yani luka tembaknya terbanyak, yakni 10 luka tembak masuk dan tiga luka tembak keluar.

Luka tembak Soetojo Siswomihardjo, S. Parman, dan D.I. Panjaitan, umumnya terdapat di kepala.

Pada jenazah P. Tendean, terdapat penganiayaan berat yang menyebabkan luka menganga pada puncak kepala dan dahi.

Kekerasan benda tumpul ditemukan pada jenazah Soetojo, S. Parman, dan R. Soeprapto.

Hanya jenazah M.T. Haryono yang tidak terdapat luka tembak, melainkan luka tusuk di bagian perut tembus ke punggung, serta di bagian tangan.

"Akibat ditusuk bayonet," kata Djaja menyimpulkan.

Djaja menyatakan, tidak perlu meragukan hasil kerja tim dokter yang mengautopsi korban G30S.

Saat itu mereka orang-orang yang berkompeten dalam ilmu kedokteran kehakiman, yang kini istilahnya kedokteran forensik.

Meski sudah terkubur empat hari, jenazah juga masih dapat diidentifikasi dengan baik.

"Sudah puluhan tahun meninggal saja tetap bisa diidentifikasi kok," kata ahli DNA yang pernah mengidentifikasi kerangka tentara Jepang yang mati di Papua pada Perang Dunia II ini.

Mungkin pertanyaan yang timbul saat ini, kata Djaja: mengapa tidak dilakukan autopsi dalam lewat pembedahan?

Jawabannya, karena perintah hanya sebatas itu. Dokter tidak berhak melanggar.

Termasuk ketika Lim menemukan anak peluru sepanjang 4,7 mm. Benda itu diserahkannya kepada Soeharto.

Sebenarnya jika ingin dilakukan proses pemeriksaan balistik, dapat diketahui asal senjatanya.

Salah satu anggota tim forensik yang berusaha membeberkan apa yang sebenarnya terjadi pada para jenderal yang menjadi korban G30S adalah dr. Lim Joe Thay.

Lim tak pernah risau karena puluhan tahun tidak bisa mengungkapkan kebenaran.

Ia masih bisa bercerita pada murid-muridnya di bangku kuliah kedokteran forensik.

Terkadang ia prihatin, karena ada bagian keping sejarah yang salah dan tak pernah berusaha diluruskan, tapi terus beredar di masyarakat.

Meski sudah beberapa media mencoba mengungkap kasus tersebut, tapi tidak ada upaya sungguh-sungguh dari pemerintah untuk meluruskannya.

Tapi, suatu saat Arsip Nasional RI pernah menghubunginya untuk meminta konfirmasi terkait apa yang dia dapat di bangsal forensik malam itu.

Lim termasuk yang paling keras soal laporan ini. Ia menuliskan apa yang didapat meski “tak berguna” karena tekanan rezim.

Laporannya baru benar-benar terpakai saat seorang Indonesianis dari Cornell University, Benedict Anderson, saat menulis “How Did the Generals Die?” yang ia muat di jurnal Indonesia pada 1987.

Akibat kegigihannya itu, Lim juga pernah ditelepon oleh salah satu putri korban.

Lim dimarah-marahi karena dianggap berusaha menghilangkan kenyataan telah terjadi penyiksaan terhadap para jenderal.

Lalu munculnya quote sakti itu dari dr. Lim, “Meluruskan fakta sejarah tidak akan mengurangi derajat kepahlawan para Pahlawan Revolusi.”

Belakangan, Lim baru mengetahu kenapa putri jenderal itu marah, karena si putri membaca sebuah artikel majalah yang keliru mengutip kalimat Lim.

Pekat IB Asahan Minta Seluruh Aparat Bersinergi, Pil PCC Ancam Generasi Muda.

Syaid Muhsyi dan Efrianto Rany saat mengikuti Kegiatan
Rapimnas di Bandung beberapa waktu lalu

Dewan Pimpinan Daerah Pembela Kesatuan Tanah Air Indonesia Bersatu (Pekat IB) Kabupaten Asahan, meminta aparat penegak hukum diwilayah Kabupaten Asahan untuk membangun Sinergitas yang baik dalam memberangus peredaran narkoba, maupun obat-obat sejenisnya yang dapat mengancan generasi muda.

“Tidak boleh ada ego antara seluruh unsur aparat dinegeri ini. Negara kita sedang dijajah oleh kekuatan asing saat ini. Apalagi baru-baru ini pil Caffeine dan Carisoprodol (PCC) yang telah menelan korban di beberapa daerah di Negara ini,” ungkap Syaid Muhsyi, Ketua DPD Pekat-IB Asahan, yang di aminkan oleh Efrianto Rany, Sekretaris DPD Pekat-IB Asahan seusai mengikuti RDP di Kantor DPRD Kabupaten Asahan, Senin (25/9/2017).

Wilayah Asahan, bukan tidak mungkin bisa sebagai pintu gerbang masuknya barang haram itu perlu diberikan perhatian serius bagi penyelenggara di Republik ini.

“Betapa kita dikejtukan beberapa waktu lalu, anak-anak yang merupakan aset bangsa ini menjadi korban dari PCC, dan aksi celat dari pihak kepolisian juga menangkap serbuk yang akan dijadikan bahan pil PCC tersebut,” terangnya.

Syaid melanjutkan, semua pihak harus bisa membangun kerja sama yang baik dalam memberantas peredaran narkoba dan barang-barang sejenisnya, mengingat Asahan merupakan bisa jadi salah satu pintu Gerbang masuknya barang-barang harap tersebut bahkan dulunya juga sempat ada Pabrik Narkoba yang berkedok Home Industri di Ibu Kota Kabupaten Asahan ini.

“Polri, BNN, TNI, beserta kelompok masyarakat yang ada harus bisa membangun kerja sama yang baik, tanpa kerja sama yang baik, maka mustahil kita bisa memberabtas persoalan ini. Kerja sama bukan hanya sekedar ucapan, tapi harus dibuktikan dengan aksi nyata,” imbuhnya.

Dengan kerja sama yang baik, maka informasi peredaran Narkoba dan PCC dengan bebas, dapat kita ungkap secara bersama-sama.

“Saya berharap kerja sama juga harus dibangun. Mulai dari Kelompok LSM, Ormas maupun Perguruan Tinggi yang ada di Kabupaten Asahan ini,” harapnya.

Sebelumnya, pada Jumat (15/09/2017), jajaran Kepolisian Polres Bintan berhasil membongkar upaya penyelundupan serbuk narkoba yang menyerupai narkoba jenis Flakka sebanyak 12 ton.

Barang haram yang hendak dibawa ke Jakarta itu masuk melalui Batam tujuan Bintan dengan tujuan akhir ke Jakarta.

Dari hasil tes Laboraturium Forensi Polda Sumut di Medan, serbuk itu mengandung tiga zat, yakni Dekstrometorfan, Triheksifenidil dan Carisoprodol (kandungan zat pada Flajka).

Rencananya serbuk itu akan dijadikan untuk obat Paracetamol, Caffeine dan Carisoprodol (PCC).

“Jadi serbuk itu untuk buat obat PCC. Efek obat ini bila digunakan berlebihan menimbulkan gangguan kepribadian dan berperilaku seperti zombie.

Pesan Ketua OKK DPP Pekat IB Kepada Kader Pekat se-Indonesia

Agus Hutapea

Ketua Bidang Organisasi Keanggotaan dan Kaderisasi (OKK) DPP Pekat IB Agustinus Hutapea memberikan pesan kepada kader dan anggota Pekat IB di seluruh Indonesia.

Pesan tersebut disampaiakn Ketua OKK DPP Pekat IB Agustinus Hutapea melalui WhatsApp, Minggu (17-09-2017).

Adapun isi pesannya adalah sebagai berikut :

“Selamat siang Indonesiaku dan selamat siang semua saudara-saudaraku dimanapun kau berada. Kutau komitmenmu adalah Pekat serta merah putih darahmu…
Jadilah kader Pekat yang cerdas, inovatif dalam berkarya serta proaktif ikut andil membangun Pekat IB menjadi organisasi besar dan kuat, agar Pekat IB memiliki andil untuk melahirkan putra/putri terbaiknya, menjadi pemimpin masa depan.
Jayalah Indonesia bersatu…
Pesan ini bagimu seluruh kader Pekat IB dimanapun berada.
Tertanda Ketua OKK DPP
Agust H.”

Pesan ini ditujukan agar para kader serta anggota Pekat IB dapat saling mengingatkan untuk selalu berupaya memajukan Pekat IB kedepannya.

Pekat IB Bentuk Pekat Beladiri Club Sebagai Wadah Penggemblengan Atlet yang Berkarakter


Sebagai bentuk partisipasi dalam dunia olahraga khususnya beladiri, Organisasi Pembela Kesatuan Tanah Air Indonesia Bersatu (Pekat IB) akan mendirikan Pekat Beladiri Club (PBC).

PBC ini nantinya akan menjadi wadah bagi berbagai jenis beladiri (Mixed Material Arts) di Indonesia.

Tommy A Firman, yang merupakan atlet kareteka nasional, akan didapuk menjadi pembina sekaligus pelatih dari PBC dan akan dibantu para pelatih tingkat nasional.

“Dengan dibentuknya PBC ini, kita memiliki tujuan untuk mendidik kaum muda, melalui pelatihan beladiri, agar lebih berguna bagi nusa dan bangsa. Dan mudah-mudahan, dengan adanya PBC ini kita bisa berprestasi baik di tingkat nasional maupun internasional,” ungkap Tommy A Firman, saat ditemui Tim Otoritasnews.com, Selasa (19/09/2017).


Awal rencana didirikannya PBC ini adalah saat Firman mendapatkan arahan dari Ketua Umum DPP Pekat IB, H Markoni Koto, untuk membentuk organisasi beladiri yang bukan hanya memberikan pelatihan soal fisik, tapi juga bisa membentuk kader yang cinta tanah air Indonesia.

“Pekat IB ini peduli dengan tanah air, dan beladiri juga adalah salah satu organisasi yang membina generasi mudu agar menjadi tangguh. Artinya kalau pemudanya sehat maka negaranya juga sehat. Makanya, berdasarkan arahan Ketua Umum DPP Pekat IB H Markoni Koto, kita bekerjasama untuk membentuk PBC ini,” terang atlet yang sudah menyabet berbagai medali ini.

Agendanya, lanjut Firman, PBC akan diresmikan pada bulan 10 November di Bandung, sambil menggelar open turnamen beladiri sekaligus memperkenalkan PBC.

“Dengan adanya PBC ini, selain untuk prestasi, kita ingin pemuda-pemuda di Indinesia sehat dan punya kemampuan beladiri. Karena lewat beladiri ini, mereka akan berkarakter, percayadiri, tidak sombong atau semena-mena dan lebih berguna bagi masyarakat,”harap Firman.

KPK Tetapkan Rita Widyasari Sebagai Tersangka


Bupati Kutai Kertanegara ( Kukar) Rita Widyasari ditetapkan sebagai tersangka.

Keputusan tersebut disampaikan Wakil Ketua KPK Laode M Syarif di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.

Laode mengatakan, penetapan tersangka Rita Widyasari tersebut dilakukan melalui pengembangan penyelidikan yang dilakukan KPK.

Ia juga membenarkan adanya penggeledahan di kantor Rita Widyasari. Namun saat ditanya kasus yang menjerat Rita, Laode enggan menjawab.

“Ibu Rita Widyasari itu ditetapkan sebagai tersangka betul, tapi bukan OTT (operasi tangkap tangan),” ujar Laode.

Ia mengatakan, hal tersebut akan diumumkan dalam konferensi pers dalam waktu dekat.

Terjerat Kasus Gratifikasi

Rita Widyasari dikabarkan sudah ditetapkan tersangka oleh KPK terkait kasus gratifikasi.

Wakil Ketua KPK Laode M Syarif mengatakan, penyematan status tersangka pada Bupati Kutai Kertanegara ini merupakan pengembangan kasus lama.

“Ya, kasus yang sudah dikembangkan penyidikan dan penyelidikannya,” kata Laode.

Bupati Kukar yang juga menjabat Ketua DPD I Golkar Kaltim ini, lanjut Laode, dijadikan tersangka bukan dari hasil OTT atau operasi tangkap tangan.

Pengurussan e-KTP di Asahan Lambat


Lambannya proses pembuatan e-KTP dikeluhkan masyarakat Asahan. Sebab mereka yang ingin memiliki kartu identitas harus menunggu dalam waktu yang lama.

Kekecewaan itu seperti disampaikan salah seorang pemohon e-KTP atas nama Supriado warga Kisaran Timur, Jumat (22/9). Dia merasa kecewa karena meski sudah melakukan perekaman di kantor kecamatan beberapa waktu lalu, namun hingga sekarang belum dapat kejelasan, kapan kartu identitas itu akan didapat.

“Saya kecewa karena sudah lama merekam tapi sampai sekarang belum dapat juga. Tidak tahu masih harus berapa lama lagi saya harus menungu,” kata Supriadi, Jumat (22/9). Dia berharap proses pembuatan e-KTP di daerah ini ke depan bisa lebih cepat. Agar kebutuhan masyarakat terhadap kartu identitas tersebut dapat terpenuhi.

“Kasihan masyarakat jika harus menunggu lama untuk bisa memiliki KTP. Saya rasa persoalan ini perlu mendapat perhatian serius,” harapnya.

Apalagi, sambungnya, untuk saat ini masyarakat yang ingin membuat e-KTP harus datang langsung ke Dinas Kependudukan Dan Catatan Sipil (Dispendukcapil) Kabupaten Asahan. Meski hanya untuk sekedar mengetahui sudah selesai atau belum itu juga memakan waktu.

Sekretaris Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil, Budi Anshari saat berusaha dikonfirmasi wartawan sayangnya tak berada ditempat begitu juga saat dihubungi melalui nomor telponnya. Hanya saja menurut salah seorang petugas mengakui jika pihaknya memang tak bisa memastikan berapa lama e-KTP akan didapat setelah melakukan perekaman.

Sebab, hasil perekaman di tingkat kecamatan langsung di kirim ke server pemerintah pusat untuk di lakukan verifikasi.
“Jadi kalau persoalan lambat atau tidak, sebenarnya itu bergantung pusat dan jaringan yang ada. Karena yang melakukan verifikasi itu memang pusat. Lamanya bisa sehari, dua hari, bahkan untuk saat ini ada yang seminggu sampai dua minggu,” jelasnya.

Sumber : MetroAsahan

Tuesday, 26 September 2017

JIM GEOVEDI, PAKAR IT ASAL INDONESIA LULUSAN SMA YANG PALING DITAKUTI DUNIA


Keahlian seorang hacker dapat dengan leluasa masuk ke berbagai sistem data yang telah terproteksi sangat kuat sekalipun. Bahkan, seorang hacker dengan mudahnya memindahkan isi seluruh rekening tabunganmu menjadi 0 rupiah. Sebagai negara yang kian berkembang, Indonesia juga memiliki beberapa hacker yang terkenal.

Salah satunya adalah Jim Geovedi. Pria kelahiran Bandar Lampung 28 Juni 1979 ini dikenal sebagai hacker Indonesia yang telah diakui dunia. Hilir mudik ke beberapa kota di dunia seperti Berlin, Amsterdam, Paris, Torino, hingga Krakow menjadi pembicara pertemuan hacker internasional, bukan hal yang asing bagi dia.

Sebagai orang yang memiliki keahlian peretasan, dengan mudahnya Jim masuk ke pusat data dan merekam percakapan, serta mengintip aktifitas kamu di dunia maya, mencuri data-data penting seperti laporan keuangan dan menorobos sistem pertahanan negara. Namun bukan itu yang dilakukannya. Jim Geovedi bukanlah seorang hacker kriminal yang sengaja meretas satelit untuk kepentingan pribadinya.

Jauh dari pada itu, Jim bertugas melakukan uji coba sistem keamanan. Ia mempunyai konsultan perusahaan keamanan untuk menguji aplikasi dan jaringan. Kliennya pun beragam mulai dari perbankan, telekomunikasi, asuransi, listrik, pabrik rokok dan lain-lain.

Uniknya, Jim tak menempuh pendidikan soal IT. Ia hanyalah seorang masyarat biasa lulusan SMA saja. Awal pertama kali perkenalannya dengan dunia ini terjadi saat ia lulus SMA tahun 1998-1999. Saat itu ia bertemu dengan seorang pendeta yang memperkenalkannya dengan komputer dan internet.

Sebelumnya, ia menjalani kehidupan jalanan yang keras di Bandar Lampung sebagai seniman grafis. Sejak mulai berkenalan dengan komputer dan internet itulah dirinya mulai belajar secara otodidak dan menelusuri ruang obrolan para peretas ternama dunia.

Tahun 2001, Geovedi mendirikan C2PRO Consulting, perusahaan konsultan IT umum untuk lembaga pemerintahan. Ia juga mendirikan dan mengoperasikan perusahaan konsultan keamanan TI Bellua Asia Pacific pada tahun 2004, kemudian berubah nama menjadi Xynexis International. Selain itu, Jim lalu mendirikan perusahaan jasa keamanan Noosc Global pada tahun yang sama.

Ketika sistem telekomunikasi nirkabel baru masuk Indonesia tahun 2003, ia sudah diminta menjadi pembicara di Kuala Lumpur tentang bahaya sistem tersebut. Lalu pada tahun 2004, ia disewa Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk mencari tahu pelaku penjebol pusat data penghitungan suara pemilu, tentu saja pelakunya berhasil ditangkap.

Kemudian pada tahun 2006, ia diminta menjadi pembicara isu sistem keamanan satelit, dan inilah yang membuat namanya naik.

Lelaki yang kini menetap di London ini pernah meretas dua satelit Indonesia dan Cina milik para kliennya. Saat itu ia diminta menguji sistem keamanan kontrol satelit dan melihat adanya kemungkinan untuk menggeser atau mengubah rotasinya.

Alhasil, ia pun menggeser orbit satelit Cina dan membuat kliennya panik karena agak sulit mengembalikan orbit suatu satelit. Namun, bukan Jim namanya kalau tidak berhasil mengembalikan orbit tersebut kepada jalurnya. Keahliannya semakin membuat dunia terpana.

Beruntung, Jim Geovedi adalah sosok yang tidak terlalu berambisi untuk menggunakan keahliannya ini untuk hal-hal yang dapat memiliki keuntungan di bidang materi. Sebaliknya, ia malah selalu bersyukur dengan apa yang ia miliki sekarang.

Bahkan dalam wawancara dengan Deutsche Welle, dirinya mengatakan bahwa dengan kemampuannya, ia sebenarnya bisa mengendalikan jaringan internet di seluruh Indonesia, mengalihkan lalu lintas datanya, mengamati lalu lintas data yang keluar masuk, dan memodifikasi semua transaksi keuangan, namun ia tidak tertarik melakukannya. Luar biasa bukan?

Komplek Pemakaman Etnis Thionghoa.

Diperkirakan Berusia 5 Abad di Hulu Sungai Silau-Asahan

Lembaga Pelestarian Situs dan Cagar Budaya Asahan, pada tahun 2013 lalu menemukan situs sejarah penting berupa komplek pemakaman di Kabupaten Asahan, berupa komplek pemakaman etnis Thionghoa, diperkirakan berusia 5 Abad di Hulu Sungai Silau, Desa Bandar Pasir Mandoge.

Sejarawan Zasnis Sulungs (alm) menuturkan, sesuai rentetan penelitian yang dilakukan pihaknya, etnis Tionghoa di Nusantara ini dimakamkan di tempat itu, diduga dibawa Bangsa Portugis dari Malaka sejak tahun 1516 M, yang awalnya bertujuan untuk membantu kelancaran misi perdagangan.

Sumber referensi ilmiah yang ada, memperlihatkan Portugis telah bersentuhan dengan komunitas Jawa Hindu, Batak dan Melayu, untuk melakukan perdagangan sistem barter, terhadap barang-barang hasil bumi lokal di Kampung Perbandaran yang sengaja dibangun Portugis dibagian hulu Sei Silau. Kemudian, nama Perbandaran itu menjadi cikal bakal nama Desa Bandar Pasir Mandoge.

Lokasi penemuan situs itu, bisa ditempuh dengan jalan kaki sejauh 1,5 kilomeyer, melalui jalan setapak dari belakang Pabrik Kelapa Sawit (PKS) AIP di perbatasan Dusun VI, Desa Bandar Pasir Mandoge dengan Dusun I, Desa Sukamakmur.

Jalan itu merupakan jalan darurat, berbatu padas yang cukup terjal, dan sulit dilalui kendaraan bermotor. Sedangkan jalan alternatif lainnya, dapat dilakukan dengan menempuh jalur Sei Silau dari Desa Sionggang, menggunakann sampan atau perahu karet bermesin.

Ketika ditemukan oleh ekspedisi Budaya Asahan, kondisi komplek pemakaman sangat memprihatinkan. Karena sudah rata dengan tanah dan tidak memiliki tanda-tanda gundukan sebagai sebuah pemakaman yang layak.

Walau pun demikian, masih ada yang menggembirakan. Karena di tempat itu masih bisa ditemukan beberapa buah batu nisan bertulisan “kanji” Mandarin yang berukuran 40 cm X 80 cm, berwarna coklat dan putih, dengan tulisan Mandarin terukir rapi.

Melihat bentuk batu nisannya yang kokoh, maka kuat dugaan batu nisan itu bukan dibuat di daerah ini, namun sengaja dibawa dari Malaka (Malaysia). Sekalipun sudah mulai agak kabur, tapi satu di antaranya masih bisa dibaca dan diterjemahkan oleh seorang Suhu Pekong di Kisaran.

Menurut suhu yang enggan namanya dikorankan ini, dari tulisan diketahui, nisan itu adalah milik gadis bernama Huang Siu Cu, cicit dari Pai Se Cuang. Gadis itu, dinyatakan meninggal tanggal 20-5-1548 M. Tapi mengenai tahun kematian itu, masih memerlukan penelitian.

Sebab, tulisannya agak kabur dan akan diusahakan menyingkapnya secara batiniah. Sedangkan batu nisan lainnnya, juga sedang dilakukan pemeriksaan lebih lanjut oleh para pakar etnis Tionghoa Kisaran.

Beberapa catatan sejarah menyebutkan, setelah Portugis berhasil meruntuhkan kerajaan Melayu Malaka tahun 1511 M, maka pihak agresor telah mengembangkan sayap misi dagangnya secara menggurita sampai ke wilayah pantai Timur Sumatera Utara, yang ketika itu di bawah pengaruh Aceh.

Salah satu daerah yang dipilih Portugis untuk menjalankan misi dagang, adalah dibagian hulu Sei Silau. Di sana Portugis telah membangun sebuah Kemp dan Bandar Pelabuhan dengan nama Perbandaran yang ketika itu terbilang sangat ramai dikunjungi komunitas setempat dan juga yang sengaja datang dari Simalungun dan Toba.

Parbandaran ini, telah menjadi sentra ekonomi utama, yang menampung hasil bumi berupa rempah-rempah, kayu ulim, gading gajah, ternak, getah rambung merah, kulit hewan, dan bahkan budak belian.

Secara tetap, pihak Portugis telah membawa kapal-kapal kargo, bersama barang-barang impor berupa tekstil, sutera, bdelacu, barang pecah belah, segala jenis senjata tajam, cermin, candu dan lain-lainnya mudik ke kampung Perbandaran tersebut.

Kemudian barang-barang impor itu telah disebarkan ke dalam bangunan rumah toko terbuat dari papan yang sengaja dibangun di pinggir Sei Silau. Nah, pada toko-toko milik Portugis itulah orang-orang Tionghoa ditempatkan untuk menjajakan barang-barang dagangan impor.

Sedangkan kelompok Tionghoa lain, ada yang menjadi kuli di pelabuhan, membuka toko sepatu, tukang jahit pakaian dan kerani. Kegiatan usaha yang dilakukan saat itu, dengan menggunakan sistem barter.

Di mana barang-barang komiditas ekspor lokal, berupa rempah-rempah, padi, kayu ulim, ternak, kulit ternak, getah rambung merah, madu, gading gajah, bahkan “budak belian” telah ditukarkan dengan barang-barang impor dengan sistem barter tadi.

Sedangkan uang resmi yang dipergunakan sebagai alat pembayaran yang sah, ialah Ringgit Spanyol. Menurut Zasnis, Portugis melakukan misi dagangnya di bagian hulu Sei Silau Kabupaten Asahan mencapai 125 tahun (1516-1641M).

Kemudian pada tahun 1641 M, kegiatan misi dagang itu tiba-tiba saja berhenti. Ketika itu tentara, penguasaha dan pembantunya yang setia mayoritas dari Tionghoa, diperintahkan segera meninggalkan kampung Perbandaran tersebut dan semuanya menaiki kapal-kapal kargo, untuk selanjutnya melakukan pelayaran ke Goa (India).

Ternyata tahun 1641 M itu, Portugis telah kalah perang dengan Belanda, sehingga mereka terusir dari Malaka. Nah, yang tertingal di kampung Perbandaran itu, hanyalah sejumlah bangunan kosong dan kuburan-kuburan etnis Tionghoa, yang telah meninggal dunia akibat serangan penyakit malaria.

Pekuburan itu, sekaligus berfungsi sebagai saksi bisu tentang keberadaan Portugis di tempat ini di masa lalu. Sayangnya, kata Zasnis, ketika ditemukan kembali, ternyata kondisi komplek pemkaman sungguh memilukan. Kuburan itu tidak memiliki gundukan tanah dan yang tersisa hanyalah beberapa buah batu nisan yang masih utuh.

“Makam-makam etnis Tionghoa merupakan situs cagar budaya yang memperkaya khasanah budaya Kabupaten Asahan. Oleh karena itu, saya telah meminta Bupati Asahan Drs H Taufan Gama Simatupang MAP, untuk memelihara dan melestarikan makam bersejarah itut,” kata Zasnis.

Batu Kanihir
Terungkapnya keberadaan Portugis di bagian hulu Sei Silau Kabupaten Asahan tersebut, berdasarkan tulisan seorang utusan Gubernur Inggris dari Pulau Pinang (Penang), bernama Jhon Anderson, dalam bukunya “Mission To The Eastcoast of Sumatera”, tahun 1823 M.

Dalam catatan harian Jhon Anderson, disebutkan bahwa pada tanggal 26 Pebruari 1823 M, dia bersama rombongan telah datang ke Sirantau (Pante Olang) Tangjungbalai, untuk menemui Sultan Asahan ke-VII, Tuanku Mohammad Husinsyah (1808-1859 M), yang bersemayam di sana.

Ada pun maksud dan tujuannya adalah untuk mendapatkan data-data mengenai kondisi ekonomi, politik dan budaya di Kesultanan Negeri Asahan. Namun, Jhon Anderson mengatakan dia tidak dapat bertemu dengan Sultan Asahan, karena baginda sedang berada di hulu Sei Silau, untuk memerangi kelompok orang Batak yang berpihak kepada Raja Ishak.

Ketika itu, telah terjadi perebutan kekuasaan di Kesultanan Asahan, antara Sultan Muhammad Husinsyah dengan Raja Ishak, yang menimbulkan peperangan sengit di bagian hulu Sei Asahan dan Sei Silau.

Saat itu daerah Asahan telah dibagi dua, di mana dari Tanjungbalai sampai ke Bandar Pulau diperintah oleh Raja Ishak. Sedang dari Sirantau ke Bandar Pasir Mandoge di perintah oleh Sultan Muhammad Husinsyah.

Namun orang-orang Batak di Bandar Pasir Mandoge banyak yang menyeberang ke pihak Raja Ishak, sehingga Sultan Muhammad Husinsyah yang dibantu Raja Sitorus Pane, terpaksa memerangi orang-orang Batak tersebut.

Pada tanggal 5 Maret 1823, Jhon Anderson telah sampai ke kampung Bandar Pasir Mandoge yang ketika itu bangunan-bangunan rumah dikampung ini terlihat agak kumuh. Orang Ingris ini telah disambut oleh Raja Daurung Sitorus Pane, yang merupakan mertua Sultan Asahan.

Dalam catatannya, Jhon Anderson mengatakan dalam perjalanan mudik kehulu Sei. Silau tersebut ia telah melewati 2 buah batu yang ganjil setinggi 200 meter didua sisi sungai tersebut. Selanjutnya menemukan dua buah batu besar yang disebut batu “Kanihir” (Dikikir), yang seakan-akan bagaikan terowongan yang ingin menghambat aliran Sei Silau tersebut.

Dikatakan, dahulu kala kedua batu besar itu hampir menutup aliran Sei Silau, tapi ketika Portugis datang melakukan misi dagang ke tempat ini, batu itu telah dikikir sampai selebar 20 meter, sehingga kapal-kapal kargo Portugis bisa sampai ke kampung Perbandaran.

Batu-batu yang ditemukan oleh Jhon Anderson tersebut, hingga sekarang masih bisa ditemukan dibagian hulu Sei Silau tersebut, sebagai monumen alami tentang keberandaan Portugis di tempat ini di masa lalu.

KISAH BATU PIKIR DI KABUPATEN ASAHAN

Kisah Singkat Sejarah Batu Pikir.

Salah seorang pendekar dari batu bara pada zaman dahulu, tinggal di suatu kampung yang sekarang dikenal dengan nama Desa Silau Laut Kecamatan Air Joman Kabupaten Asahan Provinsi Sumatera Utara, telah banyak meninggalkan kisah-kisah, salah satunya adalah Kisah Batu Pikir.

Tak berapa jauh dari kampung lokasi rumah beliau ada satu tempat yang sampai saat ini di sebut lokasi (kawasan) Batu Pikir.

Menurut cerita yang terpercaya, di situ dulu ada satu batu besar, yang mana di atas batu itu pernah duduk seorang Panglima/Pendekar handal dari utara bersama para anak buahnya yang berhari-hari duduk di atas batu itu berpikir dan menimbang-nimbang apakah ia akan masuk atau tidak kelokasi rumah pendekar batu bara tersebut.

Setelah berpikir panjang panglima pendatang tersebut akhirnya memutuskan untuk masuk ke kawasan pendekar
batu bara tersebut.

Singkat cerita sampailah panglima pendatang dari utara ke halaman rumah pendekar Batu Bara tersebut, begitu sampai di situ entah macem mana awalnya terjadilah adu silat kelas tinggi antara dua orang Pendekar/Panglima handal tersebut dengan berbagai jurus-jurus yang sangat berbahaya.

Pertempuran adu silat tersebut tak ada yang berani datang menghentikan, sampai datang seorang nenek dari dalam rumah pendekar Batu Bara (beliau adalah isteri dari pendekar batu bara ini) sambil berseru dalam bahasa melayu: sudah-sudah... cukup-cukup berhentikan, bagaimana kamu ini (kepada pendekar pendatang) kenapa kamu bersilat dengan antan penumbuk lesung? Datuk kamu kan sedang berada di kamar dalam rumah.

Ketika itu Panglima/Pendekar pendatang tersebut baru tersentak, merasa tersipu malu dan baru menyadari bahwa dia dari tadinya telah beradu silat hanya dengan antan penumbuk lesung yang ada di rumah itu, yang dalam pandangan matanya sebagai sosok dari Panglima/Pendekar Batu Bara tersebut. Seketika itu juga dia tunduk memberi salam dan hormat kepada pendekar Batu Bara dan isterinya.

Disamping itu menurut cerita, ketika Pendekar Batu Bara itu masuk kembali ke dalam rumahnya orang-orang yang ada di sekitar itu terpukau karena melihat berbagai perhiasan emas, intan dan permata yang datang secara tiba-tiba entah dari mana telah mengikuti di belakang pendekar Batu Bara tersebut yang melangkah masuk menuju ke dalam rumahnya.
Kejadian itu punya makna dan pesan bahwa bagi diri pendekar Batu Bara tersebut (Tuan Syek Abdul Rahman Silau Laut), kalau seandainya beliau mau harta benda (urusan kepentingan duniawi) sangat mudah, bukan beliau yang akan mengejar harta-benda, tapi sebaliknya harta-bendalah yang akan mengejar beliau, namun itu bukanlah menjadi tujuan beliau karena keridohan Allah SWT adalah yang paling utama dari segalanya. 

sumber : Diceritakan Langsung Oleh Alm. Bang Jalil Batu Bara (Masih Termasuk Cucu Dari Pendekar Batu Bara tsb,Tuan Syekh Waliyullah Abdul Rahman Silau Laut).

Menguak Situs Sejarah Sekh Silo Laut


Nama lengkapnya Syekh Haji Abdurrahman Urrahim bin Nakhoda Alang Batubara.Berdasarkan buku catatannya,ia di lahirkan di kampung Rao Batubara (sekarang desa Tanjung Mulia kecamatan Tanjung tiram Batubara) pada tahun 1275 H setara dengan 1858 M.

Ayahnya bernama Nakhoda Alang bin Nakhoda Ismail,keturunan dari Tuk Angku Mudik Tampang keturunan dari Tuk Angku Batuah yang berasal dari daerah Rao (perbatasan Tapanuli selatan dengan Sumatra barat).Gelar ''nakhoda " di awal nama ayahnya tersebut di sebabkan Nakhoda Alang bekerja sebagai Nakhoda pada sebuah kapal tongkang miliknya sendir yang di gunakan untuk membawa barang-barang dagangan antar pulau bahkan Malaya(malaysia).Ibunya bernama Naerat berasal dari kampung rantau panjang (kecamatan pantai labu Deli Serdang). Beliau adalah anak ketiga dari empat bersaudara,yaitu: Abas,Siti Jenab,Abdurrahan,Abdurrahim.

Abdurrahman sejak kecilnya di kenal mempunyai sifat pemberani,berkemauan keras,pendiam,cerdas dan tekun.Ketika ia berumur 6tahun,orang tuanya memasukkan belajar mengaji pada salah seorang guru di kampung Lalang Batu bara,pada saat itu pribadinya sudah mulai nampak sebagai ciri-ciri anak yang sholeh,sebab selain belajar agama dan mengaji,ia sering pula mengasingkan diri dari orang tuanya untuk berkhalwat dengan berzikir mengingat Allah Yang Maha Pencipta. Ia suka berkhalwat sejak usia 15 tahun.

Setelah ia mulai menginjak dewasa (sekitar 17 tahun) Abdurrahman ingin menambah ilmunya di bidang agama islam. Dengan memohon izin kepada kedua orang tuanya,ia pergi merantau ke daerah asal keturunannya Minangkabau tepatnya ke daerah Bukit tinggi.Di sana ia berguru kepada seorang ulama yang cukup di kenal ketika itu bernama Syekh Jambek.Di samping ia mempelajari ilmu-ilmu syare'at (fiqh) ia lebih menekuni bidang ilmu hakikat yaitu ilmu tauhid dan tasauf.Ia juga meminati ilmu beladiri (silat) dan untuk bidang ini ia belajar kepada salah seorang ahli ilmu beladiri yang cukup di kenal di tanah Minangkabau bernama Tuk Angku Di Lintau.Dalam usahanya untuk membekali dirinya dengan ilmu yang bermanfaat,pemuda Abdurrahman dalam riwayatnya pernah pula belajar ke daerah Aceh,namun belum di ketahui daerah dan gurunya tempat ia belajar.

Pemuda Abdurrahman merasa masih kurang puas dengan ilmu yang di milikinya.Tidak lama setelah ia pulang dari Minangkabau dan Aceh,salah seorang pakciknya yang bergelar Panglima Putih membawanya merantau ke negeri Fathany (Thailand) atas izin dan restu kedua oarang tuanya untuk menambah ilmunya di bidang agama islam.

Di dalam pelayarannya,ia menunjukkan kemahirannya dalam ilmu silat kepada penumpang-penumpang kapal tersebut yang tampa di ketahuinya di antara mereka ada rombongan sultan Kedah yang akan pulang ke negrinya.

Di negri Fathany pemuda Abdurrahman belajar kepada salah seorang ulama yang cukup di kenal beliau bernama Syekh Wan Mustafa dan anaknya yang bernama Syekh Daud Fathany.Selama berada di sana Abdurrahman lebih banyak belajar ilmu tauhid,ilmu tasauf dan ilmu hikmah/ketabiban.Di samping belajar,ia di tugaskan gurunya pula untuk mengajar.

Sewaktu masih berada di Fathany,ia di datangi utusan dari Kedah dengan maksud mengundangnya datang ke negeri Kedah,sebab sultan Kedah ingin melihat kemahirannya dalam ilmu silat dihadapan Hulubalang,prajurit dan rakyat negeri Kedah.Pemuda Abdurrahman memenuhi undangan tersebut dengan terlebih dahulu memohon izin dan restu dari gurunya.Sesampainya di negeri Kedah,sesudah beberapa hari lamanya di adakanlah acara perang tanding untuk memilih kepala hulu balang kesultanan Kedah.Pemuda Abdurrahman yang sengaja di undang untuk perang tanding tersebut,berhadapan dengan Panglima Elang Panas (gelarnya) yang berasal dari Siam.Dengan kuasa dan izin Allah,pemuda Abdurrahman menang dalam perang tanding tersebut.Lalu sultan Kedah menawarkannya untuk menjadi kepala hulubalang kesultanan kedah.Abdurrahman menerima tawaran itu,kemudian ia di nobatkan dan menjabat selama 7 tahun berturut-turut.Menurut riwayat beliau menerima gaji 60 ringgit setiap bulannya.Dalam perantauannya di Fathany dan Kedah,beliau sempat pula belajar di Kelantan.

Pemuda Abdurrahman menyadari bahwa cita-citanya semula adalah untuk menjadi seorang ulama yang akan mengembangkan agama islam dan mengabdikan ilmunya di tengah-tengah masyarakat negrinya.Maka dari itu,ia meletakkan jabatannya sebagai kepala hulubalang kesultanan kedah lalu ia pulang kembali ke negeri asalnya Batubara di jemput oleh abangnya yang bernama Abbas.

Setelah berada kembali di Batubara,ia mulai mengamalkan ilmunya untuk melakukan dakwah islam dengan mengisi kelompok pengajian yang ada di Batubara dan di daerah Serdang (sekarang Deli Serdang) dan beliau di kenal masyarakat dengan panggilan Lebai Deraman.Ketika ia melakukan dakwah di daerah serdang itu,ia mengakhiri masa lajangnya dengan menikahi seorang gadis serdang bernama Maimunah.Sewaktu berada di serdang beliau mengatas namakan alamatnya melalui kemenakannya yang bernama mufti Ahmad Serdang dan waktu senggangnya di isinya dengan melakukan "khalwat" di seberang sungai serdang (sekarang sungai ular).

Pada masa Lebai Abdurrahman melaksanakan dakwah dan pengajian di Batubara dan Serdang,muridnya yang sebagian besar nelayan melaporkan bahwa mereka sering di ganggu oleh bajak laut yang bermukim di pulau jemur sehinga mereka tidak aman mencari nafkah di selat Melaka.Mendengar laporan muridnya,Lebai Abdurrahman dengan seorang kaum kerabatnya bernama H.M.Zein dari pantai cermin bermaksud membasmi perbuatan zalim yang di lakukan para bajak laut tersebut.

Sosok yang menentukan tapak Istana Niat Lima Laras memutuskan bermukim di kawasan yang sekarang bernama Desa Silo Lama, berada di Kecamatan Silo Laut dan masuk wilayah Kabupaten Asahan. Dialah H. Abdurrahman Silo. Ponakan dari Panglima Putih itu berasal dari Rao Batubara, saat ini bernama Desa Tanjung Mulia, Kecamatan Tanjung Tiram, Kabupaten Batubara.

“Tahun 1916 beliau mendirikan rumah ini. Tukangnya berasal dari Tiongkok. Sama dengan yang membangun Istana Niat Lima Laras,”ungkap Ibrahim Ali Silo, 54, salah seorang cucu almarhum Tuan Sekh H.Abdurrahman Silo saat penulis berkunjung baru-baru ini.

Sebelumnya, Tuan Sekh H.Abdurrahman Silo berguru kepada H. Abdullah Pathoni di Patani-Thailand. Sejak kecil beliau dibimbing uwaknya, Panglima Putih. Bahkan, H. Abdurrahman Silo sempat menjadi guru besar di Mekkah.

Pengembangan wilayah dan syi’ar agama Islam dalam membangun peradaban dan kebudayaan di kawasan Silo Lama pun berlangsung sejak tahun 1916. Sebab itu pintu gerbang Kuala Silau dan Tambun Tulang menjadi kesohor.

Pergerakan melawan penjajah Belanda seiring oleh kemajuan Tauhid, membuat istana Tuan Sekh Silo Laut tak henti didatangi para murid dan pejuang. Oleh pertahanan yang berlapis dan lokasinya susah dijangkau, istana Sekh Silo Laut tak terjamah penjajah Belanda.

Dalam kesibukan membangun ummat dan kawasan, Sekh H. Abdurrahman Silo masih sempat melawat ke tanah suci Mekkah. Pejuang melawan penjajah dibekalinya iman dan ilmu perang yang membuat Belanda susah mengatasinya.

Di zaman kemerdekaan pun Tuan Sekh Silo Laut berperan sebagai panutan dan pemimpin spritual, sampai akhirnya digantikan salah seorang putranya, Tuan Sekh Silo Laut II, almarhum H. Muhammad Ali Silo tahun 1976.

Bukan itu saja, para pejuang Negara Kesatuan Republik Indonesia seperti tentara yang akan pergi Operasi Militer Timor Timur juga “sowan” ke Tuan Sekh Silo Laut.

Makam Sekh Silo Laut pertama dan kedua, berlokasi persis berada dekat mesjid di samping istana. Namun kondisi istana saat ini sangat memprihatinkan, agaknya pemerintah mengabaikan keberadaan salah satu situs sejarah ini.

Sangat disesalkan, istana Tuan Sekh Silo Laut yang sederhana belum tersentuh bantuan atau perawatan instansi yang berwenang dalam peninggalan sejarah, purbakala, dan pariwisata. Berbeda dengan keberadaan istana Niat Lima Laras yang sudah beberapa kali dipugar.

“Beberapa waktu lalu ada aparat Dinas Pariwisata dating dan meminta kesediaan ahliwaris untuk pemugaran kediaman leluhur kami Tuan Sekh Silo Laut. Tapi sampai sekarang tidak jelas realisasinya,” ujar Ibrahim.

Itulah nasib istana Tuan Sekh Silo Laut, bagaikan terabaikan, apalagi sekitar sepuluh kilometer menjelang istana ini ruas jalan rusak parah. Meskipun istana dan makam Sekh Silo Laut sebagai salah satu situs bersejarah di Kabupaten Asahan masih terabaikan, namun hingga saat ini banyak pengunjung datang, baik bertamu maupun berziarah.

Konfirmasi Pindad Terkait Pemesanan Ratusan Senjata Oleh BIN


PT Pindad (Persero) membenarkan adanya pemesanan ratusan senjata oleh Badan Intelijen Negara (BIN) yang dilakukan melalui Polri.

Sekretaris Perusahaan Pindad, Bayu A Fiantoro menegaskan bahwa pemesanan itu untuk jenis-jenis senjata yang memiliki kemampuan di bawah standar TNI.

“Jumlahnya ada 517, untuk BIN. Senjata yang berbeda dengan standar TNI, kok,” kata Bayu dikutip dari liputan6, Senin (25/09/2017).

Mengenai jenis senjatanya, Bayu enggan menjelaskan lebih rinci. Hanya saja senapan yang dipesan adalah jenis laras panjang.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Hukum Politik dan Keamanan, Wiranto, menjelaskan seputar isu 5.000 pucuk senjata ilegal ini. Ia membantah hal itu berhubungan dengan eskalasi kondisi keamanan.

“Hanya adanya komunikasi antarinstitusi yang belum tuntas,” katanya dalam jumpa pers di Kantor Kemenkopolhukam.

Informasi keberadaan 5.000 senjata ilegal itu pertama kali dicetuskan Panglima TNI Gatot Nurmantyo. Wiranto segera mengonfirmasi hal tersebut pada Panglima TNI, Kepala BIN, dan Kapolri.

Menurut Wiranto, persoalan seputar isu 5.000 senjata ilegal sudah tuntas. Yang terjadi, kata dia, adalah pengadaan 500 pucuk senjata laras pendek buatan PINDAD oleh BIN. Itu pun bukan merupakan senjata standar TNI.

Wiranto meluruskan informasi yang menyebut jumlahnya 5.000 pucuk. Pengadaan itu digunakan untuk keperluan pendidikan intelijen.

“Pengadaan seperti ini ijinnya bukan dari Mabes TNI, tetapi cukup dari Mabes Polri. Dengan demikian, prosedur pengadaannya tidak secara spesifik memerlukan kebijakan Presiden,” kata Wiranto.